Fenomena becak di ibukota dan kaum milenial yang diuntungkan

18 Jan 2018 | Cetusan

Awalnya kupikir ?halu? banget kok tiba-tiba mas gabener bicara soal becak di ibukota. Lalu orang-orang berpikir jangan-jangan ia sedang bersensasi dengan mengundang kembali kemunculan becak di sana??Padahal ternyata becak itu memang bukannya tidak ada di kota nomer satu itu. Meski sudah dilarang sejak lama tapi ya tetap ada. Pada sebuah media nasional, Gabener bilang hingga saat ini setidaknya ada seribu pebecak yang terdeteksi.

Aku percaya apa yang dikatakannya itu benar meski aku tetap belum bisa membenarkan keputusannya itu. Sekali halu tetaplah halu?.

Tapi mari berpikir melalui jalur lain? Kenapa Gabener memutuskan itu semua?

Demi paha dan kempol yang methekol

becak di ibukota

becak di ibukota

Mengayuh becak itu menyehatkan karena mengeluarkan energi yang dikonversi menjadi tenaga untuk menjalankan becak. Tak heran kalau postur para penarik becak itu, terutama paha dan kempol (betis –jw)?methekol-methekol (kencang dan berotot –jw).?Kesehatan warga membaik otomatis taraf kesejahteraan bisa naik juga.

Mengurangi polusi

becak di ibukota

becak di ibukota

Becak tak menggunakan mesin kecuali bentor (becak montor). Ia tak berbahan bakar fosil jadi tentu akan ramah lingkungan dan mengurangi kadar polusi udara (walau mungkin memindahkan polutan-polutan itu ke paru-paru para penarik dan penumpangnya yang langsung terpapar asap knalpot dari kendaraan lainnya).

Nggak perlu ke ?Jawa?

Tak ada yang lebih diuntungkan dengan kembalinya becak ke ibukota selain kaum milenial.?Mereka tentu tak setiap hari merasakan sensasi naik becak. Paling setahun sekali saat mudik ke kampung halaman orang tua mereka.

Kembalinya becak ke ibukota membuat mereka ?nggak perlu ke Jawa? untuk sekadar naik becak. Tinggal pergi ke depan rumah, becak ada di sana.

Ilmu tawar-menawar mereka juga akan kian terasah nantinya. Karena ongkos becak itu mirip harga bitcoin yang nggak mengenal patokan jelas.

Satu hal lain yang mungkin belum terpikir kaum milenial saat ini adalah bahwa becak itu menghadirkan tempat pacaran alternatif yang murah meriah dan menyenangkan.

Terlebih saat hari hujan dan penarik becak harus menutup becak dengan kerudung plastik tebal, kita jadi gak ada yang ngeliatin. Mau ngapain aja bebas sepanjang perjalanan?. berdoa bersama, membaca buku, ngerjain PR hingga bernyanyi bersama lagu di bawah ini:

Saya mau tamasya

Berkeliling keliling kota

Hendak melihat-lihat keramaian yang ada

Saya panggilkan becak

Kereta tak berkuda

Becak, becak, coba bawa saya

Saya duduk sendiri sambil mengangkat kaki

Melihat dengan asyik

Ke kanan dan ke kiri

Lihat becakku lari

Bagaikan tak berhenti

Becak, becak, jalan hati-hati

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.