Hari Minggu Sabda Allah dan kemalasan kita dalam membaca

1 Feb 2020 | Kabar Baik

Dalam surat apostoliknya, motu proprio, yang bertajuk ?Aperuit illis?, Paus Fransiskus menetapkan hari minggu biasa ketiga sebagai hari minggu Sabda Allah (celebration, study and spreading of the Word of God).

Tahun 2020 adalah tahun pertama pelaksanaan ketatapan tersebut dan aku tertarik untuk memulai tulisan renungan ini dengan mengutip Kabar BaikNya. Seperti ditulis oleh Matius, Yesus dilukiskan mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa itu (lih. Mat 4:23)

Menerima = mencari secara aktif

Aku ingin memulai renungan ini dengan curhat betapa aku kadang sebel ngeliat orang yang nggak mau bergerak untuk mendapatkan sesuatu. Sebelku punya alasan ?cukup baik? karena aku dulu merasa seperti itu juga dan nggak mau orang lain mengalami hal yang sama.

Misalnya begini.
Waktu kuliah dulu aku paling malas membaca pengumuman. Bagiku waktu itu, dosenlah yang harusnya memberitahu kita. Alasannya, ?Kan kita udah bayar SPP semester dan dosen digaji dari uang SPP kita??

Tapi ketika pindah ke Australia, aku sadar bahwa untuk mendapatkan informasi, kita harus bergerak aktif. Pemerintah terkadang memberitahukan informasi-informasi terbaru melalui kanal-kanal informasi yang biasa dipakai, situs web resmi, media-media tepercaya dan akun social media resmi. Ketidaktahuan kita karena tidak mengakses bukan jadi tanggung jawab pemerintah melainkan diri kita sendiri.

Artinya, ketika misalnya pemerintah memutuskan hari libur bersama tapi kita tidak tahu dan ketika masuk kantor kok nggak ada orang, kita nggak bisa menyalahkan, ?Kok aku gak diberitahu sih?? Emangnya kamu siapa? :)

Nah, menjadi umat Allah, kita diundang untuk tidak berlaku pasif. Pemberitaan Sabda Allah harus dicari dan tidak hanya dengan pasif menerima saja.

Coba kita tanya, berapa banyak orang Katolik sadar bahwa penggunaan kontrasepsi buatan seperti kondom dan spiral itu dilarang?

Ketika, ?Ah, kan tidak ada dalam kitab!? jawabannya adalah, ?Tidak tahukah kalian bahwa para pengajar Gereja terus-menerus mengembangkan pengajaran yang peka jaman berdasarkan dari Injil Tuhan?

Hal terkait kontrasepsi, sebagai contoh, ada dalam ensiklik Paus Yohanes Paulus II dengan judul Evangelium Vitae yang dikeluarkan pada 25 Maret 1995.

Darimana aku tahu? Mencari tahu! Teknologi internet ada sebagai sarana tak hanya untuk mencari hal-hal duniawi saja tapi juga harus dioptimalkan untuk mencari pemberitaan Injil Kerajaan Allah.

Tidak tahu akan sesuatu hal bukan berarti bahwa hal itu tidak ada. Tidak tertulis dalam Injil bukan berarti hal tersebut tidak tertulis dalam dokumen Gereja. Ketika ada tertulis? Maka ia harus dibaca supaya kita mengerti!

Sehingga selain rasa ingin tahu dan daya untuk mencari, kita juga harus membekali diri dengan kemauan untuk membaca dan mengerti Sabda Allah.

Sabda Allah dan kemalasan kita dalam membaca

Soal yang terakhir ini aku lagi-lagi mau curhat. Sejak beberapa waktu lalu sebenarnya aku sebel dengan perilaku sebagian orang terkait dengan tulisan-tulisanku. Ketika men-share tulisan, aku memang tak pernah menulis seluruh tulisan di social media. Biasanya aku hanya menampilkan ringkasan yang memancing orang untuk meng-klik tautan aslinya.

Tapi yang terjadi kebanyakan, orang tak meng-klik tautan, hanya membaca ringkasan dan pancingan lalu buru-buru menulis komentar mulai dari yang sekadar, ?Amin? (padahal gak semua tulisanku layak di-amin-i hahaha) hingga komentar panjang-lebar yang salah arah.

Aku tak meminta semua orang untuk membaca tulisanku toh tulisanku belum pasti adalah Sabda Allah, hanya renungan seorang biasa. Tapi setidaknya ketika tidak ingin membaca, masih ada banyak hal yang lebih bermanfaat ketimbang berkomentar hal yang salah!

Sydney, 31 Januari 2020

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.