Hikayat Tattoo (7), Tattoo memainkan persepsi

11 Apr 2013 | Cetusan, Hikayat Tattoo

Tulisan ini adalah rangkaian dari serial tulisan 'Hikayat Tattoo'. Untuk menyimak selengkapnya, klik di sini.

 

Tattoo yang kubuat dan telah kuceritakan sejak Hikayat Tattoo pertama hingga ke-6, banyak mengundang decak kagum dari kawan-kawanku dulu.?Meski decak kagum dari mereka bisa berarti dua hal. Pertama, kagum dalam arti mengagumi hasil karya Munir pada tattoo yang dibuatnya. Kedua, kagum dengan kenekatanku. ‘Kok berani-beraninya kamu tattooan sebanyak ini!?‘ Meski demikian dalam candaanku dengan beberapa orang kawan, justru sebenarnya aku yang lebih sering mengutarakan kekagumanku “Aku kagum kenapa kalian mengagumi tattoo-tattooku!”

“Hidup ini lebih banyak dan lebih cepat berubah terutama ketika kita secara proaktif melakukan perubahannya.”

Hidup ini lebih banyak dan lebih cepat berubah terutama ketika kita secara proaktif melakukan perubahannya.?Dan bagiku memiliki tattoo adalah salah satu contohnya, sehingga mau-tak-mau hidupku terasa lebih kentara berubah.

Paling terlihat ya soal pakaian yang kukenakan.
Sebelum ber-tattoo, sehari-hari aku selalu mengenakan celana panjang jeans atau katun kalau harus bertemu klien. Tapi sesudah bertattoo, kecuali bertemu klien aku memilih mengenakan celana pendek selutut yang menampakkan tattooku. Tujuannya? O well, aku tak munafik, tapi diperhatikan orang lain untuk sesuatu yang indah dan unik itu menyenangkan, kan?

Di saat antri di bank, menunggu pesanan makanan datang di restaurant ataupun saat berkendara (dulu aku naik motor), mata orang terpaku ke tattooku dan aku asyik memainkan dugaan kira-kira apa yang ada dalam pikiran mereka…

Pergaulanku di komunitas juga sedikit lebih berwarna. Semakin banyak orang mengenalku sebagai orang yang memiliki identifikasi yang unik, ya tattoo itu!?Beberapa kawan menyorongkan kawan lainnya yang hendak bertanya soal tattoo kepadaku, semisal, “Tattoo begini mahal?” atau “Bikinnya dimana?” dan banyak lagi seolah aku adalah orang yang ahli dalam bidang per-tattoo-an saja.

Tak hanya soal tattoo, orang yang banyak bermain dengan stereotipikal dalam pikirannya akan menganggap orang ber-tattoo adalah seorang yang paham art. Jadi pernah suatu saat aku ditanya orang soal design, tentang bagus tidaknya, tentang bagaimana pandanganku terhadapnya. Aku hanya cengar-cengir karena aku yang berlatar belakang IT, mana tahu soal begituan? Dan kilahnya, “Loh, kupikir kamu anak ISI (Institut Seni Indonesia) karena kamu tattooan!?!”

Atau yang seru lagi begini; seorang kawan baru menawariku rokok ketika sedang nongkrong di kafe padahal waktu itu aku telah berhenti mereokok. Ia pun terkejut ketika kutolak tawarannya, “Hah? Tattooan kok nggak rokokan?”

Hidup memang jadi lebih bergemuruh setelah aku tattooan! Anyaman tinta yang ditanam beberapa milimeter di bawah kulit ini telah mengubah image seorang Donny Verdian dan selamat bagi kalian yang bahagia dengan persepsi dengan stereotipikal.

Gemuruh itulah yang lantas mengantarkanku berpikir untuk menambah koleksi tattoo lagi. Akan seperti apa lagi persepsi orang ketika tattooku tambah banyak? Apa yang ada dalam benak mereka terhadapku? Baikkah? Burukkah?

Hingga suatu waktu di bulan Juni 2005, sekitar empat bulan setengah setelah jarum tattoo terakhir dicucukkan Munir ke paha sebelah kanan, aku berpikir untuk menambah lagi, memulai perjalanan baru tentang sebuah tattoo yang tak bisa tidak harus bagus dan berkonsep, meski saat itu konsep masih jauh di bawah ufuk bawah sadarku.

Pada suatu akhir pekan, di sebuah coffeeshop tempat kubiasa menghabiskan sore, sembari mencecap teh gula batu, aku mengirim pesan singkat pada Munir, demikian, “Dab! Aku tak dolan maneh yo… pengen nambah! (Bung, aku main ke tempatmu lagi ya… pengen nambah tattoo – jawa)”

Sebarluaskan!

7 Komentar

  1. ?Hah? Tattooan kok nggak rokokan??
    Hahaha, lucu juga dengar komen ini, Mas :))

    Nah terus aku jadi penasaran, seberapa banyak tattoo-mu sekarang, dari yang dulu cuma sak-cuil waktu masih di Jogja. Ha mbok di-posting gambar seluruh tubuh #dikampleng

    Balas
    • Gambar sebagian ada di tulisan sebelumnya pada tagar yg sama, “hikayat tattoo” gambar lainnya akan kuulas pelan2 di sini mulai skrg sampe bbrp minggu ke depan:)

      Apakabar, Put?

      Balas
  2. Saya punya beberapa tattoo alami di kaki dan tangan, tepatnya bekas luka waktu kecil hahaha
    Btw ga lengkap nih postingannya kalo ga ada gambar tattoo nya bos :)

    Balas
  3. Membaca tulisan tentang tattoo disini membuat saya kini lebih hati-hati memberikan penilaian terhadap orang lain. Bukan hanya soal yang bertatto atau tidak tapi juga penampilan lainnya, misalnya yang sering berpenampilan rapi atau malah urakan, kita memang tidak bisa menilai langsung seseorang dari penampilannya.

    Balas
  4. bertatoo sebenarnya baik baik aja sih, memang streotyping masih terjadi. Padahal jaman sekarang, tatoo itu cuma hiasan tubuh. Ngomong ngomong tatoo itu nagih ya.. ? apakah penyebabnya persepsi seperti ini ya?

    Balas
  5. Orang yang memiliki tatto oleh sebagian orang pasti mendapat kesan buruk. Padahal ga semua orang bertatto memiliki priadi yang buruk. Tatto merupakan seni tubuh yang beragam. Jadi ga ada ngaruh nya anatara pribadi orang dengan tatto nya. Bener ga sih?

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.