Gandengan Tangan yang Diperlukan

12 Agu 2008 | Cetusan

Sembilan Agustus 2008.
Sore hari menjelang senja di bilangan Jalan Kaliurang – Ring Road Utara Yogyakarta, aku berhasil “menangkap” seorang polisi seperti yang tampak pada foto di atas.
Eits, tapi jangan salah tafsir dulu, menangkap di sini bukan berarti apa-apa dan bukan pula berarti aku ini seorang intel, petugas KPK atau apalah
namanya yang bisa tangkap menangkap…
Aku hanyalah warga negara biasa yang berhasil “menangkap” pemandangan nan menyedapkan mata serta batin dari seorang polisi yang dengan tulus menggandeng dua orang buta yang
tampaknya suami istri dengan menggendong anaknya menyeberangi ruas jalan yang terbagi dua dari arah timur dan barat itu.

Aku yang ketika itu sedang berada di dalam mobil sepulang dari menghadiri pesta pernikahan di Semarang serta-merta langsung mengeluarkan handphone berkamera dan jepret… tertangkap!

Mungkin ada yang bertanya-tanya kenapa fotonya justru ketika mereka telah membelakangiku dan bukannya memotret ketika mereka sedang berlalu di hadapanku atau malah
ketika mereka sedang hendak menyeberang? Jawabanku adalah karena selama itu,
selama mereka berlalu di depanku hingga saat dimana akhirnya mereka kujepret, aku hanya mampu terkesiap, ndhomblong bahasa Jawanya, kagum,
takjub dan tak terasa pelupuk mata memanas dan seperti ada air yang hendak tumpah dari sana…

Itulah!
Itulah gandengan tangan yang diperlukan!
Lebih perlu ketimbang pelukan yang tak diperlukan seperti yang kutuliskan di postingan sebelumnya.
Sebuah gandengan kemanusiaan oleh seorang manusia berjabatan polisi kepada dua orang yang memang benar-benar sangat membutuhkan panduan untuk sekadar menyeberang jalan.
Satu hal yang pasti dan kuyakin, baik pak polisi maupun dua orang buta beserta anaknya itu tadi pasti tak meributkan terlebih dulu apa agama si polisi atau si buta,
suku apakah si buta dan apa pula macam warna kulit dan jenis rambutnya pak polisi pokoknya atas nama kemanusiaan, semua jadilah!

Aku sendiri tak bisa membayangkan bagaimana adegan dan percakapan awal mulanya dari dua orang buta itu kepada polisi di pos polisi sebelumnya.

Barangkali berlaku percakapan di bawah ini:

Dua orang buta: Pak, bisa minta tolong bantu saya untuk menyeberang ke sana ?
Polisi: Siap! Mari saya hantarkan!

Atau bisa juga berlaku seperti ini:
Dua orang buta: Pak, bapak itu Pak Polisi ya?
Polisi: Siap! Mari saya hantarkan!

Atau barangkali, tanpa ba-bi-bu dan menunggu permintaan tolong si buta, Pak Polisi yang baik hati itu langsung tanggap keadaan dengan menggandeng dua orang buta itu dan berkata dengan
tersenyum “Ayo, kubantu nyeberang!” Meski si buta itu tak kan pernah bisa melihat senyuman dari Pak Polisi itu tadi.

Hmmm…
Aku jadi membayangkan andai semua polisi dan semua abdi negara sepeduli bapak polisi yang kutemui dan kufoto sore itu,
barangkali kita ndak butuh setaon atau dua taon atau sepuluh presiden baru untuk cepat sejahtera dan sentosa.
Ah, semoga ini tak berlebihan. Ya, ndak ?

Sebarluaskan!

15 Komentar

  1. Hidup pak Polisi :)

    Balas
  2. Ah, betapa jarang orang seperti itu. Terlebih seorang polisi. Betapa jarang.
    Untung saja yang membantu itu bukan seorang tim sukses pilwalkot atau pilkada. Bisa-bisa kalimatnya:
    “Mari kubantu menyeberang, tapi nanti coblos pasangan anu ya, dari partai anu.”
    Ah, untunglah…

    Balas
  3. tumben… biasanya digandeng buat ke tempat sepi biar minta uangnya bisa nawar yg gedean….

    Balas
  4. @DM: Aih, kok kesannya skeptis gitu ke pilkada dan pilwakot, Kang? Kmarin kubaca di koran 30% warga Bandung golput dalam Pilwakot, adakah Akang ada di salah satunya darinya ?

    Balas
  5. tp btw… polisi juga tetep manusia biasa kok don…. pasti ada sisi baiknya… biar seimbang gituh tangan kanan sama tangan kiri… sesuai mottoya… siap menjaga dan melayani *bener ga nih ?*

    Balas
  6. posting yang mengesankan. andaikan semua polisi begitu, dan mau suap ya…

    Balas
  7. mudah mudahan Kapolri baca tulisan ini..
    * biar naik pangkat

    Balas
  8. Harapan anda tidak berlebihan bung donny, semoga tidak hanya aparat tetapi juga masyarakat kita bisa belajar menerima perbedaan di tengah2 mereka…

    Balas
  9. Artikelnya inspiratif banget. thanks om

    Balas
  10. woh kang deni..mesti ra kelingan aku, aku wis tau mboj ajari html pas jaman nen sanggar talenta..ah lali lsm omo nen jakal kae, salam seko probo 96
    nice capture

    Balas
  11. trenyuh…thuk..trenyuhhh….duh sak no yo..salut nggo dab hongib…ngono loh…sep tenan…ojo mung isane nganakke cegatan trus njaluk nomban…

    Balas
  12. hmmm sungguh mengharukan, manusia sekarang kalo lewat ya lewat, kalo nyebrang ya nyebrang tanpa mau peduli sama yang ada di sekelilingnya, sing penting selamet.

    Balas
  13. mmmmm… ya manusiawi lah kalo polisi menolong orang buta menyeberang. semua orang berhati nurani akan menolong mereka yang amat membutuhkan, kan?
    ya terlepas dari pandangan kita mengenai polisi yang ini itu menurut wacana kita sehari-hari, saya setuju sama windy. dibalik baju seragam coklat-coklat itu ada seorang manusia. dan seorang manusia, ntah menjunjung sumpah pramuka atau tidak, ya selayaknya membantu orang buta yang mau menyeberang:D

    Balas
  14. sebuah pemandangan yang humanis, mas donny. andai saja sentuhan tangan pak polisi selalu hadir di jembatan penyeberangan atau di sela2 kerumunan, sudah pasti rakyat akan merasa nyaman dan terlundungi. tangan pak polisi kan bukan hanya sekadar utk marap surat tilang atau yang lebih tragis menerima pungli dari pelanggar lalin, haks ….

    Balas
  15. wah, itu contoh polisi yang baik

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.