Hukuman yang tak menghukum

1 Mei 2019 | Kabar Baik

Masih di hadapan Nikodemus, Yesus mengutarakan hal yang amat penting terkait tentang hakikat Anak Allah, kenapa Ia diturunkan dan hukuman apa yang dijatuhkan bagi yang tidak percaya kepadaNya.

Pertama, kenapa Allah menurunkan AnakNya ke dunia?

Jawab Yesus,

??supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.? (lih. Yoh 3:16)

Kedua, apa hukuman bagi mereka yang tidak percaya?

Jawab Yesus,

?Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat. Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak; tetapi barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah.? (lih. Yohanes 3:19-21)

Hukuman yang tak menghakimi

Bingung?
Dalam pikiran kita, ketika menggambarkan sebuah hukuman, yang terkait biasanya adalah guru yang menyuruh murid nakalnya berdiri di depan kelas sepanjang jam pelajaran. Atau juga seorang algojo yang mencambuki, memukuli, menyiksa atau bahkan menembak mati yang terhukum atas perbuatannya!

Tapi kenapa justru hukumannya adalah ?Terang telah datang ke dalam dunia?? Dimana korelasinya?

Hal ini mula-mula harus kita pahami bahwa Ia datang bukan untuk menghakimi tapi untuk menawarkan keselamatan. (lih. Yohanes 3:17) Ia memang akan datang sebagai hakim tapi bukan dua ribu tahun yang lalu melainkan nanti ketika Hari Tuhan tiba.

Sebagaimana sebuah tawaran, maka keselamatan yang Ia bawa yang adalah terang, tidak memaksa. Ketika seorang memilih jalan keselamatan, ia selamat! Ketika tidak, ia jadi yang terhukum.

Menghakimi dirinya sendiri

Analogi yang semoga membantu memudahkan pengertian barangkali begini?

Suatu waktu ibukota sebuah negara mengalami banjir yang amat parah. Saking parahnya hampir semua rumah dan bangunan tenggelam, menyisakan atap-atapnya saja. Banyak jiwa telah menjadi korban dan tanda-tanda surut belum juga nampak. Sebaliknya, rata-rata air kian meninggi dan meninggi.

Pemerintah berusaha kuat menyelamatkan warga dengan mengoperasikan perahu karet, mendatangi orang-orang yang berdiri di atas atap untuk diangkut ke tempat yang kering.

Lalu tibalah sebuah perahu karet ke depan seorang pria setengah baya yang berdiri di atas atap rumahnya. Petugas meminta ia untuk melompat ke dalam perahu, tapi pria itu tak kunjung melakukannya.

?Ayo! Buruan! Air makin pasang!? teriak si pengemudi perahu.

Pria yang hendak ditolong menggeleng kepala, katanya, ?Aku mau lompat kalau harta bendaku juga boleh ikut masuk!? teriaknya.

Hal itu tentu tak bisa dikabulkan si pemgemudi. Harta bendanya yang dibawa akan menambah bobot perahu dan akan mengurangi tempat yang harus dipakai oleh orang lain yang juga harus diangkut.

?Kalau kamu mau, tinggalkan harta bendamu dan lompat kemari!? jawab si petugas.

Pria itu tetap menggeleng dan perahu meninggalkannya. Air kian meninggi, pria tadi mati tenggelam tak terselamatkan.

Pria itu adalah contoh orang yang terhukum. Tak ada satupun yang menghakiminya selain dirinya sendiri yang tak bisa lepas dari harta bendanya. Ia tak percaya pada keselamatan yang diwakili sebagai ?perahu? yang dikemudikan. Ketidakpercayaan membuatnya terhukum dan berujung pada kematian kekal!

Sydney, 1 Mei 2019

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.