Hidup yang dinikmati, hidup yang menghidupi?

15 Mar 2018 | Kabar Baik

Kata-kata yang diucapkan Yesus ditulis dengan hidup oleh murid yang dikasihiNya, Yohanes.?Ada yang begitu menamparku pagi ini. Simak petikannya di bawah ini,

Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa oleh-Nya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu. (Yohanes 5:39 – 40)

Mempelajari dan mendalami kitab suci tidak berarti mendapatkan hidup dan keselamatan! Ia hanya membuka wawasan bahwa ada keselamatan dan hidup yang berasal daripadaNya melalui Yesus Kristus! Adapun hidup dan keselamatan itu tak cukup hanya dipahami. Ia perlu didatangi.

Inilah inti penyelamatan Bapa melalui Putra. Hidup ditawarkan bagi kita yang datang kepadaNya bukan yang hanya mengenalNya saja.

Dalam perspektif keseharian, ?datang kepadaNya? adalah melalui ibadah.?Lalu apakah ibadah itu?

Ke Gereja? Ibadah!
Ikut persekutuan doa dan perkumpulan rohani? Ibadah!?Mendalami kitab suci, membagikan renungan? Ibadah!?Tapi tak berhenti di situ. Bagaimana kita memperjuangkan apa yang kita dapatkan dari hal-hal tersebut di dalam dunia nyata, itulah kegenapan ibadah!

Contoh paling gampang?

Di Gereja dan persekutuan doa kita berani berteriak lantang, ?Kami ini alatMu pakailah seturut kehendakMu!? tapi ketika di jalanan, ada orang mengalami kecelakaan dan butuh tumpangan untuk sampai ke rumah sakit kita pura-pura tak melihat??Takut tersangkut perkara, takut yang bersangkutan mati di dalam kendaraan kita? Atau? ?Duh, kepalanya berdarah-darah nanti jadi kotor mobilnya susah ngebersihkannya?? Bukankah mobil yang kita miliki adalah alat untuk memuliakanNya dan memenuhi kehendakNya melalui pelayanan kepada sesama?

Kegenapan ibadah menghasilkan hidup karena kita mendatangiNya seperti ditulis di atas. Dalam konteks ini, hidup tak melulu dipandang sebagai yang dinikmati tapi justru yang menghidupi. Hidup yang dinikmati adalah hidup yang mengarah kepada diri sendiri, ego. Hidup yang ?pokoknya gue? bahkan dalam beragama pun ?pokoknya gue??

Sementara hidup yang menghidupi adalah hidup yang menawarkan kehidupan bagi sesama dan dunia sebagai tanda bahwa kita berasal daripadaNya, Sang Sumber Kehidupan!

Aku ingin menutup renungan hari ini dengan sebuah cerita tentang seorang yang belum kukenal secara pribadi tapi cerita tentang dirinya kudengar di sana-sini.

Ia, pria berkeluarga yang bertekun kepada Allah. Awalnya mereka tinggal di Sydney, Australia. Punya tempat usaha yang cukup mapan namun suatu waktu ia memutuskan pulang ke Tanah Air.

Ditanya alasan oleh kawan-kawan dan saudaranya, jawabnya karena ia tak bisa optimal melayani Tuhan di negeri ini sementara itu ada banyak ?ladang? yang bisa ?dikerjakan? di Tanah Air.

Setelah melalui pergumulan yang tak mudah, ia memutuskan menjual tempat usaha dan meninggalkan Australia dengan segala kemajuan dan kemapanannya, pulang ke Tanah Air memulai segalanya dari awal.

Apa yang ditekadkan pun dilakukannya. Ia banyak terlibat dalam pelayanan orang-orang miskin lintas batas suku, agama, ras serta golongan.

Inilah hidup yang menghidupi. Hidup yang memancar keluar bukan hidup yang memuarakannya pada diri ?ego? sendiri.

Sydney, 15 Maret 2018

Sebarluaskan!

1 Komentar

  1. Udah pulang ke tanah air ini…atau cerita orang beneran?

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.