Ia harus makin besar tapi aku harus makin kecil

12 Jan 2019 | Kabar Baik

Yohanes Pembaptis, kalau istilah zaman now, sering dicoba untuk di-framing oleh orang-orang Yahudi untuk diperbandingkan dengan Yesus, sepupunya yang sekaligus adalah Mesias yang dijanjikan.

Ketika Yesus mulai membaptis dan Yohanes juga membaptis, orang Yahudi itu bertanya, “Rabi, orang yang bersama dengan engkau di seberang sungai Yordan dan yang tentang Dia engkau telah memberi kesaksian, Dia membaptis juga dan semua orang pergi kepada-Nya.” (lih Yohanes 3:26)

Yohanes pun menegaskan sekali lagi, ?Aku bukan Mesias, tetapi aku diutus untuk mendahului-Nya.?

Lalu di akhir percakapan, Yohanes Pembaptis menegaskan, ?Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.? (lih Yohanes 3:30)

Aku tertarik untuk merenungi ucapan Yohanes Pembaptis yang terakhir itu. Dalam konteks hidup sehari-hari, aku memaknai apa yang dikatakan Yohanes itu untuk lebih memuliakan Allah melalui aktivitas dan sikap hidup kita. Kita harus semakin kecil dan Allah semakin besar.

Mengecilkan diri adalah merendahkan hati di hadapan sesama dan merendahkan diri di hadapan Allah. 

Salah satu hal terberat dalam hidup adalah menjaga agar tidak sombong. Aku bersyukur karena Tuhan memberiku banyak bakat. Menulis setiap hari karena ini memang bakat dan kesukaanku. Bekerja menjadi senior design consultant karena aku punya talenta seni. Belum lagi pengalaman 20 tahun bekerja di sektor IT, ada begitu banyak orang angkat topi. Gape bernyanyi dan main musik, kerap diundang untuk memimpin pujian dalam acara-acara Gereja, mencipta dan menggubah lagu, bermazmur dalam perayaan ekaristi dan banyak lagi! Hal itu membuatku kadang besar kepala ketika mendapat pujian meski telah berusaha untuk merendah.

Ketika aku mengutarakan kesulitanku untuk rendah hati, kawan-kawan ada yang malah mengompori meski niatnya baik, ?Don, kamu layak kok mendapat pujian! Toh kamu memang ada bakat dan kamu tekun dalam bakat-bakatmu itu!?

Pernah terpikir untuk berhenti berkarya karena aku kewalahan mengelola sombong tapi kemudian aku berpikir, manakah yang lebih baik, berhenti berkarya karena tak mampu mengelola kesombongan atau tetap berkarya menunjukkan talenta dari Tuhan sehingga namaNya semakin dipermuliakan meski resikonya tetap harus berjuang supaya tak sombong?

Berhenti berkarya karena takut menjadi sombong bukanlah cara untuk memuliakanNya! Justru melanjutkan karya apapun resikonya adalah pembuktian bahwa kita dicintai Tuhan melalui talenta-talenta kita. Perkara menundukkan kesombongan, biarlah itu jadi salib yang kuemban sampai akhir nanti?

Sydney, 12 Januari 2019

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.