Garis-Garis Besar Haluan Berkawan Nyaman di Facebook

24 Apr 2019 | Digital

Tak lama sebelum ini, seorang kawan berkata kepadaku bahwa ia akan undur diri dari media social, utamanya Facebook. Ketika kutanya alasan pengunduran diri itu, jawabnya begini, ?Facebook udah nggak asik sekarang! Isinya gosip politik, isu agama dan selebritis! Kayak nggak ada hal lain yang enak buat dibahas!?

Segera setelah mendengar alasan itu, aku merasa amat kasihan padanya.

Kenapa? Bagiku, Ia membiarkan dirinya dibelenggu dan terpenjara padahal itu adalah akun miliknya sendiri! Facebook pun, hingga batas-batas tertentu memberikan kemerdekaan bagi kita untuk mengelola data dan informasi yang kita terima lho!

Ini adalah fenomena dan aku tertarik untuk menganalisa mengapa cerita seperti kawanku tadi bisa terjadi?

Enggak enak unfriend, takutnya dia marah dan tersinggung

Salah satu cara paling mujarab untuk menyeleksi konten yang bersliweran di wall kita adalah dengan menyeleksi siapa yang kita ijinkan untuk urun informasi di sana! Mereka adalah teman (friend) dan siapa yang kita ikuti (follow) ditambah sedikit iklan sponsor yang datang dari Facebook.

Untuk menyembunyikan konten sponsor, Facebook menyediakan link di sini.

Untuk menghentikan konten dari orang yang kita follow, ya tinggal di-unfollow, kan?

Tapi permasalahan biasanya muncul kalau kita harus meng-unfriend atau meng-unfollow kawan kita!

Alasannya?
?Nanti dia marah atau tersinggung!?

Manusiawi ya?
Padahal, sejatinya seorang kawan sejati tidak akan marah ketika kamu memilih untuk meng-unfollow atau meng-unfriend di Facebook karena ketidakcocokan preferensi informasi yang disebarluaskan. Seorang kawan sejati akan menghargai tindakan itu karena ketika kita berkawan dengan seseorang bukan berarti kita harus cocok dan selaras dalam berbagai macam hal, bukan?

Mungkin kalian bilang aku bicara seperti ini karena hanya berteori?

Tidak! Kalian salah! Aku sudah dan selalu mempraktekannya sejak lama. Ada beberapa kawan yang ku-unfriend karena ketidakcocokan. Dan seperti kutulis di atas, ada dari mereka yang menerima alasanku, ada pula yang tidak menerima dengan beragam alasan. Salah satu yang mau kutampilkan di sini adalah alasan yang ini, ?Kamu sombong! Setelah hidup di Australia nggak mau lagi berteman denganku!?

Responku? Kusenyumin ajah?.

Itu prinsip dasar.

Nah, kalau kamu sudah tega untuk melakukan hal di atas, berikut adalah panduan-panduan real yang kubikin berdasarkan pengalaman yang lagi-lagi, siapa tahu kamu perlu untuk dipraktekkan.

Menambah kawan

Makin lama, aku semakin jarang untuk menambah kawan di Facebook. Aku hanya menambah ketika suatu waktu menemukan seorang kawan lama yang belum masuk dalam daftar teman di Facebook. 

Aku cenderung tidak menambahkan kawan dari rekan-rekan kerja yang sekarang karena di Australia sini, tak semua rekan kerja bisa otomatis dijadikan kawan, sebaik dan sedekat apapun dia.

Aku menambah kawan di Facebook juga biasanya terkait dengan kegiatan pelayanan keagamaanku. Karena dalam empat tahun belakangan aku selalu menulis renungan Kabar Baik dan Facebook adalah media untuk menyebarluaskannya, maka mencari kawan yang memiliki potensi untuk jadi pembaca adalah hal yang kerap kulakukan.

Menerima ajakan berkawan

Meski makin jarang menambahkan kawan ke Facebook, sejatinya aku justru makin sering menerima ajakan pertemanan di media yang dibesut Mark Zuckerberg ini.

Kawan di Facebook, secara kategori kubagi dalam tiga bagian besar.

Pertama, kawan ?beneran?, alias kawan yang pernah kutemui secara langsung dan kami benar-benar berkawan.

Kedua, kawan ?online?, adalah mereka yang belum pernah kutemui secara langsung tapi dalam interaksi online beberapa tahun belakangan membuat kami bisa berkawan.

Ketiga, ?pembaca?, adalah mereka yang berkawan denganku karena sering/suka membaca tulisan-tulisanku di blog ini. Fans? Bukan juga! Aku tak suka istilah fans :)

Tapi tak semua ajakan berkawan kuterima. Hal-hal berikut yang biasa kujadikan acuan dalam menerima/menolak ajakan pertemanan.

Kenal? Ya! Langsung kuterima!

Tidak kenal? Siapa common friends-nya? Kalau commond friends-nya adalah kawan-kawan dekatku dari kalangan yang selama ini kuakrabi, misalnya alumni SMA Kolese De Britto Yogyakarta, sahabat dan saudara, rekan sepelayanan, maka ajakan itu kuterima.

Selain itu, hal-hal yang membuatku mempertimbangkan ajakan perkawanannya adalah aktivitas di wall mereka masing-masing. Kalau ia datang dari kaum radikal? Tolak!

Kalau ia datang dari lawan politik yang berseberangan dengan pilihan politikku? Tolak!

Kalau dia tidak berseberangan tapi isi wall-nya menyuarakan kebencian, mempromosikan perbedaan melulu? Tolak!

Kalau ia ternyata bukan manusia melainkan promosi usaha? Tolak!

Ketika tidak nyaman terhadap satu akun?

Postingan yang tak sesuai dengan apa yang kuanggap bagus cenderung membuatku tidak nyaman dalam bermedia sosial. Ada beberapa kriteria tapi salah satu contohyna adalah mengunggah foto jenasah. 

Aku bukan seorang penakut, tapi setidaknya kalau melihat foto jenasah sebaik/buruk apapun wajahnya, aku cenderung merasa gimanaaaa gitu. 

Melihat seperti itu, hal pertama yang kulakukan biasanya adalah menyembunyikan konten dari wall-ku.

Jika akun yang sama mengunggah konten-konten yang membuatku tak nyaman, hal kedua yang kulakukan adalah ?unfollow? tanpa harus ?unfriend?. Jadi secara hubungan, kita tetap berteman tapi aku tak lagi mengijinkan konten-kontennya masuk ke dalam linimasa/wall-ku. Sebagian besar persoalan ketidaknyamanan biasanya teratasi di sini.

Block!

Tapi dalam keadaan-keadaan tertentu, unfollow bukanlah solusi terbaik. Misalnya pernah suatu waktu, aku sudah meng-unfollow orang tersebut tapi ketika aku sedang menulis sebuah posting dan ia berkomentar secara kasar atau hal yang membuatku tak nyaman, aku akan bertindak.

Unfriend? Bukan!

Lebih tepatnya ?Block?! Kenapa? Nanggung! Beda antara ?unfriend? dengan ?block? amat tipis jadi aku pilih yang paling maksimal supaya aku bisa kembali nyaman secara maksimal juga.

Wih, egois banget kamu, Don?

Tergantung kamu lihat dari sisi mana! Tapi bagiku setiap orang berhak untuk merasa nyaman tanpa harus membuat orang lain tidak nyaman. Sehingga ketika ada orang lain yang berusaha membuatku tidak nyaman, lebih bagiku untuk lepas darinya supaya aku dan dia tetap bisa sama-sama nyaman tanpa harus saling berhubungan.

Begitu?

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.