OK, kita cerita yang ringan-ringan saja kali ini.
Beberapa waktu lalu aku iseng jalan-jalan ke mall. Ketika mampir ke sebuah jaringan retail store yang lumayan berkelas di Australia, aku menemukan kaos polos merah menyala yang menarik perhatianku.?Kualitasnya OK dan ketika kulongok, harganya telah diturunkan dari 15 menjadi 10 dollar, “Lumayan!” gumamku.
Kukatakan ?lumayan? karena harga kaos oblong polos di sini rata-rata berkisar antara 5 dollar (untuk mutu paling rendah, kalau dipakai agak gatal karena kulitku tak terlalu cocok) hingga sekitar 80-an dollar.
Setelah kucoba dan semuanya pas, aku memutuskan untuk membelinya dan membawa kaos itu ke kasir dan betapa terkejutnya aku ketika tahu harganya tak lagi 10$ tapi sudah kena diskon lagi menjadi 2.5$!
Bayangkan!!!! Sementara harga secangkir kopi yang biasa kunikmati setiap pagi pun harus kulego dengan uang 3.5$ !!!
Tapi meski demikian, hati yang bersuka tak lantas kuimbangi dengan otak yang menyerah begitu saja. Aku terangsang untuk berpikir, bagaimana mungkin kaos itu bisa kudapatkan semurah itu?
Dan berikut adalah kesimpulanku.
Kemungkinan terbesar, pihak manajemen toko telah menyimpan kaos itu terlalu lama. Pada suatu waktu ia lantas menurunkan harga menjadi 10$ dari yang semula 15$.
Karena tak kunjung laku juga, ia lantas mendiskonnya hingga 75% dari harga 10 dollar sehingga jadilah ia 2.5$ murahnya!
Pertanyaan kedua, kalau demikian lalu berapa harga asli sebenarnya dan berapa pula ongkos produksinya?
“…siapa yang mau rugi di jaman ini?”
Mungkinkah toko itu memutuskan menjual rugi??Tapi siapa yang mau rugi di jaman ini?
Memang ada beberapa kali kulihat ada toko yang memutuskan menjual barang di bawah harga kulakannya, tapi mungkinkah kita tahu berapa sebenarnya harga kulakannya atau percaya 100% bahwa memang toko mau menjual rugi?
Oh ya, bicara soal ongkos produksi, mari kita menyimpang dari urusan kaos, aku ada cerita yang semoga menarik.
Beberapa waktu lalu di siaran televisi Indonesia yang kupantau lewat jaringan parabola, seorang petinggi jasa penerbangan ‘murah’ diwawancarai oleh pembawa acara, begini kira-kira pertanyaannya,?“Kenapa bapak menjual tiket pesawat dengan harga sangat murah?”
Lalu begini jawabnya, “Kami sudah berhitung dan ternyata ongkos produksi bisa kita tekan sangat murah. Nah kalau bisa kita jual murah kenapa harus kita jual mahal?”
Jawaban itu bagiku sangatlah, ?Wow!?
Berarti, kalau benar apa katanya, ada sebegitu besar gap antara harga jual ke konsumen dengan harga produksi, kan?
Selain itu, petinggi tadi kupikir juga adalah orang yang sangat pintar karena ia masih bisa menjual murah harga yang orang pikir sudah terlalu murah.
Imbas dari interview itu barangkali membuat orang berpikir, ?Wah, baik benar orang ini karena mengambil untung sedikit!? Tapi mungkinkah? Benarkah?
aku memilih tak percaya dengan alasan, kalau ia mengambil untung sedikit, perusahaan yang ia pimpin tak kan jadi sebesar itu!
Kalau aku memilih tak percaya dengan alasan, kalau ia mengambil untung sedikit, perusahaan yang ia pimpin tak kan jadi sebesar itu!
Maka sampailah aku pada kesimpulan bahwa petinggi tadi sangat pandai karena bisa bermain keuntungan di harga yang menurut orang-orang sudah tergolong sangat rendah dan menekan ongkos produksi hingga lebih rendah lagi dari biasanya!
Hebat kan?
So, mari kita kembali ke topik.
Dari kedua hal, kaos dan pesawat tadi, aku berpikir keras, atas dasar apa para pedagang itu menjual dan bermain harga?
Aku bukan orang ekonomi dan tak tertarik untuk mempelajarinya hanya karena perkara kecil yang mengusik pikiranku ini. Dan kubiarkan pertanyaan di atas sebagai pertanyaan terbuka, syukur-syukur kalian yang lebih ngerti soal beginian bisa bantu jawab di kolom komentar.
Selanjutnya, aku malah membayangkan, kalau seandainya suatu hari kamu pergi ke sebuah pasar swalayan dan tiba-tiba pihak manajemen mendatangi Anda dan bilang, “Kami ingin memberi semua produk di sini secara cuma-cuma kepada Bapak?”
Kuyakin kalian justru akan bertanya-tanya kenapa dan ada apa kok tiba-tiba mereka begitu baik seperti itu?
Dan ketika kalian belum sempat menjawab, ia justru melanjutkan, “Bapak pasti bertanya-tanya ya… Ah, tak mengapa.. Kami berpikir demikian karena ternyata setelah dipikir-pikir untuk apa kami menjual jika kami mampu memberikan ini secara cuma-cuma untuk bapak?”
Percaya deh, impresi pertama di detik pertama dalam diri kalian adalah, “Wah, kenapa gratis? Jangan-jangan…”
Nah! Kenapa demikian? Karena kita terbiasa membayar untuk mendapatkan sesuatu.
Di tingkat yang lebih tinggi, mereka yang berpenghasilan tinggi dan biasa belanja yang ?mewah-mewah nan mahal-mahal? itu pun, karena terbiasa membayar segala sesuatunya dengan harga mahal, ketika ditawari sesuatu yang murah, komentarnya akan setipikal, ?Ah, kenapa murah? Jangan-jangan palsu? Jangan-jangan kadaluwarsa?!?
Ya nggak sih? Jadi, mulailah berhitung pada semua yang kamu pakai dan kamu makan dan kamu beli, berapa harga sesungguhnya mereka itu dan kenapa kamu harus membayar semahal itu?

Tinggalkan Balasan