Hindari Pola pikir ?robotik? dalam mengikutiNya

28 Mei 2018 | Kabar Baik

Ketika ada seorang bertanya apa yang harus diperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal (Markus 10:17), Yesus memberikan jawaban mengejutkan!

?Pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” (Markus 10:21)

Aduh! Berat amat ya?
Kalau begitu maka siapa yang bisa memperoleh hidup kekal?

Bagaimana denganku?
Apa jadinya kalau aku menjual semua yang kumiliki dan memberikan kepada orang-orang miskin? Bagaimana anak-anak dan istriku? Siapa yang menghidupi mereka? Bagaimana dengan tagihan-tagihan bulanan?

Robotik

Di sinilah pentingnya kita punya kemampuan membaca Kitab Suci tak hanya secara literal (kata per kata) tapi juga kontekstual; bergantung konteksnya.

Konteks Tuhan menuntut orang tadi untuk menjual semua yang dimiliki dan memberikan kepada orang miskin adalah wujud ?protes? Yesus terhadap cara pikir kebanyakan orang waktu itu yang sangat ?robotik? dan tekstual dalam menjalankan Hukum Taurat.

Orang-orang cenderung mengikuti Hukum Taurat berdasarkan apa yang ditulis saja dan sebagaimana halnya robot, mereka hanya peduli pada apa yang dituliskan/diprogramkan tanpa mempedulikan ?apa lagi yang harus dilakukan selanjutnya?? meski hal-hal itu tak tertulis dalam kitab manapun!

Melakukan yang diperintahkan adalah keharusan tapi itu hanyalah syarat minimal! Kehidupan kekal tak cukup bisa dikejar dengan mengutamakan hal itu saja! Jika Yesus telah memberikan hidup bagi kita, Iapun menuntut kita untuk memberikan hidup kita bagiNya. Sesederhana itu tapi sekaligus serumit itu!

MengikutiNya

Katakanlah kita sudah bisa beralih dari cara-cara seperti kutulis di atas, pertanyaan kedua adalah bagaimana sih mengikutiNya itu?

Apakah Tuhan hanya ada di Gereja dan persekutuan-persekutuan doa saja sehingga satu-satunya cara untuk mengikutiNya hanyalah di sana?

Waktu bujang dulu aku bisa saja menghabiskan waktu di pelayanan-pelayanan Gereja dan persekutuan doa. Tapi ketika menikah terlebih punya anak, bagaimana aku tetap bisa fokus ke pelayanan di Gereja dan persekutuan doa?

Tak sedikit dari mereka yang sebelum menikah aktif di Gereja dan persekutuan doa, lalu setelah menikah merasa malu karena tak punya waktu untuk pelayanan seperti dulu.

Menghadapi hal seperti itu, pesanku, jangan malu! Tuhan bisa ditemukan dimanapun! MengikutiNya tak hanya sebatas di dalam lingkup Gereja dan persekutuan-persekutuan doa.

Ke Gereja dan beribadah tentu amat penting dan jadikan itu sebagai landasan. Selebihnya teruslah mengikutiNya melalui pelayanan dalam keluarga, pekerjaan, masyarakat serta dunia!

Sydney, 28 Mei 2018

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.