Tulisan ini adalah rangkaian dari serial tulisan 'Hikayat Tattoo'. Untuk menyimak selengkapnya, klik di sini.
El Shaddai dalam bahasa Israel adalah salah satu gelar untuk Tuhan, Allah Maha Besar.
Aku jatuh cinta pada ungkapan “El Shaddai” sejak aku mengenal lagu dengan judul yang sama yang pertama kali kudengar pada awal dekade 2000 an silam.
Demikian liriknya,
Tak usah kutakut, Allah menjagaku
Tak usah kubimbang, Yesus pliharaku
Tak usah kususah, Roh Kudus hiburku
Tak usah kucemas, Dia memberkatiku
El Shaddai, El Shaddai, Allah Maha Kuasa
Dia besar, Dia besar, El Shaddai Mulia
El Shaddai, El Shaddai, Allah Maha Kuasa
BerkatNya berlimpah, El Shaddai
Aku tak berani bilang bahwa lagu itu menguatkan hidupku karena bagaimanapun juga Tuhanlah yang melakukannya, namun aku harus berani menyatakan betapa lagu dan lirik lagu itu adalah salah satu penyulut yang menyadarkanku kembali bahwa ada Something yang menjaga, memelihara dan menghibur hingga akhirnya memberkati sepanjang hidupku.
Maka jadilah! El Shaddai dalam konteks ‘kata’ kuletakkan pada urutan paling puncak konsep tattooku selanjutnya.
Namun semua tentu tak selesai hanya dengan menorehkan kata ‘El Shaddai’, itu jauh dari rasa puasku!
Aku lantas memanfaatkan waktu sekitar sebulan lamanya untuk menerjemahkan El Shaddai dalam bentuk gambar sehingga bisa menjadi sesuatu yang lebih bermakna implisit ketimbang hanya tulisan saja.
Bersumber pada lirik lagu itu tadi, aku lantas berpikir tentang konsep yang sangat teknis dalam lingkungan Gereja Katolik Roma, Tritunggal Maha Kudus. Aku tak kan menjelaskan di sini seperti apa itu karena aku sendiri pun sejatinya tak mengetahui barang secuil kukupun dari konsep suci ini.
Tapi yang jelas, sebagai penjabaran konsep tattoo ‘El Shaddai’ itu, aku lantas memilih figur Yesus dan burung merpati sebagai Roh Kudus. Lalu, figur apa yang menjadi Bapa?
Dan, ini adalah pertanyaan yang paling susah untuk kujawab!
Semula aku berpikir Bapa sebagai matahari.
Tapi kupikir ini juga kurang tepat karena matahari adalah barang ciptaan seperti halnya manusia.
Lantas setelah mencari referensi, Bapa dalam sastra lama sering dilukis sebagai orang tua berjenggot yang bijaksana.
Tapi instingku menolak karena ia akan lebih tercitrakan sebagai Abraham, Nuh ataupun Musa atau kalau tidak, hey apakah Bapa itu adalah manusia?
Dan akhirnya, pikiranku menuju ke sebuah pemikiran bahwa Bapa kulukiskan sebagai sebuah ruang.
Sebagai sesuatu yang memberi ruang kepada Yesus dan Roh Kudus untuk berkarya.
Dan karena ruang itu tak bisa dilukiskan dalam gambar, maka kuimbuhi cahaya di dalamnya.
Bagiku, cahaya bisa tampak jika ada ruang dan oleh karenanya aku tak mewakilkan Bapa sebagai cahaya, tapi ruang dengan cahaya menunjukkan bahwa Bapa itu ada.
Malam itu juga sketsa kasar kurampungkan dengan terus memperdengarkan lagu El Shaddai dari pemutar mp3 ku.
Sekitar pukul satu malam semuanya terselesaikan dan segera kukirim sms ke Munir
“Gambarku wes dadi.. Secara filosofi rodo abot tur kowe ra sah mbahas sing penting nattoo hehehe”
Tak lama kemudian Munir pun menjawab “Yes! Tentukan tanggal Mas Bro!”
Dan kurasakan Tuhan semakin berada di pihakku!
Tinggalkan Balasan