Hati-hati pada sikap iri hati!

7 Sep 2018 | Kabar Baik

Perumpamaan tentang Kerajaan Surga yang dibawakan Yesus hari ini begitu menarik.

Ada seorang tuan rumah yang mencari para pekerja anggur untuk Ia kumpulkan dan diminta bekerja di kebunnya. Masing-masing pekerja diberi ?kontrak kerja? yang sama, dibayar satu dinar untuk sehari.

Menjelang akhir hari, para pekerja yang sudah bekerja sejak pagi rupanya iri hati. Pasalnya? Mereka dibayar sama dengan yang barusan datang, satu dinar banyaknya!

?Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari.? begitu kata mereka bersungut-sungut seperti ditulis dalam Matius 20:12.

Lalu jawaban sang tuan rumah adalah begini,

Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari? (lih. Mat 20:14)

? dan yang paling menohok adalah yang berikut,

Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati? (lih. Mat 20:15)

Apa yang diceritakan di atas bagiku adalah tentang iri hati.

Tetangga kita kaya raya. Hidupnya tak berkekurangan padahal banyak orang tahu ia hobi main judi dan main gila dengan perempuan lain, entah istrinya tahu atau membiarkan!

Lalu rasa iri dan sebel berkecamuk, campur aduk! ?Sial! Padahal aku udah rajin ke gereja! Gak selingkuh dan kerja ya lurus-lurus saja tapi kok gaji pas-pasan dan hidup nggak menarik!?

Sementara kawan lain menghibur, ?Ah! Itu bukan berkat! Itu pasti hasil judi! Orang seperti itu biasanya ?nggak lama? nanti juga jatuh!?

Kawan! Hati-hati terhadap rasa iri hati!

Rasa iri hati muncul karena kita ini manusia lemah. Kita tak punya kemampuan memandang keadilan seperti Tuhan memandangnya. Dari hasil merenung, aku membagi munculnya rasa iri hati dalam tiga babak.

#1 Iri hati karena melihat keburukan orang lain

Iri hati yang jenis ini adalah seperti yang kutulis di atas. Tetangga hidupnya baik bener padahal kita tahu ada banyak hal buruk yang dilakukan! Lalu kita membandingkan dengan diri sendiri, kebaikan sendiri, dibandingkan dengan keburukan orang lain padahal adakah ini obyektif? Tentu tidak! Jauh dari obyektif adalah dekat dengan menghakimi! Kalau sudah begini, yang tidak adil sebenarnya siapa? Kita atau Tuhan?

#2 Iri hati karena kita tak bisa bersyukur

Iri hati muncul karena kita tak mensyukuri apa yang telah Tuhan beri kepada kita. Kenapa tak mensyukuri karena kita cenderung merasa ingin mendapatkan yang lebih dan lebih lagi. Sementara yang didapat orang lain kita nilai selalu lebih baik dan lebih banyak? Pepatah lama berkata, ?gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak? adalah yang paling tepat untuk melukiskannya. Sebelum iri muncul terhadap sesama, tengoklah ke dalam sebesar apa Tuhan telah berkarya?

Kalau sudah begini, yang tidak adil sebenarnya siapa? Kita atau Tuhan?

#3 Iri hati karena kepunyaan dan kemurahan Tuhan

Iri hati ini menurutku yang paling berat untuk dihindari seperti yang tuan rumah katakan di atas, ?Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati???

Terlepas dari dua faktor di atas, kita harus menyadari bahwa semua itu kepunyaan Tuhan dan karena Ia Maha Murah, Ia berhak memberikan apapun kepada siapapun!?

Iri hati itu berbahaya, sangat berbahaya karena bisa membunuh jiwa. Contoh paling sederhana, karena kita melihat tetangga yang main judi dan selingkuh saja bisa enak hidupnya, kenapa kita harus tetap beragama dan hidup melalui jalan-jalan yang lurus? Kenapa kita tak mencoba seperti mereka, siapa tahu rejeki kita malah akan dilipatgandakan?

Pemikiran seperti itu, lambat laun jika dibiarkan tentu bisa mematikan jiwa kita.

Lalu bagaimana cara mencegah iri hati?

Secara teori ya bersyukur atas hidup, melihat orang lain bukan dari sisi buruknya saja dan? memaklumi kemurahan Tuhan yang maha.?

Itu saja teorinya karena prakteknya, bagiku sendiri, masih amat sulit!

Aku termasuk orang yang masih sangat terbelit dengan sikap iri hati terhadap orang lain. Sering aku jatuh dan lemah karena rasa ini. Beruntung Tuhan itu baik. Ia masih mengijinkanku untuk menuliskan semua ini seolah aku telah berhasil mengalahkan rasa iri hatiku. Padahal ya belum, masih jauh dari ?bisa?!?

Jadi?
Mari saling mendoakan :)

Sydney, 7 September 2018

Jangan lupa isi Survey Kabar Baik 2018. Hasil isian kalian dalam survey tersebut sangat mempengaruhi bagaimana pola tulisan dan distribusi renungan Kabar Baik ini akan berkelanjutan.?Klik di sini?untuk informasi selengkapnya!

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.