Tulisan ini adalah rangkaian dari serial tulisan 'Hikayat Tattoo'. Untuk menyimak selengkapnya, klik di sini.
Orang-orang yang memutuskan untuk bertattoo, biasanya sudah memiliki konsep sejak awal sebelum tinta ditorehkan ke kulitnya, akan tetapi tujuh tahun silam, ketika pertama kali aku ditattoo, tidaklah demikian.?Bisa dibilang aku tak punya konsep apalagi hal-hal berbau filosofis yang biasanya terdengar “waw!”. Niatku, konsepku dan apapun itu yang melatarbelakangiku untuk ditattoo pada awal mulanya hanyalah satu, “Aku ingin ditattoo!” .Titik!
Keinginan itu sangat kuat bahkan sebenarnya sudah ada sejak masih duduk di bangku SMP meski waktu itu masih kecil baranya.?Aku ingat betul ketika itu aku masih tinggal di Kebumen (Jawa Tengah), di sebuah iklan koran lokal kutemukan iklan jasa pembuatan tattoo dengan gambar-gambar yang waktu itu sudah tampak menarik. Namun, apalah daya, usia yang masih terlampau kecil menghalangiku untuk mewujudkannya. Aku merasa jika aku nekat ditattoo waktu itu, aku tak kan sanggup untuk melawan lingkungan lengkap dengan tata aturan norma yang sudah pasti akan menghajarku.?Akupun hanya bisa berandai-andai, suatu mimpi yang tak tahu kapan kesampaian.
Pada waktu kuliah, keinginan bertattoo ku nyaris menjadi kenyataan setelah salah satu teman dekatku, seorang wanita, mentattoo kakinya dengan gambar ikan lumba-lumba.?Aku betul-betul tersemangati kala itu terlebih rayuan mautnya menggelitik di telingaku “Nggak sakit kok, Don! Kamu pasti cocok karena kulit kamu nggak hitam sehingga warnanya bisa tampak indah betul!” Tapi sayang seribu sayang, ketika tahu berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk itu, aku berpikir harus lebih berkompromi dengan perut dan bayar sewa kamar kost bulanan terlebih dahulu ketimbang tattoo.?Atas nama skala prioritas kebutuhan, akupun mengubur kembali keinginan itu, dan tak berharap banyak kepada angin yang mampu menyingkapkannya.
Ssssstttt.. you know what?!? Dua tahun sesudahnya aku bahkan sudah bersiap pergi ke studio tattoo membawa segepok uang dan secarik gambar rancangan tattoo tapi apa daya, halangan sekarang muncul dari orang yang waktu itu jadi pacarku… tapi syukurlah tak lama sesudahnya kami bubaran hahaha!
Tahun 2003 pun datang tanpa firasat bahwa itu adalah tahun dimana aku akan menorehkan sejarah ditattoo untuk pertama kalinya.?Semesta seperti telah sepakat dengan seluruh komponennya untuk menjerumuskan aku ke dalam sebuah kenyataan baru bahwa aku bertattoo. Dalam sebuah pertemuan yang tak kusengaja, bersama dengan seorang kawan lama yang baru berlibur ke Jogja dari Jerman, dan seorang kawan lama lagi yang tiba dari Jakarta untuk juga berlibur ke Jogja, kami bertiga seperti diarahkan untuk bertattoo bersama-sama.
Uniknya lagi, ketiga dari kami sama-sama mengantungi satu nama tattoo studio dan satu nama tattoo artist pula.?Maka jadilah kami berangkat ke ToxicTattooPark, sebuah studio tattoo yang dimiliki oleh seorang tattoo artist, Munir Kusrianto.?Aku tak langsung ditattoo waktu itu. Ferry, temanku yang dari Jakarta yang ditattoo duluan. Alex, sobat dari Jerman tadi hanya merancang tattoo untuk liburan selanjutnya, sedangkan aku hanya diam memendam nafsu.
Seminggu sesudahnya, aku masih tak berkeputusan untuk ditattoo meski keinginan sudah mencapai ubun-ubun. Bukannya ragu, tapi lebih karena aku bingung harus memilih gambar yang seperti apa untuk tempat yang terbaik di sebelah mana dari tubuhku.
Satu hal yang menarik dari apa yang kualami waktu itu adalah, boleh dibilang aku tak perlu ragu sama sekali dengan yang namanya ijin.?Papa dan Mamaku hanya bisa pasrah ketika kukabari betapa aku sedang menggebu-gebu utuk ditattoo, mantan kekasihku yang sekarang sudah menjadi istriku saat ini, pun waktu itu tak ragu memberikan ijin… malah, ia telah bertattoo sekitar sebulan sebelum pada akhirnya aku ditorehi tattoo untuk yang pertama kalinya.
Maka jadilah! Tanggal telah kurancang, hati telah kusiapkan dan uang telah pula kusisihkan. Aku berangkat pada suatu sore ditemani Marto, teman dekatku, ke ToxicTattooPark. Kuserahkan sekitar 15 x 5 cm bagian betis kanan untuk dirajah dengan pola tribal. Prosesnya memakan waktu tak lebih dari 45 menit dengan rasa sakit yang lumayan bisa ditahan namun tetap saja perih.
Mengalami proses ditattoo ternyata tak lebih dari seperti mengalami proses pembuatan sebuah karya seni lainnya, membuat jantung berdebar-debar akan seperti apa hasilnya, dan ketika selesai dengan baik, hati pun berbunga-bunga.?Tak sampai sejam setelah ditattoo, aku dan Marto tak langsung pulang. Kami berdua mampir ke Jazz Coffee, sebuah coffee shop langgananku dulu dengan ujub, mau pamer critanya.
“Woh sangar, Donny tattooan!” ujar seorang teman yang mendadak berdiri dari kursinya untuk melihat hasil tattooku.
Aku hanya mesam-mesem dibuatnya…
Lalu yang lain bertanya, “Tattoo opo? Artine opo? Kenapa kamu milih gambar itu?”
Akupun terdiam. Aku tak punya jawaban. Satu-satunya cara untuk tetap bertahan adalah menyadari bahwa apapun kata orang, apa yang telah dirajah tak bisa lagi dihilangkan. Mulai saat itu akupun belajar satu hal, mencintai dan menyukai apa yang telah dibubuhkan secara permanen tanpa harus berpikir ke belakang apalagi sampai menyesal. Ah, jangan sampai, jangan pernah!

Tinggalkan Balasan