Tulisan ini adalah rangkaian dari serial tulisan 'Hikayat Tattoo'. Untuk menyimak selengkapnya, klik di sini.
Suatu malam, setelah tattooku yang pertama mulai mengering, sembuh dari luka pembuatannya, Martho, teman baikku berujar padaku, demikian. “Don, smalam aku mimpi kakimu dua-duanya bertattoo dari bawah sampai atas!”
“Hah? Atas gimana maksudmu?”
“Ya, atas, sampai segini!” ujarnya sambil mengangkat celana pendeknya hingga ke pangkal paha.?Akupun tergelak dibuatnya. Bagiku, apa yang diimpikannya adalah hal yang mustahil ketika itu.
“Segila-gilanya aku, nggak mungkin lah sampe sepanjang itu…” tukasku menutup pembicaraan.
Namun pada kenyataannya, tak sampai sebulan sesudah tattoo pertamaku jadi, aku sudah ingin ditattoo lagi! Ada semacam kerinduan untuk merasakan proses pembuatan dan kepuasan ketika melihat hasilnya. Ketagihan? Barangkali, tapi yang pasti, pada titik itu aku belum bisa menyebutkan perasaan itu demikian.
Segera saja kukontak Munir untuk bertanya apakah kira-kira ia punya ide untuk melanjutkan tattooku karena, seperti pada tattoo yang pertama, aku tidak memiliki secuil konsep pun mau dibuat seperti apa tattooku selanjutnya.
Jawaban yang ditunggu pun datang dari mulut Munir.?Ia menyuruhku datang untuk berdiskusi tentang tattoo selanjutnya. Diskusi berlangsung menyenangkan. Munir tampak senang dengan hasil tattoo pertamaku. Ia bilang bahwa karakter kulitku yang tak terlalu hitam membuat tinta-tinta yang ditorehkannya terkesan menyala.
“Jadi, gimana Nir?”
“Gimana apanya?”
“Ya gambarnya… kamu sudah ada?”
“Oh, belum! Eh tapi kan tinggal melanjutkan aja dari yang sudah ada ke atas sampai ke lutut!”
Entah kenapa, tiba-tiba aku teringat apa yang diimpikan Marto tadi namun ah… itu hanya ilusi.?Pada kenyataannya saat ini aku sedang direncanakan untuk ditattoo hingga lutut dan bukan paha!
Hari pelaksanaan dan harga pun disepakati!?Aku pergi ke ToxicTattooPark pada hari yang telah ditentukan.?Deg-degannya kurang lebih masih sama dengan apa yang kurasakan pada saat tattoo untuk yang pertama kalinya.?Namun kali ini lebih ke soal sakit tidaknya ketimbang tentang bagaimana nantinya menghadapi orang-orang yang masih alergi terhadap tattoo maupun mereka yang ingin memberikan penilaian baik dan buruknya desain tattooku nanti.
Ketika tinta-tinta dimasukkan ke lapisan bawah kulit lewat jarum-jarum yang tergerak oleh dinamo, aku juga tak merasa sedang mengukir sejarah yang baru. Bagiku, tattoo kedua adalah lanjutan dari tattoo pertama, dimana sejarah untuk pertama kali digulirkan.
Dan tak seperti sesudah pembuatan tattoo pertama, aku tak memutuskan untuk pergi ke Jazz Coffee atau ke rumah teman sekadar memamerkan tattoo keduaku itu.?Aku memilih untuk langsung pulang dan melanjutkan hidup seperti biasa.?Mauku memang demikian, menganggap tattoo sudah lagi bukan barang asing maupun mewah. Ia harus kuanggap sebagai sesuatu yang tak lebih dari sekadar bagaimana layaknya kita harus menghirup nafas agar tetap hidup dan makan supaya tetap kenyang…
Tinggalkan Balasan