Hamba Tuhan atau Anak Tuhan?

13 Nov 2018 | Kabar Baik

Manakah identitas yang paling tepat bagi kita sebagai umat Kristiani? Anak atau hamba Tuhan?

Paulus dalam suratnya kepada umat di Galatia mengatakan bahwa kita ini bukan lagi hamba melainkan anak Allah. (lih. Galatia 4:7) dan mari kita syukuri kenyataan ini bahwa kita bukan lagi hamba melainkan anak.

Tapi apa dan seperti apa hakikat anak dalam kaitannya dengan Tuhan?

Waktu kecil, kedua orang tuaku diberi rejeki yang lebih dari cukup sehingga mereka bisa mempekerjakan pembantu. Dalam interaksi keseharian dengan pembantu, aku bisa melihat bagaimana semangat dan komitmen mereka untuk bekerja. Bangun lebih pagi, tidur lebih malam demi pekerjaan karena memang ia dibayar untuk bekerja.

Sementara aku? Sebagai anak, justru merasa diuntungkan dengan adanya pembantu, adanya cuma ongkang-ongkang kaki dan asal perintah ini serta itu! ?Lagian kenapa? Nggak masalah kan! Mama dan Papa tetap sayang ke aku meski nggak ngapa-ngapain kok!? begitu kilahku dulu.

Di sisi lain, kawanku yang orang tuanya tak berkecukupan maka tak berpembantu. Sepulang sekolah ia harus bekerja keras membanting tulang untuk membantu orang tuanya. Mengayuh sepeda mengambil pesenan tahu yang akan dijual kembali sore nanti. Mengangkut piranti yang biasa digunakan tiap sore hingga malam hari berjualan di dekat alun-alun. Dan, saat anak-anak lain sepertiku sudah pulas tertidur, kawanku tadi masih membantu orang tuanya membereskan warung untuk kembali pulang? baru sesudahnya ia bisa tidur!

Dari dua konteks di atas, mana yang lebih kamu pakai untuk membayangkan hubungan antara Anak dengan Bapa? 

Adakah Bapa di surga itu seperti orang tuaku dulu yang tetap memanjakanku meski aku nggak kerja dan nggak ngapa-ngapain? 

Adakah Bapa di surga itu seperti orang tua kawanku yang mau-nggak-mau harus meminta partisipasi anaknya untuk ikut membantu bekerja?

Lalu bagaimana dengan anak? Mana anak yang dinilai baik oleh Bapa? Anak yang sepertiku atau anak yang seperti kawanku tadi?

Terlepas dari bagaimana adanya Bapa, sikap terbaik jika ingin dianggap sebagai anakNya adalah dengan mengikuti apa yang dilakukan oleh Yesus! Kenapa? Ia adalah Anak SulungNya!

Nah, sambil berusaha meneladani Yesus, bagiku yang terbaik adalah dengan menganggap diri ini sebagai hambaNya! 

Hamba yang giat bekerja seperti pembantuku dulu dan kawanku yang kurang beruntung dan kuceritakan di atas. Hamba yang meski telah mengerjakan kewajiban-kewajibannya tapi tetap merasa tidak berguna seperti yang dikatakan Yesus hari ini dalam Lukas 17:10.

Kenapa? Karena seorang hamba memang ada untuk bekerja! Melayani dan bukannya dilayani!

Demikian renungan Kabar Baikku hari ini wahai kalian baik yang mengaku sebagai anak Tuhan maupun hamba Tuhan!

Sydney, 13 November 2018

Jangan lupa isi Survey Kabar Baik 2018. Hasil isian kalian dalam survey tersebut sangat mempengaruhi bagaimana pola tulisan dan distribusi renungan Kabar Baik ini akan berkelanjutan. Klik di sini untuk informasi selengkapnya!

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.