Hamba, Sahabat, Anak Tuhan. Siapakah kita?

14 Mei 2019 | Kabar Baik

Di mata Tuhan, siapakah kita ini? Hamba, sahabat atau Anak Tuhan? 

Dalam Kabar Baik hari ini, Yesus menyatakan bahwa kita ini bukan lagi hamba.

Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku (lih. Yohanes 15:15)

Sahabat

Jadi kita ini sahabat? Ya! Tapi lantas apa yang harus dilakukan oleh seseorang kepada sahabatnya? Mari simak lagi apa yang dikatakanNya,

Kamu adalah sahabat-Ku,jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. (lih. Yohanes 15:14)

Jadi, kalau kamu memang sahabatNya, lakukanlah apa yang jadi perintahNya.

Anak Tuhan

Bagaimana dengan Anak Tuhan? Rasul Paulus dalam suratnya kepada umat di Galatia menyatakan,

?Sekarang iman itu telah datang, karena itu kita tidak berada lagi di bawah pengawasan penuntun. Sebab?kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus.?

Jadi, mana yang benar?

Waktu sekolah dulu aku pernah berkawan dengan seorang anak pembesar negeri. Dandanannya keren, pakaian serta perlengkapannya semua branded. 

Namun ia sedikit congkak, kalau berkawan selalu pilih-pilih kalau tidak yang setara ?derajatnya? ya yang menguntungkan baginya.

Yang lebih memprihatinkan lagi, perilaku dan prestasinya tak mencerminkan bahwa ia itu anak pembesar. Tersangkut narkoba, prestasi belajarnya payah?

Sebaliknya kawanku yang lain, ia anak orang biasa cenderung tak punya. Tinggal di bantaran Kali Code, tapi prestasinya tidak pernah sesederhana dandanannya. Selalu juara kelas, rajin beribadah dan perilakunya pun santun.

Perilaku kita

Berkaca dari situ, yang bisa kita pelajari adalah mau menyebut diri sebagai hamba, sahabat atau anak Allah boleh saja karena semua sudah ditulis dalam kitab suci. Namun ada yang lebih penting dari itu semua yaitu bagaimana perilaku kita terhadapNya dan terhadap sesama.

Seorang hamba tak?kan mengecewakan tuan yang membayarnya. Seorang sahabat tak?kan menyakiti hati orang yang dicintainya. Seorang anak tak kan mengkhianati BapaNya.

Merendahkan diri

Hal lain yang juga patut kita pelajari adalah semangat untuk merendahkan diri. Jangan sampai karena status kita lantas jadi besar kepala. Untuk ini mari belajar dari pribadi Bunda Maria.

Ketika didatangi Malaikat Gabriel untuk memberitakan bahwa ia mengandung Yesus, Maria berkata, ?Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu? (lih. Lukas 1:38) Tapi dari semua hal yang lantas dilakukan Maria sebagai ibu bagi AnakNya, Maria diangkat dalam kemuliaan.

Mari semakin bertekun dalam iman!?
Adalah sebuah kebanggaan untuk bisa menjadi hamba sahabat maupun anak-anakNya. Mari kita jaga hingga paripurna!

Sydney, 14 Mei 2019

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.