Hikayat Tattoo (6), Akhir yang bukan akhir

28 Apr 2010 | Aku, Cetusan, Hikayat Tattoo

Tulisan ini adalah rangkaian dari serial tulisan 'Hikayat Tattoo'. Untuk menyimak selengkapnya, klik di sini.

Semula, aku ingin mewujudkan tattoo El Shaddai yang telah sedemikian lama kurencanakan tepat pada hari pertama di tahun 2005. Tapi apa daya, karena kesibukan baik aku maupun Munir, semua baru terealisasi sehari sesudahnya.
Perlu persiapan fisik yang khusus mengingat area tattoo yang akan cukup besar bahkan terbesar ketimbang yang sebelum-sebelumnya. Belum lagi area tattoo yang berada tepat di pangkal paha yang menurut Munir akan sedikit lebih menyakitkan ketimbang yang sudah-sudah mengingat area tersebut ada di sekitar persendian dan permukaan kulitnya bukan merupakan kulit yang biasa digunakan untuk beraktivitas; sebuah kenyataan baru yang kupelajari justru ketika aku sedang ditattoo.
Kami memulainya tepat jam 10 pagi di hari minggu itu, 2 Januari 2005.
Proses sketsa yang biasanya dilakukan secara spontan oleh Munir, kali ini dikerjakan secara lebih hati-hati mengingat detail gambar yang memang cukup realistis. Setengah jam sesudah sketsa selesai, Munir mulai menorehkan tinta dengan menggarap outline tubuh Yesus.
Istirahat yang cukup pada malam sebelumnya dan makan sayur-sayuran serta menghindari daging terbukti cukup membantu menyangga staminaku. Hingga proses pembuatan outline untuk Yesus, pita bertuliskan El Shaddai hingga burung merpati, aku praktis tak merasakan deraan sakit yang luar biasa.
Dua jam tak terasa terlewati.
Munir menawariku untuk break sejenak makan siang tapi aku menolaknya.
Bagiku, makan siang lebih bisa ditahan tapi rasa sakit yang kemungkinan bisa timbul karena proses penghentian bakalan lebih tak bisa dielakkan.
Memasuki pukul satu siang, hujan mulai turun membasahi seputaran barat kota Jogja, dan Munir telah menyelesaikan pita bertuliskan El Shaddai dengan sangat menakjubkan juga beberapa gurat wajah Yesus telah pula diselesaikan dengan sempurna.
Satu hal yang sangat kunikmati dalam proses pembuatan tattoo adalah perasaan berdebar-debar menanti seperti apa hasil tattoo yang sedang dikerjakan, dan kali itu, untuk kesekian kalinya aku tetap bisa merasakan sensasi itu. Ini bukan sesuatu yang berlebihan tapi nikmatnya lebih tak terperikan.. Jauh dibandingkan kalau kita mengamati seorang pelukis melukis di atas kanvasnya. Kanvas bisa dilempar dan dibuang lalu digantikan dengan yang baru kalau pelukis merasa gagal untuk melampiaskan hasrat berkeseniannya. Tapi tattoo? Bagaimana mungkin seorang tattoo artist membuang kulit kliennya lalu meminta kulit yang baru. Kepada siapa? Seberapa lama? :)
Sekitar pukul dua kurang sepuluh menit, ketika Munir sedang mengerjakan gambar Burung Merpati, satu hal yang tak kuinginkan terjadi, listrik padam!
Damn! Aku mengumpat sejadi-jadinya! Proses pembuatan tattoo tidak bisa tidak sangat bergantung pada asupan daya listrik karena mesin yang digunakan untuk menggerakkan jarum penoreh tinta adalah dinamo kumparan yang hanya bisa digerakkan oleh listrik.
Rasanya hampir hilang akal!
Untuk pulang dalam keadaan ‘setengah jadi’ barangkali adalah pilihan yang terbaik, tapi bermain-main dengan perasaan tak puas untuk sebulan berikutnya ketika kulit sudah siap untuk melanjutkan ditattoo adalah satu hal yang sangat kuhindari.
Kami berpikir keras.
Munir menyarankan untukku pulang tapi aku tetap berkeras untuk berpikir lebih beras lagi.
Hingga akhirnya, satu keputusan yang tak disangka pun terjadi.
“Aku tunggu sampai listrik hidup!” ujarku pada Munir.
“Tapi mau seberapa lama? Kamu kuat?”
“Itu yang akan jadi batasannya!” jawabku.
“Maksudmu?”
“Ya, ketika listrik hidup, tattoolah aku.. kalau aku sudah tak kuat aku pulang… tapi aku tak mau pulang sekarang…” ujarku.
Maka kamipun menunggu hingga listrik hidup kembali.
Setengah jam berlalu dan sekitar sepuluh menit sesudahnya, listrik pun hidup lagi.
Ada perasaan lega karena sebuah penungguan yang menjemukan terlewati tapi perasaan khawatir lantas meraja.. Khawatir apakah aku akan tetap sanggup untuk ditattoo atau…
Munir kembali melanjutkan menorehkan tinta ke pahaku.
Sesaat setelah menyelesaikan gambar Burung Merpati dengan baik, ia beralih ke gambar sinar.
Seperti yang kuceritakan di Hikayat Tattoo sebelumnya, sinar kupilih untuk menggambarkan ‘adanya ruang’ dan ruang kuanggap sebagai representasi dari Bapa yang tak terlepas dari Putra (Yesus) dan Roh Kudus (Burung Merpati).
Pukul tiga lebih sedikit.
Dan aku tak bisa memungkiri lagi bahwa staminaku untuk menahan sakit telah mulai tandas hingga ke permukaan.
Tapi kali ini aku tak mau menyerah dengan keadaan ini, bagiku, membayangkan sebuah gambar utuh bisa terselesaikan sore itu adalah sebuah obat ampuh untuk memompa kembali staminaku beberapa level ke atasnya.
Tapi tak disangka, sebuah kejutan yang berulang terjadi!
Ketika Munir sedang mencampur warna di palet untuk menghias tubuh Yesus, sebagai bagian akhir dari tattoo El Shaddai-ku, listrik kembali padam!
Dan sebelum Munir bertanya kepadaku, aku telah lebih dulu menjawab “Tenang wae! Aku masih kuat… kutunggu dan kamu lanjutkan!”
Waktu penungguan nan menjemukan pun kembali kami alami.
Karena ketika saat itu aku masih perokok aktif, beberapa batang rokok kuhabiskan sebagai pengganti makan siang yang hingga saat itu belum juga kusantap. Kami berusaha untuk saling menghibur diri dengan banyak bercakap dan bercerita tentang apapun yang bisa dibicarakan untuk menyilapkan kebosanan.
Sementara staminaku kembali menurun dan tak bisa ditutupi lagi, separuh permukaan pahaku telah melepuh bengkak.
Menjelang pukul lima, listrik pun menyala kembali.
Kali ini aku tak menyambutnya dengan gembira karena kegembiraan yang barangkali ada pun bukanlah satu kenyataan melainkan hanya sugesti yang menutupi keadaan yang sesungguhnya.
“Don, kayaknya nggak bisa!” tukas Munir menatapku.
“Maksudmu?”
“Kulitmu sudah bengkak, pori-porimu sudah membesar.. aku nggak yakin bisa memasukkan tinta kalau keadaannya sudah demikian..”
Aku terdiam.
Kecewa? Iya!
Menggerutu? Aku tak tahu kepada siapa harus kulemparkan gerutuanku itu.
“Tapi bagaimanapun juga tattoomu sudah jadi!”
Aku diam.
“Kita lihat saja nanti, tapi instingku bilang, tubuh Yesus tampaknya tak perlu diwarnai.. biarkan Dia menggunakan warna kulitmu saja…”
Aku tetap terdiam meski beberapa saat sesudahnya ketika hasil tattooku telah jadi semuanya aku sangat menyesali keterdiamanku ini. Kenapa? Karena apa yang dikatakan Munir adalah benar. Tubuh Yesus tanpa torehan warna kulit adalah keputusan terbaik karena jika tidak, maka justru Dia tak tampak alami dengan campuran warna sebagus apapun itu.
Munir segera membungkus luka tattooku dengan plastik seperti biasa.
Aku menyalami dan merangkul dia.
“Nuwun! Akhire kabeh rampung!” ujarku pada Munir.
Matahari telah menjingga sementara hujan yang sejak siang tadi membasahi telah reda menyisakan genangan air, bau tanah serta suhu dingin yang menerbitkan romansa yang entah bertitle apa.
Aku memanggil taksi dan setelah berpamitan dengan Munir, akupun masuk ke kabinnya.
“Kemana, Mas?”
“Papringan, Pak!”
Dan taksi pun melaju. Pikiranku melamun hingga ke langit.
Berbagai hal meluncur di bayangan dan salah satunya adalah mimpi Marto yang pernah ‘menubuatkan’ aku bahwa suatu waktu aku akan memiliki tattoo yang memenuhi panjang kakiku.
Sesaat kupandangi sekujur kaki kananku, dan kini aku telah tak memiliki lagi setungkai kaki mulus nan alami.
Sepanjang hidupku jika tak diamputasi, maka seluruh gambar itu akan menjadi teman paling setiaku hingga mati.
Menjelang perempatan Pingit aku mengurungkan niatku untuk pulang.
Kulirik jam tanganku, pukul enam kurang lima belas menit.
“Pak, nggak jadi ke Papringan.. antar saya ke Gereja Kotabaru…”
Lima menit kemudian akupun telah berada di bibir pintu Gereja St Antonius Kotabaru.
Madah nyanyian pembukaan sedang dipersiapkan riuh ramai orang bersiap mengikuti perayaan ekaristi.
Dengan langkah terpincang-pincang dan diperhatikan begitu banyak orang, aku melangkah tenang masuk ke dalam gereja.
Tattoo itupun sore itu kupersembahkan sebagai sebuah pujian bagi Dia yang kupuja.
Bukan sesuatu yang sempurna indahnya tapi justru disitulah, kemanusiaanku kuletakkan.
Memberikan yang terbaik dari keterbatasan yang ada bagi Tuhan.
Ah, semoga…

Sebarluaskan!

67 Komentar

  1. haru biru..itu yang aku rasakan kali ini :D, tidak seperti hikayat tato yg lalu2, yang membuat aku sampai harus menahan nafas.

    Balas
    • maaf ada yg lupa, Don. kaki kirimu di tatto jg ga?

      Balas
      • Kaki kiri? Ada kok… tapi nanti ceritanya… istirahat dulu :)

        Balas
  2. Setelh di foto eluruhnya, tatomu sungguh indah…
    Juga perjuangan untuk melewati siksaan demi siksaan……namun hasil akhirnya benar2 indah…
    Btw, kakimu mulus ya Don, dan langsing…atau karena foto?
    Yang lihat bisa mengira itu kaki cewek (OOT)

    Balas
    • Bu, kaki saya memang seperti itu..
      Banyak yang bilang kaki meja karena ngga ada bulunya.
      Saya merasa bersyukur justru karena itu tattooku keliatan bagus hahaha

      Balas
      • aku pikir kamu itu nge wax secara rutin..hihiiii. Salut u/ bu Enny..teliti bener melihatnya..

        Balas
  3. Weit… sangar mas kisahmu seng ini haha. Penuh rintangan. Tapi itu tatto seng paling keren dewe, gambar Yesus kok malah paling atas? Kan ketutupan celanamu terus… gak isa diliat dong kecuali nek kamu pake cawet tok haiz…
    Dan seperti biasa…
    “Kulit membengkak, pori-pori membesar…”
    Ugh….

    Balas
  4. Tulisanmu memang luar biasa Don. Selalu ada soul yang keluar dari setiap tulisanmu, salut aku *dan iri juga hahahaa*. Aku sempat berpikir, betapa perjuanganmu menorehkan tattoo ini memang luar biasa, pada akhirnya kau menorehkan Yesus di kulitmu sebagai si Dia yang kau cinta. Lagi sakit2an, ke gereja pulak. Ngaku dosa dan minta dikurangi sakitnya ya Don, hihihihi…
    *btw, aku hanya bs buka webmu dari bb or dr rumah pk speedy. Indosat tdk bersahabat dgn webmu..*

    Balas
    • Makasih, Zee :)
      Harusnya sekarang kamu udah bisa buka pake speedy dan indosat ya..?
      Beberapa waktu lalu aku migrasi server…

      Balas
  5. Perjuangan yang luar biasa, Om. Tuhan memberkati.

    Balas
  6. tatto nek apik..
    jan..aku terharu baca tulisanmu, mas..
    semoga dengan tatto di kaki, Dia selalu menyertai setiap langkahmu ya..
    tiap langkahku diatur oleh Tuhan
    dan tangan kasihNya membimbingku…
    hiks..aku pengen nangis

    Balas
  7. Wow!! Ketika melihat keseluruhan tattonya, dari part 1-6, hasilnya sangat luar biasa!!
    Salut untuk Mas Donny yang membuat tatto penuh dengan filosofi, bukan cuma asal2an.

    Balas
    • Makasih, Mbak Susan sudah setia mbaca kisah saya sejak awal mula :)

      Balas
  8. sungguh sebuah perjuangan yang penuh pertempuran dalam hati, salut untuk konsistensi anda kawan…
    btw, masih ada lanjutannya kan?

    Balas
    • Makasih, Bli.
      Lanjutan? Masih tapi nanti ah hehehe

      Balas
  9. WOW!!!! akhir perjuangan yang indah, meskipun didera cobaan berulang-ulang kamu tetap tangguh. Hidup DV!!!

    Balas
  10. Setuju Mbak Enny, tattonya bagus. Cuma … aku tetep berkeringat dingin membayangkan sakitnya … :(
    Satu hal yang aku benar-benar salut, kecintaanmu yang demikian besar dan tinggi terhadap Yesus. Aku menjura dengan penuh hormat!

    Balas
    • Mari kita saling menjura hehehe.. jura menjura :)

      Balas
  11. waduh, tattonya serem :) tapi seni banget

    Balas
  12. DAHSYAT!!!!
    “Bukan sesuatu yang sempurna indahnya tapi justru disitulah, kemanusiaanku kuletakkan”
    Indah sekali DV!! Berkah Dalem

    Balas
    • Makasih, Bro!
      Sejujurnya, kisah ini mengalir karena kamu di YM bilang “Kapan nyeritain El Shaddainya?” :)

      Balas
  13. satu lagi… akhir yg bukan akhir kan???
    “nunggu soul di kaki kananmu”

    Balas
  14. akhirnya selesai juga ya…
    kamu hebat mas! bahkan di dalam tatoo mu kamu menanamkan jiwa
    mungkin memang aneh bagi orang-orang yang tidak mengenalmu atau tidak membaca postingan 1-6 tentang tatoo mu tapi buatku itulah Donny Verdian :D

    Balas
    • Makasih Ria sudah mencoba mengerti seorang Donny Verdian :)

      Balas
  15. wah jika seorang blue di tatoo pastinya jadi gahar kali y,om……heheheh
    salam hangat dari blue

    Balas
  16. Mas DV. aku itung itung bikin hikayat Tattoo mulu c. jangan jangan di Ausie sana mau buka usaha tattoo bagi orang Indo yah? wkwkwkwk :D

    Balas
  17. sorry, soul kaki kiri maksud ku

    Balas
  18. huh…! kata demi kata yang kau rawikan di sini membuatku turut merasakan pedih yang dirasa ketiak setiap inci kulitmu dirajah. tapi, aku juga turut merasakan betapa bahagianya dirimu, ketika mempersembahkan sesuatu “yang terbaik” menurutmu untuk Yang Paling Kau Cinta dan Puja… salut aku Don :)

    Balas
  19. wah luar biasa mas ini, tangguh…

    Balas
  20. tidak bisa saya perikan bagaimana rasanya .. hmm pasti luarbiasa
    *maunya mulai ngeblog lagi, eh … gak dinyana, cuma karena plugin wp cache semua permalink berubah. blog jadi kosong melompong … dikutak-katik ndak ngerti blass.. ya sudah, reinstall saja …
    pa kabar mas don .. :)

    Balas
    • Wehehehehe. makasih.. rasanya memang luar biasa sakitnya ;)
      Welcome back, Mas!

      Balas
  21. wah keren! semoga gambar Yesus itu bisa jadi pengingat untuk benar2 meneladani hidup-Nya… sepanjang hidup, tanpa pernah berhenti

    Balas
  22. Ngeri gue ngebayangin bengkaknya, tp bagus don jadinya, warnanya cerah!

    Balas
  23. Foto Munir dipajang dong don, gue penasaran liat orangnya, ngelukisnya bagus banget!

    Balas
  24. ternyata ada rasa sensasional waktu menikmati proses pen-tattoo-an, ya, mas don, sampai2 makan pun dilupakan, hehe …. goresan dan desain tattoo-nya bener2 mantab, mas don. saya babar blas ndak punya keberanian utk melakukannya, hihi …

    Balas
    • Hehehe makasih, Pak Sawali…
      Ketika kita melakukan sesuatu yang mengasyikkan sekaligus menegangkan, makan memang bisa terlupakan pak hehehe

      Balas
  25. wah tato … kok kagak kebayang sakitnya di tato ya

    Balas
  26. bagus ya hihihi…
    semua indah pada waktu-Nya hehehehe

    Balas
  27. don, bukan ne tattomu itu pertama kali d buat thn 2004???
    soal pas km antar aku tatto ke toxic bln mei 2004??? n tattomu waktu itu msh d betis tengah???

    Balas
    • Iya, betul Nit… kamu ingat aja :)
      Coba baca Hikayat Tattoo sejak seri 1, di situ kuceritakan semuanya secara urut kok :)
      Kamu ngga nambah tattoo lagi?

      Balas
      • yo musti inget, waktu d tatto aku ngejepret lewat camera nokia ku. meskipun skrg zaman bb. nokia ku menjadi saksi bisuku… hehehe
        taon nya tuh d revisi… bkn 2003 tp 2004…

        Balas
  28. Oww ternyata tatoo-nya di letakkan paling atas diantara tatoo2 sebelumnya….
    Wuih kalau dilihat sampe hasil akhirnya keren bgt Tatoonya n penuh perjuangan banget…. Mati lampu 2 kali dalam menyelesaikan tatoo-nya, WTF??? tapi demi sesuatu yang diinginkan segala hambatan pun terkalhkan hehe….

    Balas
    • Hehehehe… betul, Mas.. Tapi hidup ini memang slalu penuh dengan perjuangan ya hehehe

      Balas
  29. hm, akirnya tau semua tatto kananmu Mas, seperti biasa, ditunggu sambungan tatto selanjutnya :-)

    Balas
  30. ga bisa ngebayangin apa jadinya jika lampu ga nyala tuh mas.. hkhkhkhk.. tatto setengah jadi.. mau gaya tengsin,, la wong baru separuh,,,
    ==
    salute deh untuk kuat nahan rasa sakitnya..

    Balas
  31. Halo Donny,
    Weleh…itu yang aku mau tanyain, gimana rasanya dirajah sekujur kaki kananmu itu.
    Salam

    Balas
  32. Listrik masih jadi kendala sampe sekarang Paklik!! hahahaha……
    kami tunggu cerita yg kiri pasti lebih seru, GBU

    Balas
  33. ada temen fb cewe yang lengan kanannya ditato penuh dan warna warni. gak kebayang gimana pas bikinnya. serem, pasti berjam2 diobras ya? :D
    tatomu bagus eh :D

    Balas
  34. Don… selama aku baca hikayat tattoo mu itu (yg menarik banget ngomong2) aku mung mbatin… ini betis kok langsing lan mulus banget…betismu tuh kyk gitu apa mbok photoshop kuwi? ;)

    Balas
    • Nggak di photoshop , Yu.
      Aslinya kakiku memang seperti itu, mulus, langsing dan hmm tak berbulu :)

      Balas
  35. Kalau nggak salah waktu (apa pulak itu ‘ga salah waktu’?), aku inget tatomu yang ini mas Don, dan aku inget juga betapa mulus dan kinclongnya kakimu ngoahahahahaha *setep*, mulus buangeeettt!

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.