Hanya anak Pak RT…

4 Sep 2017 | Kabar Baik

“Bukankah Ia ini anak Yusuf?”
(Lukas 4:22)

Kenapa Yesus tak dihargai di tempat sendiri? Karena orang-orang di kampungNya hanya memandang Yesus dari satu sudut pandang bahwa Ia adalah anak Yusuf dan Maria, tak lebih dan tak bisa dianggap lebih!

Pernahkah kamu merasakan hal seperti ini? Aku pernah…

Sekitar pertengahan tahun 2005, kalau tak salah, alm Papaku adalah ketua RT di kampung dan ia ingin aku memberikan sedikit pengantar tentang apa itu website, bidang yang kugeluti, bagi penduduk sekitar karena waktu itu orang-orang mulai mengenal internet meski masih sedikit yang mengaksesnya secara rutin.

Tanggal dan tempat kita sepakati. Tak kusangka yang datang lumayan banyak juga dan aku mulai menjelaskan apa itu website.

Tapi suasana jadi agak tak kondusif ketika seorang tua yang kupanggil ‘Pakdhe’ mulai melemparkan joke-joke yang tak relevan dengan materi yang semula kuanggap hanya lelucon yang menghidupkan suasana. Suasana memang jadi hangat tapi tak lama kemudian makin banyak yang ngomong sendiri, keluar masuk ruangan hingga akhirnya keluar dan tak kembali.

Sebagai manusia normal tentu hal itu membuatku bad mood meski sesungguhnya telah kuprediksikan ada dan terjadi. Kenapa? Ya itu tadi, setinggi-tingginya ilmu yang kudapat dan kurapktekkan, sejauh dan sebesar apapun pengakuan ‘di luar’, bagi mereka, aku hanyalah anak Pak RT yang waktu masih kecil, mereka lah yang ikut ‘ngemong’ lalu ngapain sekarang gantian mereka yang harus mendengarkan anak ingusan ini berbicara? Siapalah aku ini?

Di waktu kemudian, dalam topik yang lain, papaku mengundang pembicara lain yang usianya bahkan lebih muda daripadaku tapi berasal dari daerah lain. Iseng aku bertanya pada Papa, “Apa orang-orang itu ya tetap ngobrol sendiri seperti waktu aku ngasih materi, Pa?” Ia menjawab, “Enggak tuh! Heran ya? Padahal topiknya ya tak beda jauh dari yang kamu bawakan dulu!”

So buat kalian yang merasakan hal yang sama dengan apa yang dirasakan Yesus, tak dihargai di kampung sendiri, jangan berkecil hati. Persoalannya bukan lagi antara kita dengan mereka tapi kita dengan Tuhan dan mereka dengan Tuhan.

Sydney, 4 September 2017

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.