Gia

7 Apr 2017 | Cetusan

Gia, kamu dinamai Gia mungkin karena Kakakmu diberi nama Geo. Kalau kakakmu Deo, bisa jadi namamu Dia. Tapi mau Gia, Dia, Tia, Zia atau apapun itu, kamu adalah keponakanku langsung kedua yang membuat khazanah pemanggilan atas diriku tak lagi hanya Mas, Papa, Om tapi Pakdhe karena kamu dan kakakmu Geo memanggilku demikian.

Gia, aku menuliskan ini karena Mamamu memintaku supaya tujuh hari setelah kelahiranmu aku membuat satu tulisan tentangmu dan kok ya bisa kebetulan hari ini adalah tepat peringatan enam tahun meninggalnya Papaku yang juga adalah Eyang Kakungmu yang tak pernah kamu temui di dunia ini.

Gia

Gia

Menuliskanmu, aku harus mengingat bagaimana Mamamu lahir dulu, Gia!

Kalau waktu Mamamu lahir dulu aku sudah ngeblog, bisa jadi aku juga akan membuat tulisan tentangnya dan barangkali paragraf pembuka bakalan begini, “Akhirnya! Setelah tujuh tahun merasakan hidup mewah menjadi anak tunggal, adikku lahir juga! Aku harus bagaimana? Sedih atau senang? Biasa atau bangga?”

Tapi untunglah waktu itu aku tak punya pilihan untuk ngeblog karena usiaku juga masih tujuh tahun, masih kelas satu SD yang pada sebuah siang sepulang sekolah, Papaku menjemputku di muka sekolah lalu bilang kepadaku keras-keras, “Le, adimu wes lair, Le!” lantas aku diboncengkannya di atas Astrea 800 kebanggaannya yang kuingat baru dibelinya beberapa bulan sebelumnya seharga 1.25 juta rupiah dan aku lupa apakah saat itu sudah lunas terbayar atau masih nyicil utang.

Sesampainya di rumah sakit bersalin, Mamaku yang adalah Eyang Putrimu yang sayangnya juga tak akan kamu temui di dunia ini karena sudah tiada tepat setahun lebih sebulan yang lalu masih kepleh-kepleh karena lemas melahirkan Mamamu.

Aku mendekat kepadanya lalu bertanya, “Adikku mana, Ma?”?Eyang Slamet yang adalah ibu dari Papaku yang berarti eyang buyutmu dan sekarang masih hidup dalam usia senja di Blitar sana (Buruan gede, Gia lalu minta Mama dan Papa serta kakakmu supaya ngantar ke Blitar dan sungkem kepadanya) mengantarku ke ruang bayi dan di sana untuk pertama kalinya aku menatap wajah orang yang hanya satu-satunya orang yang diijinkan Tuhan untuk pernah menghuni rahim yang sama denganku, Chitra Betsy Verdiana, ya Mamamu, ya adikku.

Lalu selebihnya kami berbagi hidup, bertumbuh dan berkembang dalam keluarga yang memang tak terlalu makmur dalam takaran uang, tapi kami sejatinya kaya karena kami tak pernah takut untuk kehilangan uang dan tak juga gagap dan tak nggragas ketika suatu waktu Tuhan memberi rejeki agak berlebih banyaknya.

Gia, sejujurnya aku belum punya bayangan akan seperti apa nanti pertemuanku denganmu dan bagaimana pula kamu akan bersikap kepadaku.

Tapi membayangkan seorang keponakan yang bertemu dengan Pakdhenya yang tinggal nun jauh di negeri seberang, ingatan ini membawaku pada kejadian masa kecilku dulu ketika Eyang Basuki Astar datang berkunjung ke Klaten, ke rumah yang kamu tinggali sekarang.

gia

Geo dan Gia

Waktu itu usiaku belum sampai sepuluh dan Eyang Basuki Astar adalah adik dari Eyang Pranyoto, ibunya Mamaku yang juga adalah eyang buyutmu yang kini serumah denganmu menikmati masa senjanya.

Eyang Basuki Astar dulu bekerja sebagai pejabat kedutaan Indonesia di negara-negara yang waktu itu hanya bisa kukenal kalau nggak dari siaran Dunia Dalam Berita TVRI atau dari perangko-perangko yang kukoleksi.

Setiap kali beliau pulang ke Klaten untuk menengok Ibunya yang adalah eyang buyutku dan juga eyang canggahmu (maaf Gia kalau tulisan ini begitu banyak referensinya tapi sebagai keluarga Jawa kita memang harus mengingat-ingat leluhur kita!) aku selalu excited untuk bertanya banyak hal tentang luar negeri.

Aku banyak bertanya tentang bagaimana situasi kota Paris itu karena beliau dulu pernah tinggal beberapa tahun di sana. Aku juga menanyakan bagaimana makanan yang ada di Mexico City karena dia juga pernah ditugaskan di sana. Sekali waktu pernah juga aku dengan agak takut-takut bertanya dan berbisik Moskow itu seperti apa karena beliau pernah bekerja di kedutaan Indonesia di ibukota negara yang dulunya identik dengan pusat komunisme dunia itu.

Tak hanya bertanya, aku juga sering memperhatikan caranya berpakaian yang berbeda dari Lik Kendar atau Pak Giyo di belakang rumah yang seusia dengannya. Eyang Basuki Astar itu tampil elegan nan unik. Mengenakan kaos polo polos, celana katun dan sepatu olahraga yang merknya belum pernah kulihat sebelumnya.

Caranya bertutur juga menggunakan intonasi yang berbeda, Gia, tak seperti kebanyakan tapi mirip dengan cara orang-orang bule bertutur dalam film meski bahasanya ya tetap Bahasa Indonesia. Ketika makan, kuperhatikan beliau juga jarang menggunakan sendok dan hanya memanfaatkan garpu untuk mengangkat gugus-gugus nasi dan lauk ke dalam mulutnya.

Lalu ketika hendak pulang ke negara tempatnya bertugas, aku bertanya seberapa jauh perjalanan, naik pesawat itu rasanya seperti apa, diberi makan atau harus bawa makanan sendiri dan banyak lainnya. Kemudian ia pergi ditelan senja setelah mencium tangan Ibunya dan memeluk erat Kakak perempuan, keponakan dan cucu keponakannya yaitu aku.

Biasanya sebulan kemudian Eyang Basuki Astar mengirim kabar lewat surat dan di bagian bawah tulisan, ia mengatakan bahwa perangko dari surat itu tolong diberikan kepadaku supaya dikoleksi.

Girangku bukan kepalang, Gia!
Kuambil amplopnya, kupisahkan pelan-pelan perangko dari amplopnya lalu kumasukkan ke dalam album perangko dan kusimpan rapat-rapat supaya tak rusak dan ketika aku memandangnya, aku mengingat Eyang Basuki Astar yang melanglang buana hingga ke negeri manca!

Gia, aku tak tahu bagaimana nanti kita akan bertemu. Tapi yang kubayangkan ketika kamu beranjak besar nanti dan bertemu denganku, interaksinya barangkali akan sama denganku dan Eyang Basuki Astar yang kuceritakan di atas.

Gia, aku juga tak tahu kapan kita akan bertemu, tapi sebisaku akan kuusahakan secepat-cepatnya untuk datang ke Klaten untuk ngudang dan menggendongmu, juga Geo, kakakmu dan bercengkrama dengan Papa dan Mamamu serta Eyang buyutmu tentu saja.

Cepatlah bertumbuh tapi jangan buru-buru besar, Gia! Nikmati saja setiap jengkal masamu karena tak ada satupun dari masa itu yang akan pernah kembali di masa yang akan datang, sepanjang dan selama apapun hidupmu digariskan.

Salam hangat dari negeri yang mulai mendingin ini. Doa dan kecupku selalu ada di keningmu!

Pakdhe DV, Superblogger Indonesia!

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.