Hari Raya Petrus dan Paulus: Ketika Tuhan memakai?

30 Jun 2019 | Kabar Baik

Tuhan memakai Petrus dan Paulus, dua tokoh utama dalam Gereja Katolik yang diperingati hari ini di seluruh dunia. Petrus murid utama dimana Yesus menitipkan jemaatNya (Matius 16:18). Paulus menyebarkan Kabar Baik ke daerah-daerah baru. Yang menarik, keduanya berasal dari latar belakang yang menurut dunia tidak layak untuk diutamakan.?

Petrus adalah nelayan yang agak berangasan. Ingat dong ketika ia memotong telinga prajurit bernama Malkhus yang hendak menangkap Yesus (Yohanes 18:10)? Petrus juga mudah goyah. Kalau tak goyah, ia? tak kan menyangkal Yesus hingga tiga kali banyaknya.

Paulus, meski cerdas tapi ia adalah seorang Yahudi yang sebelum ikut Yesus, ia ikut melakukan persekusi terhadap murid-murid setelah Yesus naik ke surga. Bahkan ia berada di antara orang-orang yang melempari Stefanus dengan batu hingga mati.

Ketika Ia memakai kita

Apa yang bisa kita pelajari dari sini?

Rencana Tuhan itu lebih besar dari apapun. Ketika Ia berkehendak, bahkan orang-orang yang tak disangka pun dipakaiNya untuk melakukan kehendak tersebut.

Lalu apakah Tuhan sudah memakai kita dalam hidup untuk melakukan kehendakNya?

Kawan masa kecilku pernah merasa begitu susah hatinya karena ia tak diperbolehkan menjadi imam padahal tinggal beberapa bulan lagi sebelum pentahbisan. Alasannya? Aku tak enak menyebutkan.

Nyaris sepuluh tahun bertekun dalam panggilan semua harus kandas. Aku bisa membayangkan bagaimana hancurnya. Sepuluh tahun bukan waktu yang singkat sementara kawan-kawan seangkatannya sudah meniti karir dengan baik dan berkeluarga dalam kurun waktu tersebut.

Sekeluarnya dari proses imam, ia bekerja sebagai juru cetak di percetakan buku di Jogja. Hingga terakhir kali aku bertemu dengannya, Desember 2018 lalu ketika aku berkunjung ke Tanah Air, ia tidak menikah. Pacaran pun tidak.

Lalu apa kesibukannya?
Di luar jam kerja, ia mencurahkan perhatiannya untuk melatih koor di kampung. berbekal ilmu musik yang didapat saat di seminari dulu, Ia begitu serius melakukan hal tersebut hingga namanya dan nama koor yang dipimpinnya mulai dikenal.

Seingatku sejak acara tujuh hari dan seribu hari meninggalnya Papa, seratus hari dan seribu hari meninggalnya Mama serta yang terakhir adalah acara ulang tahun Eyang putriku yang ke-88 Desember 2018, koor yang bertugas dipercayakan kepadanya.

Setelah acara perayaan ekaristi ulang tahun Eyang usai, saat sedang santap malam, aku menghampirinya. Memberi selamat bahwa sajian lagu-lagu yang dibawakan koor-nya begitu menyemarakkan suasana perayaan ekaristi.

?Gimana kabarmu?? tanyaku.

?Ya beginilah! Nggak bisa ke situ, bisanya di sini.? Jawabnya sambil menunjuk altar tempat romo bertugas. Maksudnya meski ia tak bisa menjadi pastor, ia masih diberi kesempatan untuk memimpin koor.

Tuhan memakai tak pernah menyia-nyiakan

Aku tersenyum.
Cerminan kawan lamaku itu membuatku sadar, Tuhan tak pernah menyia-siakan sumber daya yang ada, seberapapun buruk dan hancurnya ia asal mau ya dipakai.

Kawanku tadi bisa saja menutup diri atau memberontak karena merasa apa yang diperjuangkan sepuluh tahun dimentahkan begitu saja. Tapi ia tidak membalikkan badan terhadapNya. Ia menerima dengan legawa dan akhirnya Tuhan memberi tugas baru baginya.

Ah jadi ingat lagu lama yang dulu sering kunyanyikan ketika masih aktif di persekutuan doa,

?Buluh yang terkulai tak kan dipatahkanNya
Dia kan jadikan indah sungguh lebih berharga
Sumbu yang tlah pudar tak kan dipadamkanNya
Dia kan jadikan terang untuk kemuliaanNya?

Sydney, 30 Juni 2019

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.