Gugus Sepuluh – Film-film terbaik 2016

16 Des 2016 | Gugus Sepuluh

Ini adalah salah satu dari rangkaian catatan akhir tahun 2016 yang kuberi nama Gugus Sepuluh.
Semacam kaleidoskop kalau jaman TVRI dulu. Aku menyusunnya berdasarkan hal-hal yang menurutku menarik (untuk diriku sendiri) dengan menguguskannya per-sepuluh atau yang di media lain biasa dikenal sebagai ?top sepuluh? atau ?top ten?. Selamat menikmati!

#10 Jobs

Sebagai apple fan boy, aku merasa bersyukur menonton film ini. Secara cerita banyak yang dilompat-lompati karena aku membandingkan dengan buku biografi yang kubaca dan beberapa film dokumentasi tentang Steve yang kutonton. Tapi secara sinematografi, film ini seolah menjadi bungkus indah terhadap pribadi seorang yang menurutku sudah berada di level ‘nabi’ teknologi, Steve Jobs!

#9 Stairway to Heaven

Sebenarnya aku suka bukan saja karena keindahan Hearts menyanyikan lagu ini. Yang paling kusuka ada pada komposisi emosi yang terjadi pada diri para personil Led Zeppelin yang berkumpul di situ untuk menerima penghargaan di Kennedy Center Honors di depan Presiden Obama. Bagaimana mata mereka berkaca-kaca menyaksikan karyanya diinterpretasikan secara apik. Belum lagi bagaimana si Jason Bonham yang adalah anak drummer Led Zeppelin yang meninggal, John Bonham (Bonzo) memainkan drum di lagu itu.

Suasana campur-aduk.

#8 Vlog pertama

Tahun ini aku mencoba membuat vlog series dan ini adalah vlog pertama. Sesudahnya ada beberapa lagi tapi karena untuk mengedit dan mempublikasikan sebuah vlog itu perlu waktu dan tenaga, aku tak tahu apakah aku masih berminat untuk melanjutkan proyek ini atau tidak.

#7 PPAP

Ini semacam “Opa Gangnam Style” kedua tapi nggak berhasil menyaingi popularitasnya. Idenya cukup orisinil, mendobrak trend dengan sesuatu yang janggal baik dari penampilan, melodi, hingga lirik lagu. Berulang-ulang seperti doa, seperti litani menempel di ingatan tak mau pergi…

#6 DBBC Space

Hehehe, clip ini bersejarah. Seharusnya clip ini dimunculkan pada sebuah acara awal tahun ini tapi ternyata batal dengan alasan yang aku tak pernah tahu (dan pada akhirnya tak mau tahu). Niatku padahal baik, mengumpulkan kawan-kawan blogger yang juga alumni SMA Kolese De Britto untuk berkumpul dalam De Britto Blogger Club. Gayung bersambut setelah beberapa rekan bergabung bahkan sempat bikin lomba menulis dan menghasilkan pemenang… sayang, ada yang tiba-tiba nendang gayung yang sudah disambut itu hingga airnya nyiprat kemana-mana. Konon efek dari ketidakmunculan video ini di acara tersebut pun juga bener-bener nyiprat kemana-mana. Sorry, i can’t handle it. It wasn’t my fault :)

#5 World War II In HD Colour (Netflix)

Ini film yang ‘gila’ beneran. Bayangpun…eh bayangkan, dokumentasi perang dunia kedua berusia lebih dari separuh abad yang hitam putih jadi berwarna dengan kualitas high definition pula! Nonton episode demi episode di film ini seperti tak terasa bahwa yang kita tonton itu bukan film fiksi melainkan kejadian yang sesungguhnya.

#4 Abbey Road Side 2 Medley

Kalau Beatles tak bubar, mungkin penghargaan di Kennedy Center Honors itu bukan milik Paul McCartney seorang melainkan milik rekan-rekan lainnya. Aku suka dengan cara Steve Tyler (Aerosmith) mengintepretasi lagu-lagu yang ada di side B (dulu kan kaset) album Abbey Road dibawakan secara medley lalu di bagian terakhir ‘The End’, Paul ikut bernyanyi

“And in the end
The love you take
Is equal to the love you make.”

#3 DOES

Hampir semua clip di kanal DOES, Diary of Erix Soekamti, di Youtube kutonton tapi tak ada yang lebih menyenangkan dari yang ini. Kenapa? Namaku disebut, tayanganku diunggah dan aku hadir bukan hanya sebagai seorang fans dari Endank Soekamti, tapi lebih sebagai narasumber yang memberi opini terhadap Erix dengan DOES-nya. Yang lebih spesial lagi, tayangan ini adalah tayangan ulang tahun DOES yang pertama.

Suwun, Rix! Sesama coklat (cowok klaten) memang harus saling dukung dan bantu-membantu hahahaha!

#2 Black Mirror (Netflix)

Film ini benar-benar jadi cermin gelap. Semua episode di film ini bicara tentang bagaimana kita ini gagap, canggung, grogi lalu akhirnya banyak yang gagal menghadapi modernisasi teknologi, social media dan lain-lain yang kita sembah-sembah selama ini. Aku banyak sekali bercermin dari film ini dan saat tulisan ini kutulis, aku sedang menyelesaikan keseluruhan episodenya. Aku sudah berniat untuk menjadikan film ini sebagai sebuah ‘retret’ tempatku berefleksi di akhir tahun ini. Semoga segera kutulis hasil permenunganku.

#1 Narcos (Netflix)

Film ini sebenarnya bukan tentang Pablo Escobar saja meski dua seasons pertamanya memang tentang orang yang mendirikan kartel Medellin di Kolombia itu. Narcos bicara pada level yang lebih luas lagi yaitu bagaimana narkotika/narcos dijadikan sebagai bahan komoditi ekspor yang membuat para pelaku bisnisnya menjadi orang-orang kaya bahkan Pablo sempat tercatat sebagai orang terkaya nomer enam di dunia karena bisnis haram itu.

Hal yang membuat aku jadi amat intens dan sangat suka pada film ini karena saat aku nonton di episode-episode awal, mantan kawan kerjaku dulu, Fernando, yang berasal dari Kolombia dan dari kota yang sama juga dengan Pablo, Medellin, meninggal dunia dan sempat jadi bahan ‘pergunjingan’ di mainstream media di Australia sini.

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.