Gereja baru

30 Mar 2016 | Cetusan

Merayakan perayaan ekaristi di gereja yang baru pertama kali dikunjungi di Australia itu menyenangkan.

Sering jika sedang melancong, terutama di hari libur seperti long weekend, easter break maupun christmas break, aku sekeluarga memanfaatkannya untuk pergi ke tempat-tempat yang belum pernah kukunjungi.

Sebagai orang katolik yang mencoba hidup taat, salah satu kriteria tempat berlibur untukku dan keluarga kunjungi adalah semudah apa akses dari tempat penginapan menuju ke gereja Katolik terdekat!

Untuk tempat-tempat tujuan wisata yang terkenal, gereja Katolik tentu mudah ditemukan. Tapi karena aku dan keluarga lebih menyukai ke tempat-tempat wisata yang sepi dan jauh dari kesan ?mainstream?, hal ini kadang jadi perkara.

Ada tempat wisata yang kukunjungi punya akses ke gereja katolik yang cukup jauh. Ada pula yang dekat tapi setelah kita check melalui website, jadwal perayaannya tidak ada pada hari itu karena digabungkan dengan gereja katolik di kota lain.

Lalu, kenapa kubilang menyenangkan seperti kutulis di atas barusan?

Interaksi

Datang ke gereja yang baru pertama kali didatangi memberiku kesempatan untuk menyaksikan interaksi.

Interaksi apa dengan siapa??Macam-macam.

Yang pertama adalah interaksi umat lokal dengan pastor. Ini menarik. Melihat bagaimana mereka menyapa sang pastor dan mengamati bagaimana sang pastor bisa mengenal satu per satu dari mereka.

?Bagaimana ibumu? Sudah sembuh??
Atau, ?Oh kamu tidak berlibur ke tempat lain??

Meski sederhana, tapi aku adalah pengamat sekaligus penikmat hubungan-hubungan manusia seperti itu.

Interaksi umat lokal ke visitor/pendatang sepertiku juga tak kalah menariknya.

Seperti kubilang di atas, karena yang kukunjungi adalah tempat-tempat wisata yang tidak mainstream, kebanyakan ada di pelosok Australia. Kedatangan kami biasanya mencolok karena selain kami Asia juga tentu karena kami tak pernah mereka lihat sebelumnya.

Aku sering dan senang mengamati mereka yang malu-malu menyapa. Ada yang cuma senyum, ada yang menyapa ?Hi, how are you?? Meski ada sesekali yang kaget lalu melempar muka entah apa alasannya.

Sehabis misa mereka biasanya mendekat kepada kami, menanyakan kami dari mana, rencana stay di sana berapa lama dan biasanya diakhir dengan, ?Anak keduaku tinggal di Sydney juga? dia kerja ini, tinggal di sini?? yang mengingatkanku pada interaksi yang kerap kutemukan ketika aku berada di pelosok Indonesia dan mereka bertanya, ?Oh dari Jogja? Dulu Bapak kuliah di sana juga? Ngekost di daerah Samirono. Barangkali adik sering main ke Samirono? Kenal dengan Bapak Budi? Nah itu bapak kost saya!??Menarik!

Interaksi pastor ke visitor juga seru meski biasanya ini cenderung singkat karena namanya juga pastor, setelah perayaan ada saja orang yang datang untuk sekadar mengobrol, menyalami atau sekadar meminta berkat atas kalung rosario yang baru dibeli misalnya.

Tapi kebanyakan pastor yang kutemui setelah bertanya berasal dari mana, pertanyaan selanjutnya negara asal dari mana.

?Oh, Indonesia? Ada beberapa pastor dan seminarian (orang-orang yang sekolah untuk menjadi pastor di seminari) yang berasal dari Indonesia yang kukenal waktu aku kuliah di Melbourne?? Ya, orang-orang Indonesia yang dulu didatangi pastor-pastor bule belanda, kini telah bisa sedikit banyak ?bicara? di kancah internasional sebagai exportir pastor juga. Gimana nggak bangga coba?

 

Bentuk bangunan

Bentuk bangunan gereja biasanya juga jadi bahan observasiku yang kerap kuakhiri dengan mengeluarkan handphone lalu menjepret bangunannya.

Kebanyakan sebenarnya memiliki arsitektur standard. Ujung atap lancip ke atas, tembok dari batu, batu-bata, maupun kayu dan lantai kalau nggak dari kayu, lantai keramik atau lantai yang ditutup dengan karpet bulu.

Lalu kursi kayu, dan altar yang ditutup kain putih serta tak lupa salib dan banyak ornamen orang-orang suci lainnya.

Tapi ada satu pengalaman menarik adalah gereja yang sangat sederhana yang kami kunjungi saat berwisata ke Kangaroo Valley, sebuah kawasan wisata di selatan Sydney yang cukup sepi dan kami datangi di akhir tahun 2011 silam.

Bentuk bangunannya benar-benar seperti rumah kecil, kursi kayu yang reyot, altar yang sangat sederhana dan hiasan altar yang tak glamour. Foto para suci yang dibingkai kecil yang tak nampak meski sudah memicingkan mata untuk melihatnya.

 

Jumlah Umat

Meski banyak orang bilang Australia adalah negara kristen, kenyataannya, umat yang datang memenuhi gereja tidaklah mampu untuk benar-benar membuat gedung sesak tak bersisa ruang.

Pemandangan gereja yang sepi dengan umat yang segelintir adalah pemandangan jamak yang terjadi saban perayaan diadakan.

Benar memang, pada perayaan-perayaan tertentu seperti Paskah dan Natal, jumlah umat lebih banyak tapi di tempat-tempat wisata yang kudatangi, jumlahnya tetap relatively lebih sedikit.

Padahal kalau dipikir-pikir, meski jumlah umat lokal sudah tak terlalu banyak karena biasanya karakter kota kecil adalah, mereka yang berusia produktif akan merantau ke kota lain yang lebih besar, harusnya para visitor bisa mengganti kehadiran mereka untuk memenuhi gereja.

Tapi entah, mungkin para visitor sudah terlalu sibuk memenuhi jadwal waktu mereka yang mepet untuk berkunjung berwisata itu dan tak mau mengorbankan barang satu atau dua jam ke gereja.

Umat lokal biasanya juga adalah orang-orang tua atau mereka yang masih anak-anak ataupun remaja muda.

Di titik seperti itu kadang otakku berpikir matematis.?Bagaimana jika orang tua itu meninggal satu per satu dan anak-anak beranjak dewasa lalu pindah meninggalkan kota kecil mereka, bergabung ke kota-kota besar dengan rekan segenerasinya dan memilih tak meng-gereja seperti yang seolah menjadi trend saat ini?

Tapi di titik seperti itu, aku sekaligus tersadar bahwa perkara iman tak bisa dipecahkan dengan matematika.

Ada banyak gereja yang akhirnya tutup di Australia ini. Bangunan dijual untuk dijadikan rumah, gedung pertemuan awam atau malah ada yang dijadikan bar.

Tentu amat disayangkan terlebih mereka yang pernah bertumbuh imannya di gereja-gereja itu, tapi kalau mau berpikir positif, Tuhan tentu mengijinkan semua itu terjadi demi sesuatu yang lebih baik lagi untuk kemuliaanNya.

Jadi, yuk kalian yang ingin mencoba merasakan perayaan ekaristi di Australia. Datang dan pergilah ke tempat-tempat terpencil dan kamu bisa merasakan pengalaman yang berbeda yang semuanya semoga membuat iman kita terhadap Yesus Sang Penebus semakin kuat dan terjaga?

 

Berikut adalah beberapa foto gereja-gereja yang pernah kukunjungi hingga kini…

Gereja Box Hill, Vic

Gereja di Box Hill, Melbourne. Aku dan Joyce mengunjunginya saat melakukan kanonik sebelum menikah, 2008 silam

 

Gereja St Patrick's Cathedral Melbourne

St Patrick’s Cathedral, Melbourne. Aku mengunjungi gereja ini pada 2008 silam

 

Gereja St Patrick's Cathedral Melbourne

Ruang sisi dalam dari Gereja St Patrick’s Cathedral, Melbourne.

 

Gereja St Patrick's Cathedral Melbourne

Ya! That’s me! Delapan tahun silam :)

 

Gereja St Patrick's Cathedral Melbourne

Plakat kunjungan John Paul II saat aktif menjadi Paus.

 

Bekas Gereja di Mogo, NSW

Ketika berkunjung ke Mogo (dekat Bateman’s Bay, NSW) 2014 silam aku menemukan galeri yang awalnya adalah bangunan Gereja Katolik

 

Bekas Gereja di Mogo, NSW

Bekas Gereja katolik di Mogo, NSW.

 

Gereja Kangaroo Valley

Ini adalah gereja mungil di Kangaroo Valley. Kukunjungi pada 2011 silam

 

Gereja St Christopher's Cathedral Canberra

Gereja St Christopher’s Cathedral, Canberra, ACT. Kukunjungi pada Jumat Agung, 2016 silam

 

Gereja St Christopher's Cathedral Canberra

Lima belas menit sebelum acara. Sepi ya ?:)

 

Gereja St Christopher's Cathedral Canberra

Tahun Kerahiman Ilahi. Katedral-katedral di seluruh dunia berhias seperti ini.

 

Gereja St Christopher's Cathedral Canberra

Plakat AMDG di St Christopher’s Cathedral, Canberra.

 

Gereja di Jyndabyne, NSW

Misa Easter Vigil (Malam Paskah). Kami pendatang pertama saat gereja masih dipersiapkan oleh pastor seorang diri.
Gereja di Jyndabyne, NSW.

 

Gereja di Jyndabyne, NSW

Misa sedang berlangsung, dan umatnya ya cuma segini :))
Gereja di Jyndabyne, NSW. Malam Paskah

 

Gereja di Perisher Valley, Snowy Mountains, NSW.

Gereja yang sunyi di Perisher Valley, Snowy Mountain, NSW

 

Gereja di Perisher Valley, Snowy Mountains, NSW.

Bagian dalam kupotret dari luar. Altar yang sederhana dan jumlah kursi yang sangat sedikit.
Gereja di Perisher Valley, Snowy Mountains, NSW

 

Gereja di Perisher Valley, Snowy Mountains, NSW.

Frame kaca yang usang dan Yesus yang tergantung diam di Gereja Perisher Valley, Snowy Mountains, NSW.

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.