Gaslighting terang-benderang dalam Insiden Lomba Cerdas Cermat

Kasus yang terjadi dalam Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI 2026 tingkat Provinsi Kalimantan Barat yang digelar Sabtu (9/5/2026) kemarin itu menurutku adalah contoh gaslighting yang terang-benderang!

Gaslighting sebuah bentuk manipulasi psikologis yang membuat korban mempertanyakan kebenaran dirinya sendiri melalui tindakan pelaku yang berupa penyangkalan, peremehtemehan dan pemutarbalikan fakta serta pengalihan topik pembicaraan.

Mari kita dudukkan perkaranya dulu terutama buat kalian yang nggak mengikuti kasus ini.

Adalah Josepha Alexandra, juru bicara Grup C, peserta lomba dari SMAN 1 Pontianak. Dialah korbannya. Josepha menjawab pertanyaan dan dianggap salah oleh Dyastasita WB, juri yang merupakan Kepala Biro Pengkajian Setjen MPR RI.

Lucunya di sini, ketika juru bicara regu lain menjawab, hal itu dibenarkan Dastasita padahal jawabannya sama persis dengan jawaban Josepha.

Gak seperti anak kebanyakan, Josepha, diluar perkiraan mengambil microphone lalu memprotes kenapa jawabannya dipersalahkan?

Ini titik awal gaslighting terjadi. Dyastasita buru-buru menyangkal bahwa jawaban Josepha salah. 

Josepha gak menyerah. Dia meminta supaya juri mengambil saksi lain mungkin dari penonton bahwa jawabannya benar. Lagi-lagi Dyastasita tetap kukuh, jawaban Josepha dianggap salah dan mendapatkan nilai -5.

Shindy Lutfiana, sang MC, bermaksud menyudahi persoalan dengan cara yang… memperburuk gaslighting itu. Ia bilang bahwa sang juri punya kompetensi dan sangat teliti. Asumsi klasik tak beralasan itu diimbuhi dengan quote yang sangat layak dijadikan meme, “mungkin perasaan adik-adik saja!” Peremehtemehan dan pengalihan topik pembicaraan tampak jelas, bukan?

Belum yang terakhir,  gongnya ditabuh adalah Indri Wahyuni S.IP, MA. Kepala Bagian Sekretariat Badan Sosialisasi MPR RI menimpali dengan persoalan artikulasi. Mungkin dia menganggap bahwa Josepha menyatakan jawaban dengan benar tapi tidak memiliki artikulasi yang baik dan jelas sehingga tidak terdengar oleh Dyastasita. Lagi-lagi, peremetemehan dan pengalihan topik pembicaraan terjadi lagi.

Sebenarnya ini kan perkara sepele!
Acaranya direkam, kan? Kalau gak direkam gimana mungkin bisa viral? Harusnya MC langsung menyetop acara kemudian mempersilakan sang juri dengan bantuan teknisi acara untuk memutar ulang rekaman kejadian untuk mencari tahu kebenaran. Dalam dunia olahraga ini sudah lama dipraktekkan kok! Wasit entah karena kesadaran sendiri atau mendapatkan challenge dari kapten maupun pelatih tim menghentikan pertandingan lalu memutar ulang video untuk mendapatkan validasi jawaban.

Terus-terang aku miris melihat kasus ini. Kalau melihat Josepha, si korban, dia sih tenang dan terlihat kuat. Yang bikin miris karena acaranya kan judulnya cerdas cermat. Yang diuji harusnya peserta seperti Josepha, tapi yang diuji oleh netizen justru si MC dan para jurinya; adakah mereka sudah cerdas dan cukup cermat?

Lagipula, ini kan sudah tahun 2026, apa iya lomba cerdas cermat dengan pola pertanyaan hapalan begitu masih sesuai jaman? Apakah kecerdasan dan kecermatan para peserta dinilai dari sekuat apa ia menghapal dan mengartikulasikan hapalannya?

Sebarluaskan!

Comments

One response to “Gaslighting terang-benderang dalam Insiden Lomba Cerdas Cermat”

  1. Indonesia Gelap. Indonesia Cemas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses