Genthong: Membayangkan Sultan tidak jadi gubernur?

11 Sep 2014 | Cetusan

blog_dabgenthong

Sebelum memutuskan untuk akhirnya memilih Dab Genthong, begitu panggilan CB Triyanto Hapsoro, sebagai tokoh muda Jogja dalam bidang film, ada perdebatan antaraku dengan kawan yang memang sering kujadikan kawan debat.

Kawanku tadi mengusulkan sebuah nama yang aku belum kenal tapi dia bilang, ?Bukannya kerjaan Genthong itu nggak bagus? tapi karena ini orang hasilnya lebih bagus, Bung!?

Ide itu lantas kuendapkan dulu, tak kuputuskan begitu saja.
Bagiku sayang untuk melewatkan Genthong dalam rangkaian ini karena ia baru saja merilis film berjudul Sebelum Serangan Fadjar (Dinas Kebudayaan DIY – Sanggit Citra Films, 2014) yang konon berisi koreksi/pelurusan sejarah yang sebelumnya disampaikan melalui film Janur Kuning yang dirilis pada 1980, saat Orde Baru menapaki masa emasnya.

Waktu terus bergulir lalu tiba-tiba aku teringat momen yang terjadi awal tahun ini ketika aku bertemu dengan seorang alumni De Britto yang juga tinggal di Sydney.

Ketika itu, di sudut Newtown, sebuah suburb tak jauh dari Sydney, di sebuah pub kami ngobrol ngalor-ngidul termasuk tentang kawan-kawan sesama alumni De Britto yang dulu kukenal baik secara langsung maupun lewat social media.

Nah, Genthong, karena dia termasuk salah satu alumni De Britto, kakak kelas empat tahun di atasku, pun tak luput dari pembicaraan kami ditemani beberapa botol beer yang telah tandas isinya.

?Nek Genthong kae piye? Aku durung tau ketemu?? tanyaku.
?Genthong ki bocahe lugu?.? jawabnya.

Aku tertawa. Aku belum pernah bertemu Genthong selain dari social media saja, tapi melihat ?tingkahnya? di lini masa, aku menyangsikan pendapat itu.

?Tapi dia juga idealis, cita-citanya besar untuk kemajuan film Jogja!? tambah kawanku.
Kali itu aku hanya manggut-manggut?

?Tur yo kuwiii? karena idealis dadine ra sugih-sugih…?

Aku manggut-manggut lagi.?Dan ketermanggut-manggutanku itulah yang akhirnya kukenang dan menjadi titik dimana aku akhirnya menentukan bahwa Genthong kuangkat di sini, di blog ini.

Idealisme adalah kata kunci yang membuatku penasaran. Aku belum pernah melihat karya Genthong, tapi aku yakin ada hal yang lebih menarik dari bagus tidaknya karya yang ia hasilkan yaitu proses berkarya dan ide dibalik pertanyaan, ?Kenapa aku harus berkarya??

Nggak percaya? Simak obrolannya bersamaku beberapa waktu lalu…

DV: Kamu barusan merilis film Sebelum Serangan Fadjar dan katanya itu adalah koreksi dari film Janur Kuning (1980). Kenapa harus dikoreksi?
Genthong: Jadi paska kejatuhan Orba, 1998, muncul banyak diskusi tentang SU (Serangan Umum 1 Maret 1949) yang intinya adalah pelurusan sejarah bahwa pencetus ide SU sebenarnya adalah Sri Sultan Hamengku Buwono IX (HB IX) sementara pelaksananya, Pak Harto.

Ada sebuah buku berjudul Pelurusan Sejarah SU 1 Maret 1949, di dalamnya banyak saksi menulis dan bersumpah di atas kertas bermaterai bahwa ide SU itu dari HB IX. Di dalam buku itu juga membicarakan tentang film Janur Kuning bahwa sebenarnya adegan HB IX bertemu Pak Harto sebelum SU sudah disyuting.

Pada saat sutradara Janur Kuning mempresentasikan ke HB IX, beliau setuju tapi ketika ia merepresentasikannya ke depan Pak Harto, dia bilang ?Seingat saya, saya bertemu HB IX itu paska 1 Maret.?

Nah, karena presidennya bilang gitu ya sudah, dipotonglah adegan pertemuan sebelum SU itu tadi.?Filmku hadir sebagai sebuah statemen visual, menindaklanjuti statemen-statemen tertulis yang muncul di buku dan diskusi-diskusi itu tadi?

Tapi film ini berbau politis?
Oh tidak, Dab! Secara politis sudah tidak ada lagi urgensinya kok. Film ini dibutuhkan untuk melengkapi puzzle sejarah perjuangan saja?

OK, kamu membuat film ini merasa jadi ujung tombak pihak yang merasa perlu bahwa sejarah SU ini harus diluruskan?
Ora! Film ini lahir dari keinginanku secara personal. Basicnya karena aku pengagum HB IX dan buku Tahta Untuk Rakyat. Proposal film ini kuajukan ke Dinas Kebudayaan DIY dan kebetulan klop jadi film ini menggunakan dana APBD DIT tahun 2014.

Berapa dana yang dibutuhkan untuk membuat film ini?
300 juta.

Cukup?
Tombok hahahahaha!

Durasi film 35 menit, syuting enam hari (1 – 6 Juni 2014) dan melibatkan 100 pemain serta satu kamera?
Tombok tenan!

Ada yang menarik dalam proses pembuatan film itu karena konon kamu menyempatkan diri bersama tim nyekar ke makam HB IX di Imogiri dan makam Pak Harto di Karanganyar. Kenapa kamu menganggap ini penting?
Penting karena kedua tokoh ini adalah sentral cerita dan beliau berdua adalah tokoh penting dalam sejarah. Nyekar untuk minta doa restu sekaligus wujud hormatku kepada beliau-beliau lepas dari bagaimana kontroversi Pak Harto selama jadi presiden.

Jadi film ini tidak menafikan peran Pak Harto dalam SU ya?
Tidak! Peran Pak Harto di SU itu besar. Beliau pengendali lapangan dan HB IX konseptornya sementara Pak Dirman ahli strateginya.

Film ini menggambarkan bahwa sipil dan militer bahu-membahu berjuang. Bahkan tokoh-tokoh multietknis juga ada di film ini.

Sekaligus film ini ingin bicara bahwa sejak jaman perjuangan Jogja itu sudah plural, Dab!

Sekarang soal dunia perfilman Jogja. Bagaimana perkembangannya?
Di satu sisi adanya Dana Keistimewaan DIY memberi ruang kepada film maker untuk berkarya. Melalui sie film Dinas Kebudayaan, tahun ini akan ada 15 film bertema budaya dan 15 film seri sejarah Jogja dari HB I sampai ke HB X. Di sisi ini positifnya adalah film maker Jogja ?dipaksa? belajar tentang Jogja.

Di sisi lain, teman-teman film maker yang mengambil sikap tetap bergerilya dan membuat film-film idealis juga akan difasilitasi dengan jalan diikutkan dalam festival-festival film.

Tapi dari sisi industri ?major label? tampaknya perfilman jogja tetap nol besar. Benar?
Secara industrial ya memang masih sama, Jogja dieksploitasi setting-nya saja sementara pelaku film-film masih dari Jakarta.

Itu mengapa aku bertahan di Jogja.

Oh ya? Kenapa kamu bertahan di Jogja dan tidak ke Jakarta? Kan kamu bisa jadi sutradara top di sana?
Ngene?
Pertama, salah satu misiku adalah mengangkat Jogja sebagai kota sinema.

Kedua, top atau tidak itu bukan jadi tujuan hidupku. Aku hanya ingin hidup tentram dan membesarkan anak-anakku tanpa kepikiran kondisi sosiologis dan psikologis di sekitarnya yang tidak mendukung kalau aku tinggal di Jakarta.

Ketiga, kalau semua orang film yang sudah pintar pindah ke Jakarta, yang ngurusi anak-anak muda perfilman Jogja lalu siapa?

Tapi secara ekonomi, kamu merasa perlu bertanggung jawab untuk memberikan yang terbaik bagi keluargamu, kan?
Oh, secara ekonomi memang jelas itu tanggung jawabku.
Tapi nyatanya sampai sekarang aku sehat, anak-anakku sekolah, kebutuhan primer terpenuhi. Bahwa kemudian kebutuhan-kebutuhan mewah belum terpenuhi itu lain soal hahaha?

Oh ya satu lagi, anak-anakku baik-baik saja ketika tak kubelikan playstation atau barbie yang harganya jutaan hahahaha?

Kenapa kamu cinta mati pada Jogja?
Ngene, yang bikin aku cinta Jogja itu justru dinamikanya. Peasang surut situasi politiknya dan tukang becak yang nyetel wayang dengan volume kencang di radio sambil leyeh-leyeh di perempatan dan tidak ada yang protes.

Ibu-ibu yang mengendarai motor tanpa helm karena harus bersanggul?
Tapi sekarang Jogja sudah banyak mall dan hotel serta turis yang datang membanjir saat liburan. Masih krasan juga?
Masih! Jogja itu dari sudut pandangku tak hanya dari fisik. Yang membuat Jogja itu terasa damai justru ?nyawanya? meski secara fisik ya a*%^&##@ tenan.

Menurutmu ada yang perlu diubah dari sisi pemerintahan supaya Jogja lebih baik?
Banyak! Banyak sekali yang harus dibenahi terutama mental dan sikap para birokratnya. Walaupun atribut daerah istimewa, tapi mental pejabatnya hampir sama dengan yang lain, tidak istimewa.

Harus ada pembenahan tata kota, itu juga penting serta cetak biru ke depan Jogja akan dibuat seperti apa.

Ini cuma omong di awang-awang, tapi pernah nggak kamu membayangkan Jogja tanpa dipimpin Sultan sebagai gubernur?
Lha sebenarnya menurut beberapa sesepuh, mereka lebih setuju kalau Sultan itu jadi raja saja, nggak perlu jadi gubernur. Membayangkan Sultan tidak jadi gubernur? Aku sudah lama membayangkannya hahaha?

Oh ya? Bagaimana bayanganmu itu?
Bayanganku kejadiannya akan hampir sama dengan daerah lain, bisa bagus tapi bisa juga jelek. Kalau gubernurnya semacam Jokowi dengan walikota sekelas Ridwan Kamil (Walikota Bandung) atau Bu Risma (Tri Rismaharini, Walikota Surabaya) ya bagus. Tinggal kemudian diatur lagi bagaimana memposisikan Sultan sebagai raja.

Aku pendukung keistimewaan tapi keistimewaan Jogja sebagai roh, bukan hanya status politik.

Sebarluaskan!

13 Komentar

  1. Aku seneng VC Ndherek Dewi Maria – Brian (Jikustik) garapane Genthong, marai mbrebes mili.
    Iya, Genthong memang tidak segebyar sutradara kondyang Jogja lainnya tapi karyanya Sangat Jogja. Sangat mudah mencium aroma Jogja dari garapannya.

    Balas
    • Matur nuwun kangmas. Karya sederhana ki nek digawe nganggo ati lan pikir wening bakal migunani tumraping liyan. Ati lan pikir wening bakal bertahan nek lingkungane mendukung. Mugi2 Jogja tetap istimewa. Amin

      Balas
  2. Tulisan bagus Dab @dv77
    Maksud Keistimewaan Jogja sebagai roh ki piye Dab @dabgenthong? Apa sekarang roh itu tak ada/kurang? Apakah keberadaan roh itu tergantung person, individu atau keduanya *)mendalamiInterview hehehe

    Balas
    • Roh keistimewaan Jogja itu ada pada orang2nya, bukan sekedar siapa pemimpinnya. Ketika pemimpin kurang kuat dalam ngugemi dan mengakomodir kekuatan komunal yang positif ya jadinya mlempem. Jogja itu pemimpinnya harus mampu ‘mancala putra mancala putri’. Mampu hadir mengayomi, tapi juga demokratis. Roh istimewa itu sekarang memudar karena kekuatan local wisdom digerus oleh kapitalisme yang bertameng alasan ‘menyesuaikan jamannya’. Pokmen sikap saya jelas: Pejah gesang ndherek kabudayan (dlm arti luas ya)

      Balas
      • woo tak kira pejah-gesang nderek mangayubagya-belasungkawa :D

        Sik, sik… nek saben wong mengklaim kesurupan roh keistimewaan Jogja njuk piye jal? termasuk kuwi sing kedanan mbangun mol karo hotel ben marai Jogja lebih istimewa maneh.

        Balas
        • Wakakakak….Sing mbangun mall kuwi malahan sing ngangslupi keIstimewaan….hahahaha

          Balas
  3. weleh.. koncoku seangkatan di tulis juga.. wis thong, tambah kondang..

    Balas
    • Karang Donny ki cah selo kok poed. Dapuran koyo aku we ditulis…..Hahahasuuuu

      Balas
  4. Garis besarnya masih sama
    Yang membuat Jogja itu terasa damai justru ?nyawanya? meski secara fisik ya a*%^&##@ tenan.

    Balas
  5. wah, sayang e pas film e diputer di Pelataran Tamansari, pas saya di Banyuwangi e :'(

    Balas
    • Langsung meluncur ke seksi film Dinas Kebudayaan DIY ja dab. Kantore kidul Mandala Krida kae, lantai 2. DVDne ana nang kana. Gratis.

      Balas
  6. sebagai orang yg nunut kuliah di Jogja Dan senantiasa kangen Jogja, saya setuju banget Mas masalah keistimewaan. Meskipun macet, makin banyak mall&hotel, selama masih Ada obrolan di angkringan Dan acara2 bertema budaya, buat saya Jogja masih istimewa!

    Balas
  7. Jogja harus berimbang. Seperti pepatah Mensana in corporesano, tp dibalik jadi “Diluar Jiwa yang Kuat terdapat Tubuh yg sehat”. Setinggi-tingginya hotel dibangun, tak akan mampu mengalahkan kerendahan hati masyarakat sekitarnya :)

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.