Tulisan ini adalah rangkaian dari serial tulisan 'Hikayat Tattoo'. Untuk menyimak selengkapnya, klik di sini.
Semula, aku ingin mewujudkan tattoo El Shaddai yang telah sedemikian lama kurencanakan tepat pada hari pertama di tahun 2005. Tapi apa daya, karena kesibukan baik aku maupun Munir, semua baru terealisasi sehari sesudahnya.
Perlu persiapan fisik yang khusus mengingat area tattoo yang akan cukup besar bahkan terbesar ketimbang yang sebelum-sebelumnya. Belum lagi area tattoo yang berada tepat di pangkal paha yang menurut Munir akan sedikit lebih menyakitkan ketimbang yang sudah-sudah mengingat area tersebut ada di sekitar persendian dan permukaan kulitnya bukan merupakan kulit yang biasa digunakan untuk beraktivitas; sebuah kenyataan baru yang kupelajari justru ketika aku sedang ditattoo.
Kami memulainya tepat jam 10 pagi di hari minggu itu, 2 Januari 2005.
Proses sketsa yang biasanya dilakukan secara spontan oleh Munir, kali ini dikerjakan secara lebih hati-hati mengingat detail gambar yang memang cukup realistis. Setengah jam sesudah sketsa selesai, Munir mulai menorehkan tinta dengan menggarap outline tubuh Yesus.
Istirahat yang cukup pada malam sebelumnya dan makan sayur-sayuran serta menghindari daging terbukti cukup membantu menyangga staminaku. Hingga proses pembuatan outline untuk Yesus, pita bertuliskan El Shaddai hingga burung merpati, aku praktis tak merasakan deraan sakit yang luar biasa.
Dua jam tak terasa terlewati.
Munir menawariku untuk break sejenak makan siang tapi aku menolaknya.
Bagiku, makan siang lebih bisa ditahan tapi rasa sakit yang kemungkinan bisa timbul karena proses penghentian bakalan lebih tak bisa dielakkan.
Memasuki pukul satu siang, hujan mulai turun membasahi seputaran barat kota Jogja, dan Munir telah menyelesaikan pita bertuliskan El Shaddai dengan sangat menakjubkan juga beberapa gurat wajah Yesus telah pula diselesaikan dengan sempurna.
Satu hal yang sangat kunikmati dalam proses pembuatan tattoo adalah perasaan berdebar-debar menanti seperti apa hasil tattoo yang sedang dikerjakan, dan kali itu, untuk kesekian kalinya aku tetap bisa merasakan sensasi itu. Ini bukan sesuatu yang berlebihan tapi nikmatnya lebih tak terperikan.. Jauh dibandingkan kalau kita mengamati seorang pelukis melukis di atas kanvasnya. Kanvas bisa dilempar dan dibuang lalu digantikan dengan yang baru kalau pelukis merasa gagal untuk melampiaskan hasrat berkeseniannya. Tapi tattoo? Bagaimana mungkin seorang tattoo artist membuang kulit kliennya lalu meminta kulit yang baru. Kepada siapa? Seberapa lama? :)
Sekitar pukul dua kurang sepuluh menit, ketika Munir sedang mengerjakan gambar Burung Merpati, satu hal yang tak kuinginkan terjadi, listrik padam!
Damn! Aku mengumpat sejadi-jadinya! Proses pembuatan tattoo tidak bisa tidak sangat bergantung pada asupan daya listrik karena mesin yang digunakan untuk menggerakkan jarum penoreh tinta adalah dinamo kumparan yang hanya bisa digerakkan oleh listrik.
Rasanya hampir hilang akal!
Untuk pulang dalam keadaan ‘setengah jadi’ barangkali adalah pilihan yang terbaik, tapi bermain-main dengan perasaan tak puas untuk sebulan berikutnya ketika kulit sudah siap untuk melanjutkan ditattoo adalah satu hal yang sangat kuhindari.
Kami berpikir keras.
Munir menyarankan untukku pulang tapi aku tetap berkeras untuk berpikir lebih beras lagi.
Hingga akhirnya, satu keputusan yang tak disangka pun terjadi.
“Aku tunggu sampai listrik hidup!” ujarku pada Munir.
“Tapi mau seberapa lama? Kamu kuat?”
“Itu yang akan jadi batasannya!” jawabku.
“Maksudmu?”
“Ya, ketika listrik hidup, tattoolah aku.. kalau aku sudah tak kuat aku pulang… tapi aku tak mau pulang sekarang…” ujarku.
Maka kamipun menunggu hingga listrik hidup kembali.
Setengah jam berlalu dan sekitar sepuluh menit sesudahnya, listrik pun hidup lagi.
Ada perasaan lega karena sebuah penungguan yang menjemukan terlewati tapi perasaan khawatir lantas meraja.. Khawatir apakah aku akan tetap sanggup untuk ditattoo atau…
Munir kembali melanjutkan menorehkan tinta ke pahaku.
Sesaat setelah menyelesaikan gambar Burung Merpati dengan baik, ia beralih ke gambar sinar.
Seperti yang kuceritakan di Hikayat Tattoo sebelumnya, sinar kupilih untuk menggambarkan ‘adanya ruang’ dan ruang kuanggap sebagai representasi dari Bapa yang tak terlepas dari Putra (Yesus) dan Roh Kudus (Burung Merpati).
Pukul tiga lebih sedikit.
Dan aku tak bisa memungkiri lagi bahwa staminaku untuk menahan sakit telah mulai tandas hingga ke permukaan.
Tapi kali ini aku tak mau menyerah dengan keadaan ini, bagiku, membayangkan sebuah gambar utuh bisa terselesaikan sore itu adalah sebuah obat ampuh untuk memompa kembali staminaku beberapa level ke atasnya.
Tapi tak disangka, sebuah kejutan yang berulang terjadi!
Ketika Munir sedang mencampur warna di palet untuk menghias tubuh Yesus, sebagai bagian akhir dari tattoo El Shaddai-ku, listrik kembali padam!
Dan sebelum Munir bertanya kepadaku, aku telah lebih dulu menjawab “Tenang wae! Aku masih kuat… kutunggu dan kamu lanjutkan!”
Waktu penungguan nan menjemukan pun kembali kami alami.
Karena ketika saat itu aku masih perokok aktif, beberapa batang rokok kuhabiskan sebagai pengganti makan siang yang hingga saat itu belum juga kusantap. Kami berusaha untuk saling menghibur diri dengan banyak bercakap dan bercerita tentang apapun yang bisa dibicarakan untuk menyilapkan kebosanan.
Sementara staminaku kembali menurun dan tak bisa ditutupi lagi, separuh permukaan pahaku telah melepuh bengkak.
Menjelang pukul lima, listrik pun menyala kembali.
Kali ini aku tak menyambutnya dengan gembira karena kegembiraan yang barangkali ada pun bukanlah satu kenyataan melainkan hanya sugesti yang menutupi keadaan yang sesungguhnya.
“Don, kayaknya nggak bisa!” tukas Munir menatapku.
“Maksudmu?”
“Kulitmu sudah bengkak, pori-porimu sudah membesar.. aku nggak yakin bisa memasukkan tinta kalau keadaannya sudah demikian..”
Aku terdiam.
Kecewa? Iya!
Menggerutu? Aku tak tahu kepada siapa harus kulemparkan gerutuanku itu.
“Tapi bagaimanapun juga tattoomu sudah jadi!”
Aku diam.
“Kita lihat saja nanti, tapi instingku bilang, tubuh Yesus tampaknya tak perlu diwarnai.. biarkan Dia menggunakan warna kulitmu saja…”
Aku tetap terdiam meski beberapa saat sesudahnya ketika hasil tattooku telah jadi semuanya aku sangat menyesali keterdiamanku ini. Kenapa? Karena apa yang dikatakan Munir adalah benar. Tubuh Yesus tanpa torehan warna kulit adalah keputusan terbaik karena jika tidak, maka justru Dia tak tampak alami dengan campuran warna sebagus apapun itu.
Munir segera membungkus luka tattooku dengan plastik seperti biasa.
Aku menyalami dan merangkul dia.
“Nuwun! Akhire kabeh rampung!” ujarku pada Munir.
Matahari telah menjingga sementara hujan yang sejak siang tadi membasahi telah reda menyisakan genangan air, bau tanah serta suhu dingin yang menerbitkan romansa yang entah bertitle apa.
Aku memanggil taksi dan setelah berpamitan dengan Munir, akupun masuk ke kabinnya.
“Kemana, Mas?”
“Papringan, Pak!”
Dan taksi pun melaju. Pikiranku melamun hingga ke langit.
Berbagai hal meluncur di bayangan dan salah satunya adalah mimpi Marto yang pernah ‘menubuatkan’ aku bahwa suatu waktu aku akan memiliki tattoo yang memenuhi panjang kakiku.
Sesaat kupandangi sekujur kaki kananku, dan kini aku telah tak memiliki lagi setungkai kaki mulus nan alami.
Sepanjang hidupku jika tak diamputasi, maka seluruh gambar itu akan menjadi teman paling setiaku hingga mati.
Menjelang perempatan Pingit aku mengurungkan niatku untuk pulang.
Kulirik jam tanganku, pukul enam kurang lima belas menit.
“Pak, nggak jadi ke Papringan.. antar saya ke Gereja Kotabaru…”
Lima menit kemudian akupun telah berada di bibir pintu Gereja St Antonius Kotabaru.
Madah nyanyian pembukaan sedang dipersiapkan riuh ramai orang bersiap mengikuti perayaan ekaristi.
Dengan langkah terpincang-pincang dan diperhatikan begitu banyak orang, aku melangkah tenang masuk ke dalam gereja.
Tattoo itupun sore itu kupersembahkan sebagai sebuah pujian bagi Dia yang kupuja.
Bukan sesuatu yang sempurna indahnya tapi justru disitulah, kemanusiaanku kuletakkan.
Memberikan yang terbaik dari keterbatasan yang ada bagi Tuhan.
Ah, semoga…
Tinggalkan Balasan