Tulisan ini adalah rangkaian dari serial tulisan 'Hikayat Tattoo'. Untuk menyimak selengkapnya, klik di sini.
Juni 2003. Pembuatan tattoo yang ketiga adalah pengalaman yang sangat berharga. Letaknya di bawah betis, mata kaki hingga sedikit menutupi punggung telapak kaki kanan. Kukatakan berharga karena pada fase ini aku menemui kenyataan bahwa sakitnya ditattoo di daerah itu adalah sesuatu yang nyaris tak terperikan.
Semula aku berpikir bahwa proses pembuatan tattoo yang paling menyakitkan adalah di daerah-daerah yang memiliki kulit tipis dan bertulang keras seperti betis bagian depan misalnya. Tapi aku salah besar, justru bagian yang berupa engsel, berkulit tebal dan tak memiliki tulang adalah bagian yang paling menyakitkan untuk disusupi tinta ke dalamnya.
Besar tattoo yang kubuat tak terlalu besar, lebih kecil ketimbang yang kedua malah, namun proses pembuatannya memakan waktu sampai lebih dari dua jam. Selama itu, aku lebih banyak meminta Munir untuk berhenti menattoo, beristirahat sebentar dan melanjutkannya lagi. Begitu terus, berulang-ulang…
Tak hanya itu, bila pada pembuatan tattoo sebelumnya aku masih bisa berpikir untuk ‘ngelayap’ terlebih dahulu ketimbang langsung pulang, tapi kali itu, aku tak memiliki pemikiran lain selain langsung pulang dan beristirahat untuk memberikan tubuh terutama bagian yang ditattoo untuk melakukan pemulihan.
Nyaris seminggu setelah ditattoo aku juga tak melakukan kegiatan apapun.?Untung aku dulu bisa memilih tidur di kantor sehingga tak memerlukan banyak jalan untuk beraktivitas.
Tak hanya itu, pada hari kelima , hari dimana seharusnya tattoo mulai sembuh, yang terjadi justru sebaliknya.?Engsel mata kaki, betis bagian bawah hingga punggung telapak kakiku mengalami pembengkakan yang cukup jelas akibat pembuatan tattoo. Suhu tubuh pun kurasakan naik meski tak terlalu banyak dan seluruh badan sangat tak nyaman untuk digerakkan.
Pada titik ini aku hampir menyerah. Tak henti-hentinya aku merutuki diri sendiri kenapa harus terus menerus ditattoo kalau akibatnya seperti itu.?Kuputuskan untuk pergi ke dokter meminta obat penyembuh dan diberikannya aku antibiotik serta obat penurun demam.
Tiga hari aku bedrest dan pada hari keempat ketika aku mulai beraktivitas, tattoo yang paling menyakitkan pembuatannya itupun mengering serta mengelupas indah. Aku begitu membanggakan tattoo di mata kakiku itu karena tingkat pembuatan serta lama dan beratnya pemulihan yang harus kulakukan untuk mendapatkannya.
Akupun kembali mengutuki diri sendiri kenapa empat hari sebelumnya aku sempat mengutuki diri karena terus menerus ditattoo…
Tinggalkan Balasan