Seorang teman dulu pernah bercerita kepadaku betapa ia membenci kaum homoseksual. Alasannya simple, risih.
“Lha kalau kamu risih, ya jangan deket-deket lah!” sergahku.
“Tapi meski demikian masih kepikiran, Don!”
“Lah, itu salah kamu sendiri kenapa kepikiran! Atau jangan-jangan kamu naksir?”
“Ihhhh!”
Seorang teman dulu juga pernah bercerita kepadaku betapa ia benci karena dibenci orang lain karena ia homoseksual. Tak ada alasan yang perlu diperjelas untuk hal yang satu ini kan? Karena hakikatnya dibenci, disingkirkan dan ‘dibegitukan’ itu kan ngga begitu-begitu enak! Benar begitu? :)
“…justru orang-orang yang menganggap kaum homoseksual sebagai persoalan lah yang seharusnya dianggap sebagai permasalahan…”
Kehadiran kaum homoseksual oleh sebagian orang dianggap sebagai persoalan meski bagiku yang terjadi sebaliknya, justru orang-orang yang menganggap kaum homoseksual sebagai persoalan lah yang seharusnya dianggap sebagai permasalahan karena pasti ada sesuatu dalam benak mereka sehingga bisa berpikir demikian?
Agama
Pikiran orang dipengaruhi dogma-dogma agama karena beberapa dari mereka menolak konsep homoseksual. Baginya, homoseksual adalah pelanggaran kodrat karena seharusnya yang saling berpasang-pasangan adalah pria dan wanita, lain tidak.
Meski tak berarti semua kaum beragama adalah mereka yang menolak konsep ini, sebagian malah ada yang cuek, tak mau ambil pusing. Namun di tingkat yang paling radikal, penolakan tersebut ditandai pula dengan ada begitu banyaknya kasus penindasan dan pelecehan terhadap para penganut cinta sejenis itu.
‘Sesuatu yang berbeda.. bikin risih’
Diluar agama, orang juga menstigma kaum homoseksual sebagai ‘sesuatu yang berbeda’ hanya karena preferensi seksualnya saja.
Padahal, kalau mau dirunut, dari sekian ratus/ribu perbedaan seseorang terhadap yang lainnya, unsur ini toh hanya satu diantara ratusan/ribuan perbedaan tadi.
Ada juga orang yang merasa ‘risih’ ketika harus berinteraksi dengan kaum homoseksual. Tak perlu diperjelas panjang lebar karena cerita kawanku di baris teratas tulisan ini sudah cukup menjelaskan dan memberi contoh.
Eh.. eh, tapi kenapa tiba-tiba aku ngomongin homoseksual sih?
Jadi ceritanya minggu lalu aku ke gereja, duduk di kursi yang bersebelahan dengan papan pengumuman dan ketika kuperhatikan, mataku menangkap poster seperti tertera di bawah ini:

Maka jadilah, ketika pastor sedang sibuk mengadakan upacara di altar, akupun sibuk dan terlena dengan ‘gangguan’ nan menyegarkan bagi otak itu.
Bagiku poster ini unik sekali. Di tengah polemik untuk menganggap homoseksual sebagai persoalan dan terkadang menganggap mereka adalah sampah masyarakat, poster ini menyeruak seolah menjadi penyemangat bagi kaum homoseksual untuk bersuara ketika mengalami penindasan/diskriminasi maupun pelecehan terhadapnya.
Seolah poster ini berbicara bahwa meski seseorang adalah homoseksual, bukan berarti ia bukan manusia lagi. Mereka tetap harus mendapat kelengkapan penghormatan atas harkat dan martabatnya dari lingkungan sekitarnya.
Pemunculan poster ini di dalam gereja juga membuatku terpana. Bagiku ini adalah salah satu usaha gereja untuk menghormati hak hidup kaum homoseksual meski secara dogma konsep mereka tetap ditolak. Sesuatu yang barangkali dipandang dari sisi duniawi adalah sesuatu yang aneh; mana mungkin menghormati orang yang seharusnya ‘tak dihormati’? Tapi kalau prinsipnya sudah demikian, pertanyaanku adalah, memang ada orang yang sebenar-benarnya layak dihormati karena ia memang benar-benar layak diberi penghormatan di dunia ini?
Nah, kira-kira kalau di tempat ibadah kalian, apapun agamanya, mungkinkah poster seperti itu boleh ditempelkan?
Tinggalkan Balasan