Hoax menajiskan?

13 Feb 2019 | Cetusan

Yesus berpesan, ?Apapun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya, tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya,? (lih. Markus 7:15)

Yang paling sering kita dengar tafsir Kabar Baik ini adalah tentang makanan. Nyatanya memang demikian! Kita diberi kebebasan untuk makan apapun karena bukan makanan yang menajiskan melainkan apa yang keluar dari kita; pikiran,perkataan serta perbuatan.

Makan babi? Silakan!
Makan celeng? Boleh!
Bahkan makan semut pun kalau doyan ya gak dilarang!

Tak hanya najis-tak najis

Tapi? ini ada tapinya? perkara makanan itu sebenarnya tak hanya soal najis dan tak najis, Bro and Sis!

Misalnya kamu mengidap tekanan darah tinggi, apakah kamu boleh makan kambing? Berdasarkan penggalan Kabar Baik di atas tentu tidak dilarang. Tapi bagaimana kalau setelah makan sate kambing trus tekanan darahmu melonjak dan kamu pingsan terkena stroke? Padahal kamu punya tanggung jawab yang besar untuk keluarga dan komunitas-komunitas dimana kamu berada. Bayangkan jika kamu mau menahan diri untuk tak makan sate kambing, kejadian itu mungkin bisa dihindari, kan?

Itu baru soal makanan. Bagaimana dengan hal lain karena yang ?masuk ke dalam seseorang? itu kan bukan cuma makanan?

Hoax

Misalnya hoax!

Kalau makanan itu masuk lewat mulut, hoax masuk lewat mata dan telinga! Karena semua yang masuk ke dalam dari luar itu tak menajiskan apakah berarti hoax itu aman-aman saja?

Aman! Asalkan tidak mempengaruhi segala hal yang keluar dari kita yaitu pikiran, perkataan dan perbuatan.

Bayangkan kalau setelah membaca hoax menyangkut junjungan politik kita langsung panas, bukankah itu kita sudah ?najis? sejak dalam pikiran?

Bayangkan kalau setelah membaca hoax yang dikirimkan seorang kawan yang mengabarkan bahwa pasangan kita selingkuh lalu kita gelap mata dan bertindak semena-mena? Bukankah kita sudah lebih ?najis? lagi?

Lebih-lebih kalau kita menerima hoax lalu membagikannya ke orang lain dengan alasan, ?Aku nggak tahu bahwa itu hoax, makanya aku share ke kamu untuk konfirmasi dan check-richeck!? Bukankah ia membuka peluang sesamanya untuk mengalami kenajisan meski sejak dalam pikiran?

Hoax boleh kita ?konsumsi?? Boleh! Tapi bagiku, karena aku sangat mudah tergoncang pikiran yang lantas mempengaruhi kata dan perbuatan, ketika menerima kabar yang tak penting, ketimbang membaca dan ternyata hoax lebih baik tak kuindahkan begitu saja, hapus pesan kalau perlu clear chat! Beres :)

Kebebasan memasukkan hal-hal dari luar ke dalam diri/tubuh kita haruslah kita tanggapi secara dewasa. Dibebaskan tidak berarti harus digunakan hak bebasnya. Diberi kebebasan harusnya justru lebih berhati-hati karena segala sesuatu yang kita lakukan saat ini akan dimintakan  pertanggungjawabannya kelak.

Sydney, 13 Februari 2019

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.