
Harus kuakui, saat-saat ini aku sedang keranjingan menggunakan hand sanitizer.
Kalian tahu apa hand sanitizer? Itu lho, gel pembersih tangan tanpa harus cuci tangan (menggunakan air) yang sekarang marak dipasarkan dalam berbagai macam kemasan mulai dari tabung kecil hingga botol besar lengkap dengan ‘pompa’ untuk mengeluarkan gel hanya dengan sekali pencet.
Dan ini sesungguhnya hal yang aneh mengingat dulu, sejak mulai banyak teman-teman menawariku menggunakannya aku cuek saja, bukannya tak percaya akan keampuhannya, tapi lebih ke alasan praktis, “ngapain sih? emang harus?”
Namun pada kenyataannya sekarang berbalik 180 derajat. Kamu bisa bayangkan, dalam sehari lebih dari sepuluh kali aku mengoleskan gel itu ke tangan lalu mengusapkannya ke seluruh permukaan telapak tangan, sela jari, dan punggung tangan. Kuambil secara acak saja ya, aku biasa memakainya sesaat sebelum sarapan, sebelum makan siang dan dinner, sebelum memegang komputer, setelah bermain gitar, setelah memegang panel pintu, setelah turun dan naik bus/kereta, setelah kencing dan buang air besar, dan masih banyak lagi… Pokoknya, aku merasa belum mantap kalau belum menggunakan hand sanitizer.
Lalu kenapa aku bisa menjadi sedemikian ‘tergantung’ pada hand sanitizer?
Ada tiga hal penyebab yang saling berhubungan. Yang pertama adalah berita menakutkan tentang penyebaran virus H1N1 yang mengglobal belum lama ini, lalu yang kedua adalah di suatu ruang publik aku pernah membaca pengumuman bahwa ‘cuci tangan’ itu tak tertandingi bahkan oleh vaksin apapun dalam menghalau flu, dan yang ketiga adalah maraknya kampanye global warming yang salah satu titik beratnya adalah pada penghematan penggunaan air.. *tapi lucunya, bahkan sebelum ada kampanye itu aku bukanlah orang yang terbilang rajin mencuci tangan menggunakan air :)*
Yang jadi persoalan sekarang adalah, sebenarnya efektifkah hand sanitizer itu?
Apakah iklan-iklan yang menyebutkan bahwa kemampuannya dalam menghalau bakteri di tangan bisa maksimum hingga 99 persen itu adalah benar atau sekadar jualan iklan seperti layaknya jualan kecap yang selalu nomer satu?
Menurut Regina Bailey, di About.Com, hand sanitizer bekerja dengan cara mengikis lapisan terluar minyak yang ada di kulit. Pada lapisan inilah biasanya kuman-kuman yang ada di tangan bersarang. Namun sayangnya, bakteri yang ada di lapisan tersebut bukanlah bakteri yang bisa membuat kita sakit.
Seorang ahli lain, Barbara Almanza, associate professor di Purdue University Amerika Serikat mengungkapkan dalam penelitiannya bahwa hand sanitizer tidak mengurangi jumlah bakteri yang ada di tangan secara signifikan dan justru pada beberapa kasus meningkatkan bakteri di tangan. Ia juga menambahkan bahwa untuk membersihkan tangan secara tuntas, air dan sabun tetap harus digunakan karena hand sanitizer tidak bisa dan tidak seharusnya menggantikan air dan sabun.
Kamu kaget? Tak menyangka betapa ternyata ada pandangan-pandangan seperti itu?
Tapi apakah omongan dua pakar itu serta merta akan mengurangi bahkan menghentikan kebiasaan kita (dan aku) dalam menggunakan hand sanitizer?
Belajar dari yang sudah-sudah, hasil penelitian seperti ini biasanya tak terlalu mempengaruhi animo masyarakat untuk menggunakan produk seperti halnya hand sanitizer ini.?Bagiku, perkaranya sudah tidak ada di domain kesehatan lagi tapi sudah menyentuh level sugesti. Sugesti yang terasah meski lambat tapi pasti ke otak, menstimulasi kita untuk selalu mengoleskan gel ke tangan lalu menggosok-gosokkanya segera sesudah kita ‘merasa’ kotor meski ternyata ada pandangan yang menyebut betapa ia tak terbukti efektif sefektif iklannya.
Sugesti yang tergolong ‘baru’ ini pada akhirnya juga bergabung semakin melengkapi betapa banyak sugesti-sugesti yang entah benar atau salah keberadaannya tapi terlanjur ‘enak’ dan ‘melegakan’ untuk kita lakukan. Seperti misalnya sugesti bahwa jika belum ke dokter (dan disuntik) maka sakit kita belum sembuh, jika belum makan gudeg (di Wijilan) belum dianggap ke Jogja, jika belum makan nasi belum kenyang…
Jadi, selamat menikmati sugesti!
Aku tak perlu lagi menulis panjang-panjang karena semuanya sudah gamblang, tak kan mampu mempengaruhi pandangan/sugesti kita dan… hey kamu tau nggak, semakin hari aku semakin tak terlalu nyaman mengetik berlama-lama karena berpikir berapa banyak bakteri yang kubiarkan meloncat dari papan keyboard ke tanganku selama menuliskan semua ini?
Saatnya mengoleskan hand sanitizer lagi ah.. “Crot!”
Tinggalkan Balasan