Gandung Bondowoso: gosip dan sensasi itu harus berdasarkan fakta!

24 Okt 2018 | Tokoh Alumni De Britto

Th.A. Hurip Winarno adalah tokoh kelima belas dari?tujuh puluh Tokoh Alumni SMA Kolese De Britto?yang kurencanakan.

Pria yang akrab dipanggil sebagai Gandung Bondowoso ini awalnya tak kurencanakan untuk masuk dalam ?penokohan? ini. Tapi pertemuanku dengannya di selasar Rumah Betawi (rumah kediaman Mas Handoko Wignjowargo yang juga pernah kutulis di sini sebagai tokoh, pada 30 September 2018 silam mencelikkan mataku bahwa mengangkatnya di blog ini dalam serial tokoh ini akan sangat bermakna.

ki-ka: Mas Priyanto (JB 1973) – Aku – Mas Gandung Bondowoso (JB 1973)

Apa sebab?

Mas Gandung adalah sosok dibalik lahirnya salah satu infotainment pertama di Tanah Air, Kabarkabari. Apa peduliku terhadap infotaintment? Nah, ini baru menarik! Malam setelah pertemuan itu, aku tak bisa berhenti berpikir adakah korelasi antara maraknya hoax akhir-akhir ini dengan kenyataan sebagian masyarakat kita yang cukup konsumtif terhadap berita-berita gosip infotaintment yang menggelontori televisi-televisi swasta sejak lebih dari dua puluh tahun lalu?

Maka segera setelah kembali ke Sydney, Australia, aku menghubungi alumni SMA Kolese De Britto tahun 1973 tersebut melalui WhatsApp. Berikut adalah petikannya.

[DV] Mas, jadi benar atau salahkah pikiranku yang mengemukakan bahwa ada relasi antara hoax yang begitu marak dengan kenyataan bahwa ada kalangan dalam masyarakat kita yang sudah begitu lama terlatih dalam menikmati acara-acara gosip di televisi?

[GB] Tidak tepat karena kau memandang hoax sebagai sesuatu yang baru.

Hoax dalam konteks berita sama dengan berita bohong. Kebohongan ini dalam sejarah pers sudah ada sejak zaman Romawi / Yunani. Ketika itu para pengelana menyampaikan kabar secara tertulis melalui kertas papirus yg kemudian disebarkan ke publik. 

Di kemudian waktu media pemberitaan macam ini disebut jurnal yang lantas menjadi akar kata jurnalisme. Di dalam jurnalisme kuno ini hoax juga bermunculan. Kisah perjalanan para pengelana banyak yang bohong ketika mereka memberitakan penemuan-penemuan yang mereka jumpai di tempat yang jauh. 

Lalu kalau hoax itu barang lama, kenapa sekarang kembali mengemuka?

Karena alat penyampaiannya beragam dan muncul melalui teknologi yang hebat maka hoax tampak masif belakangan ini.

Menurutmu adakah formula untuk mengatasi hoax?

Satu-satunya cara adalah represif melalui undang-undang. 

Tapi kenapa represif? Kita negara demokrasi dan orang menggunakan payung ?kebebasan berpendapat? untuk melindungi diri?

Dalam undang-undang ada pemaksaan hukum. Pembuat hoax akan berurusan dengan pengadilan dan bisa berujung penjara. Di Indonesia juga sudah ada undang-undang yang bisa menjerat pembuat hoax, fitnah, pencemaran nama baik, dan sejenis itu. Pada ranah undang-undang, masalah hoax adalah urusan penegak hukum. Pada ranah sosial, hoax hanya akan ditelan oleh anggota masyarakat yang cetek pengetahuannya dan tak ada daya kritis padanya. Ini ranah pendidikan bermutu yang membekali manusia dengan rasionalitas dan disiplin berpikir panjang yang sama dengan perenungan. 

Apakah ini utopia?

Bisa jadi ini utopia karena di negara-negara yangg pendidikannya maju pun hoax mampu menyusup. Bedanya hanya menelan korban yang pada skala kuantitas tidak sebesar negara yang kualitas  pendidikannya masih rendah. Hoax merajalela. Perisai rasionalita belum mumpuni. Karena itu ranah hukum yang harus berada di garda depan untuk menghadapi hoax betapapun sulit utk membuktikan hoax.

Tapi hoax berkelindan dengan gosip?

Secara leksikon gosip adalah menyemprotkan kabar masalah pribadi seseorang. Bagiku, berdasarkan pengalaman profesionalku yang panjang sebagai wartawan (pemberi kabar), gosip adalah menebar-nebarkan kabar secara terus menerus yang ditambah-tambahi dengan sisipan hoaks semau-maunya. Inilah yang memunculkan persepsi negatif dari pembaca atau pendengar terhadap orang yang digosipkan itu. 

Jadi itu buruk dan negatif. Lalu bagaimana baiknya?

Secara prinsip, bagiku pemberitaan gosip jangan seganas itu. Etika jurnalisme telah mendarah daging dalam prinsipku bahwa pemberitaan apa pun termasuk gosip harus bertolak dari fakta. Tidak boleh ada kebohongan dan tidak boleh memelintir data demi maksud tertentu.

Gosip bertolak dari fakta? ?Sesuci? itukah gosip?

Suci adalah pilihan kata yang keliru. Bukan suci tapi apa adanya.

Aku masih belum terlalu mengerti bahwa gosip itu tidak melulu hoax. Secara teknis lantas bagaimana gosip yang tidak hoax namun tetap menarik?

Penyampaian gosip adalah fakta yang digelontorkan sedemikian rupa dengan kekuatan pada bahasa yg metaforik, hiperbolik, dan diksi yang efektif serta ritme penyampaiannya. Di televisi sebagai media pandang-dengar, adonan yang aku sebutkan itu mempunyai efek dramatik yang luar biasa bila diucapkan oleh presenter (diperkuat dengan bahasa tubuh) atau narator yang memahami ritme dan stressing pengucapan. 

Di sini tidak ada kebohongan data. Yang ada adalah persepsi subyektif pembaca / pendengar setelah gosip itu disampaikan dengan formula yang aku nyatakan tadi. Persepsi tersebut bisa berbeda-beda, tergantung pada kualitas pengetahuan  pembaca atau pendengar sebagai receiver informasi.

Gandung mempunyai latar belakang yang sangat kualitatif di media cetak. Tahun 1987 ia mulai bekerja di Gramedia khususnya pada Majalah Jakarta-Jakarta mula-mulasebagai data researcher. Setengah tahun kemudian pria kelahiran Jogja 15 Januari 1954 ini diangkat sebagai wartawan desk kebudayaan. Tidak sampai setahun kemudian, ia dipromosikan sebagai redaktur desk luar negeri. Di sinilah Gandung mendapat kesempatan untuk melakukan liputan ke luar negeri utamanya ke Eropa Barat dan Amerika Utara.

Di sana, di sela-sela waktu kosong, Gandung banyak menonton acara televisi program hiburan, sesuatu yang nantinya menjadi ?contekan inspirasi? untuk membuat program Kabarkabari di RCTI.

Mas, Kabarkabari itu fenomenal sekali! Boleh tahu konsep awalnya dulu?

Aku banyak mendapat influence dari mengikuti etika jurnalisme Gramedia. Waktu itu Arswendo (Arswendo Atmowiloto -DV) mengangkatku sebagai pemimpin redaksi Tabloid Citra. Darinya aku mendapat formula jurnalisme yang berisi gosip dan sensasi. Seperti kusebut di atas, gosip dan sensasi tetap harus bersandar pada fakta dan harus selalu ada cek dan ricek. Boleh ada opini tapi minimalis dan yang paling dilarang adalah kebohongan serta fitnah!

Kamu dari Gramedia lalu memilih berdiri sendiri dengan ?Kabarkabari?. Apa titik yang paling menentukan sehingga keputusan itu terjadi?

Kehilangan rasa gelisah!

Maksudnya?

Mungkin aku terlalu nyaman karena setelah memimpin Citra aku dipercaya memimpin Tabloid Nova. Di Tabloid Nova boleh dibilang aku tak banyak bepikir. Mekanisme jurnalistik Nova sudah berjalan dalam rutinitas. Aku tak berani neko-neko untuk mengusik jurnalismenya. Aku takut justru akan menurunkan pencapaian Nova yang sudah hebat itu.

Nah, hilang gelisah itu berbahaya karena akan meredupkan daya kreativitas. Aku lantas memutuskan untuk membuat sesuatu dan kegelisahan itu tumbuh. Ide membuat Kabarkabari muncul begitu saja!

Tayangan perdana Kabarkabari muncul pada juni 1996 dan meraup sukses besar. RCTI meneken kontrak jangka panjang karena memang waktu itu belum ada program seperti itu belum pernah ada di televisi Indonesia. Ratingnya bahkan mengalahkan beberapa sinetron. Iklan pun langsung penuh dan antre.

Gandung saat muda

Karena kolom tulisanku ini adalah menyangkut soal ke-debritto-an maka mari bicara tentang De Britto, Mas. Menjalani pendidikan di De Britto itu membawa pengaruh besar dalam hidupmu?

De Britto luar biasa. 

Pengertian kebebasan aku cerna dengan kesadaran bahwa kebebasan adalah rasional. Kesadaran itu aku peroleh dari Romo G. Koelman, SJ yang waktu aku di De Britto beliau jadi romo pamong.

Ketika aku masuk kelas bercelana pendek, dia bilang aku menjalankan kebebasanku bercelana pendek pada waktu yang keliru. Tak ada celana pendek di kelas kecuali sehabis olahraga. Ini adalah kebiasaan. Konvensi tak tertulis. Di luar itu celana pendek bukan kebiasaan. Inilah rasionalitas yang melelahkan kalau diperdebatkan. 

Ngekkkk …. Aku tersadarkan di usia SMA. Kebebasan adalah kedalaman berpikir sebelum melakukan sesuatu. Tentu saja siswa-siswa de Britto lainnya memahami kebebasan yang tidak sama denganku. Yang jelas aku memperoleh enlightment awal dalam memaknai kebebasan dari de Britto.

De Britto yang dulu tentu beda dengan De Britto yang sekarang. Kamu mengamati de britto yang sekarang? Kalau iya bagaimana? Kalau tidak, apa yang kamu harapkan tetap akan ada dari de britto sekarang dan ke depannya?

Aku gak tahu de Britto yg sekarang. Dalam pemikiranku, de Britto harus mengusung fondasi pemikiran bebas. Rangsanglah siswa utk berpikir dgn basis rasionalitas. Ini lebih gampang dibanding basis kemanusiaan yang abstrak. Dengan rasionalitas yang bermutu, siswa de Britto akan terbiasa mengucap apa pun dengan tidak sembarangan. Aku percaya rasionalitas. Dengan rasionalitas output-nya adalah action yang terukur.

Selepas De Britto, Gandung melanjutkan studi S1 di FKIP Bahasa Inggris, Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga lalu menempuh S2 Seni Urban, Pasca Sarjana, Institut Kesenian Jakarta (IKJ)

Nama aslimu bukan Gandung tapi kok sekarang orang lebih mengenal Gandung Bondowoso daripada Th. A. Hurip Winarno?

Sejak kecil simbah dan bapak-ibuku memanggilku Gandung. Itu nama yang banyak dipakai di Jogja-Solo untuk panggilan anak kecil. Nama panggilan itulah yang melekat pada diriku dari kecil, remaja, dewasa, hingga tua sekarang ini. 

Tambahan Bondowoso berasal dari sutradara Wahyu Sihombing, dosenku dalam kelas penyutradaraan di IKJ. Tahun 1977 aku main di filmnya yang berjudul Pembunuh di Tengah Kita sebagai pemeran pembantu. Ketika menuliskan credit title di film tersebut, yang tercantum hanya Gandung saja. Sihombing menilainya namaku terlalu pendek. Tanpa seizinku dia menambahkan Bondowoso. Mungkin itu asosiatif dengan Bandung Bondowoso. Mulai saat itulah orang-orang di Taman Ismail Marzuki dan IKJ menuliskan namaku Gandung Bondowoso. Aku diam saja karena dalam hati aku menyetujui nama tersebut.

Terakhir, Mas. Kabarkabari sampai sekarang masih ada tapi kenapa kamu pensiun?

Ya, aku pensiun sejak dua tahun lalu.

Di usiaku yang kini 64 tahun aku merasa sulit mengendus selera gosip dan sensasi penonton masa kini. Kabarkabari harus ditangani anak-anak muda yang mampu mengendus selera penonton yang sudah berubah. Kalau tidak, Kabarkabari akan tamat. Karena aku tahu diri, makanya aku minta pensiun.

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.