Hidup bertekun di dalam-Nya

3 Sep 2019 | Kabar Baik

Hari ini kita belajar tentang bagaimana menjaga konsistensi untuk hidup bertekun di dalam-Nya melalui peristiwa yang terjadi di Kapernaum. Saat sedang mengajar di rumah ibadat, Yesus mengusir setan dari dalam diri seorang umat yang hadir. ?Diam, keluarlah dari padanya!?? (Lukas 4:35) kataNya dan setan itupun pergi?

Membaca Kabar Baik hari ini, sejatinya aku penasaran dengan diri umat tersebut. Apa yang terjadi setelah setan dihardik keluar?  Adakah ia tidak akan pernah bisa kesetanan lagi?  Adakah ia jadi hidup suci? 

Atau?. jangan-jangan setelah Yesus pergi, setan justru berebut masuk kembali ke dalam dirinya? Bisa jadi demikian! Bukan karena Yesus yang tak bisa menghalau setan untuk selama-lamanya tapi karena kehendak bebas yang diberikan Tuhan membuat kita terkadang lebih memilih untuk jauh dariNya dan dekat dengan kuasa gelap. 

Lalu kalau demikian, kalau setan itu masuk lagi ke dalam diri seseorang bagaimana ia bisa lepas dari kuasa itu?

Tiba-tiba aku teringat pada satu hal yang pernah dikatakan seorang pastor dalam homilinya. Ia berkata bahwa Tuhan memberi kita ruang untuk ikut andil dalam karya keselamatanNya.

Dalam konteks sosial, hal itu bisa kita pahami sebagai ajakan untuk mengasihi dan peduli terhadap sesama. Dalam konteks pribadi, ikut andil dalam karya keselamatan kuartikan sebagai hidup bertekun di dalam-Nya; menjaga supaya kuasa gelap tidak mudah masuk dalam hidup dan kita semakin tertuju hanya kepadaNya hingga akhir nanti.

Dan sejatinya perjuangan itu tidaklah pernah mudah. Petrus menganjurkan kita untuk melawan dengan iman yang teguh. (lih. 1 Ptr. 5:9)

Tujuan hidup bertekun di dalam-Nya

Iman yang teguh berawal dari tujuan yang jelas nan kuat. Setiap perjuangan memiliki tujuan. Hidup pun demikian, memerlukan tujuan untuk dijalankan. 

Tujuan hidupku semakin lama semakin kusadari adalah untuk berbahagia di dalam iman. Hidup ini harus berbahagia dan kebahagiaan dibangun di atas dasar iman terhadap Yesus, Juru Selamat. 

Kebahagiaan yang yang tak melulu identik dengan uang dan harta. Kebahagiaan yang penuh kasih; ajakan untuk mengasihi Tuhan dan sesama karena kita telah lebih dulu dikasihi olehNya.

Memiliki tujuan amatlah penting terutama saat kita sedang merasa sendiri, terpuruk dan gagal, kita bisa melihat kembali tujuan untuk sarana mengevaluasi diri.

Jatuh? Bangun lagi!

Jatuh itu biasa karena kita ini manusia. Tapi bangun dari kejatuhan kadang-kadang membutuhkan usaha yang tidak biasa.

Hidup beriman bukannya tanpa godaan dan goncangan. 

Seseorang yang sudah berjanji untuk mengurangi akses konten pornografi misalnya, tiba-tiba dimasukkan ke sebuah WhatsApp Group yang kebanyakan anggotanya sering mengirim konten porno.

Awalnya bisa menahan? tapi lama-lama mana tahan.

Ia lantas mengambil sikap dan bertindak. 

Mulai dari men-set supaya media hasil kiriman kawan tak otomatis ter-download, mematikan notifikasi. Hingga menyatakan keberatan kepada yang bersangkutan. Meski akhirnya ia dicibir karena sok suci dan dikeluarkan dari WAG karena keberatannya, bagiku orang ini adalah contoh sosok yang mau bangun ketika jatuh.

Keberanian kita untuk bangun saat jatuh membuat kita bisa memiliki konsistensi dalam hidup bertekun di dalam-Nya.

Penghalang hidup bertekun di dalam-Nya

Lalu apa yang kerap menjadi penghalang dalam hidup beriman yang konsisten?

Dunia? Orang lain? Bisa jadi. Contoh di atas gamblang sekali. Gara-gara orang lain share konten porno, diri ini jatuh lagi.

Tapi seperti filosofi tunjuk jari dimana satu jari menunjuk ke luar sementara empat jari lainnya menunjuk diri sendiri, maka porsi terbesar penghalang konsistensi itu ya berasal dari diri sendiri!

Aku melihat ada dua hal.

Munafik

Pertama adalah kemunafikan. Seorang merasa bahagia terhadap pencitraan yang ia lakukan di depan sesama. Di social media kerap share foto sedang berdoa dan pergi ke Gereja dan aktif dalam kegiatan-kegiatan bina iman. Sesekali pamer juga jepretan foto saat ia bersama kawan-kawan menyumbang bantuan untuk sebuah panti sosial.

Tentu hal itu baik karena siapa tahu mengajak banyak netizen untuk melakukan hal yang sama. Tapi ketika kebaikan itu digunakan sebagai topeng dan dalih untuk menyembunyikan keburukannya, disitulah seseorang terjebak dalam kemunafikan.

Kemunafikan amat berbahaya karena membuat kita terlena seolah-olah dengan berhasil meyakinkan sesama tentang kebaikan-kebaikan kita maka teryakinkan jugalah Tuhan yang Maha Melihat di atas sana.

Kesombongan Rohani

Kedua adalah kesombongan rohani.

Aku melihat hal ini sebagai hal yang lebih berat dari sekadar untuk tidak munafik. Kenapa? Kesombongan itu membuat syaraf-syaraf iman kita jadi tak peka dengan hal-hal yang harusnya masih tetap kita rasakan sebagai manusia.

Orang sombong rohani akan sulit untuk menyadari bahwa dirinya pun juga punya salah dan dosa. 

Contoh misalnya tentang bagaimana seseorang melawan hawa nafsunya dalam mengakses konten pornografi di atas.

Seorang yang mengalami kesombongan rohani akan memiliki kecenderungan untuk tak berkompromi sama sekali terhadap orang lain yang dianggapnya melakukan dosa berat.

Misalnya kembali ke soal konten pornografi di group WA yang kutulis di atas. Seorang dengan kesombongan rohani yang tinggi akan langsung menyerang dan menghakimi pribadi yang menyebarkan konten pornografi seolah dirinya adalah yang terbaik. Penghakiman dibangun atas dasar bagaimana ia membandingkan dirinya sendiri yang dianggap sudah menjadi yang paling benar.

Ia dengan bangga akan bilang bahwa ia bisa menahan nafsu untuk tidak mengakses konten porno tapi secara tak sadar ia terjatuh dalam kesalahan saling menghakimi.

Dan lagi-lagi karena sombong, ia merasa tak berdosa hanya karena sudah menghakimi. Dan karena tak merasa berdosa bagaimana ia sadar untuk bangun dari kedosaan itu dan kembali ke jalan Tuhan?

Sydney, 3 September 2019

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.