Euro2008, Obat Bius yang Mujarab

8 Jun 2008 | Cetusan

EURO2008
Kalau jadi pemerintah, barangkali aku akan memilih salah satu hari antara tanggal 7 – 30 Juni 2008 ini untuk menaikkan BBM, bukan mei lalu.
Kenapa demikian, karena pada kurun waktu sekarang ini, Piala Eropa sedang diadakan di Austria dan Swiss sana.
Mumpung masyarakat kita sedang terbius dan jadi gila bola untuk kurun waktu kurang lebih sebulan ini,
mumpung “bemper” perasaan yang ada pada rakyat akan agak sedikit lebih tebal ketimbang hari-hari lainnya.

Itulah sepakbola!
Daya sihir yang ditunjukkan 22 pemain serta diadakan hanya dalam 2 x 45 menit itu terbukti sangat mujarab!
Kekuatannya mampu membuat para pegawai kantor yang besoknya mesti kerja jam 8 pagi rela meninggalkan lelapnya tidur dan hangatnya pelukan sang istri demi memelototi
televisi yang memutar EURO 2008 secara langsung.
Para ABG-ABG dan mungkin termasuk para mahasiswa yang seharusnya besok demo menentang kenaikan BBM pun berduyun-duyun bersama kawan serta gebetannya mendatangi cafe-cafe yang memasang
layar raksasa untuk menyaksikan pertandingan secara lebih jelas dan atmosfir pertandingannya cukup terasa.

Itu belum seberapa!
Spot-spot iklan baik di koran maupun majalah, televisi hingga baleho-baleho di setiap jalanan pun jadi berbau-bau bola semuanya.
Juga di mall-mall ndak peduli di ibukota maupun daerah, digawangi oleh artis-artis ibukota, acara-acara offair menyambut pelaksanaan EURO 2008 terasa semangkin menggema.

Mau tak mau, rupiah pun deras mengalir. Semua mendapat kebagian untung dan rejeki.
Televisi kebagian untung dari iklan perusahaan dalam siaran langsung mereka.
Perusahaan dapat untung dari pengadaan acara offair yang imbasnya ada pada penjualan produk yang meningkat.
Rakyat? Wah, keuntungan yang didapat rakyat pun juga besar (meski tak sebesar BLT yang 300 ribu itu) karena kita,
para rakyat ini, kebagian dapat nonton sepakbola gratis meski ya itu tadi, harus melek bengi dan besok pagi ketika harus bangun untuk kerja, tergopoh-gopoh dan terkantuk-kantuk.
Tak mengapa!

Tapi ironisnya, gebyar-gebyar EURO2008 ini belum diimbangi dengan prestasi menggigit timnas kita.
Sehari sebelum EURO2008 dibuka, melalui siaran televisi secara langsung kita dapat menyaksikan bagaimana beratnya perjuangan tim kita melawan jiran, Malaysia.
Untung Bambang Pamungkas mendapat penalti dan bisa melesakkan gol dengan cermat, untung juga pertandingan diadakan di sini sehingga kita bisa menahan imbang 1 – 1.
Coba kalau ndak, wah bakalan berabe sepertinya.

Malah seharusnya, lewat EURO2008 ini anggota timnas kita bisa belajar banyak dari semangat para londo-londo yang bersaing di eropa sana.
Kita sebenarnya sadar diri dan ndak butuh timnas bisa sama persis bahkan melebihi mereka, tapi setidaknya andai timnas bisa memberikan satu kebanggaan bahkan di tingkat ASEAN sekalipun,
lagu-lagu sinis tentang kekalahan demi kekalahan tim kita tentu akan sedikit mereda.

Mbok yao mbikin prestasi itu yang indah!
Seindah Ponaryo Astaman dan Bambang Pamungkas yang dalam iklan salah satu minuman energi dengan gagah dan sigap nendang kelapa kesana-kemari.
Lha itu nendang kelapa aja bisa bagus dan mantep gitu moso nendang bola yang cuma kulit dan buatan manusia aja kok ndak ……?!

Gambar diambil dari sini

Sebarluaskan!

8 Komentar

  1. Apa artinya ini? Apa maksudnya? Mengalihkan sesuatu dari sesuatu yang lain? Membohongi diri sendiri? Membohongi keluarga? Menyiasati kenyataan?
    Mari kita belajar untuk tidak jadi penipu. Terutama menipu diri sendiri!

    Balas
  2. waduh mas DM, menipu diri sendiri itu salah satu obat mujarab dan keterampilan yang harus dimiliki jika hidup di kelas kami.
    ini jaman dimana “Kemungkinan terbesar sekarang adalah memperbesar kemungkinan pada ruang ketidakmungkinan
    Sehingga setiap orang yang kami temui tak menemukan lagi satu pun sudut kemungkinan untuk berkata tidak mungkin tanpa darah mereka mengering”

    Balas
  3. Iki dho omong opo tho yooo..
    ngomong kok angel-angel.. mungkin ndak mungkin mungkinnya mungkin..
    halah…. sing gampang wae lah karepmu ki opo!

    Balas
  4. ber-manifest?, udah Budaya kali..
    ber-bahaya?, udah terbiasa kali..
    jadi gimana dong?
    kesadaran untuk menipu diri sendiri udah menjadi gerak reflek, hampir hampir wajar.., dan nyaris dikamuskan sebagai solusi
    kalo gak “digituin” pilihannya cuman insomnia akut, piye horok…

    Balas
  5. Lha yo iku, Mas Handaru,
    sepertinya kita ini seolah disetting untuk beralih dari satu hal yang nyata ke hal lain yang meninabobokan sementara.
    Coba simak paragraf pertama dari tulisan ini:
    ———————————–
    Kalau jadi pemerintah, barangkali aku akan memilih salah satu hari antara tanggal 7 – 30 Juni 2008 ini untuk menaikkan BBM, bukan mei lalu. Kenapa demikian, karena pada kurun waktu sekarang ini, Piala Eropa sedang diadakan di Austria dan Swiss sana. Mumpung masyarakat kita sedang terbius dan jadi gila bola untuk kurun waktu kurang lebih sebulan ini, mumpung “bemper” perasaan yang ada pada rakyat akan agak sedikit lebih tebal ketimbang hari-hari lainnya.
    ———————————–
    Ini bahaya. Jangankan menuliskannya, bahkan memikirkannya saja sudah berbahaya.
    Hal itu bisa bermanifestasi pada pola pikir atau mentalitet hidup seseorang. Ia bakal jadi terbiasa pura-pura melupakan sesuatu yang nyata ke hal lain yang menyenangkan. Tapi pada esensinya: yang nyata itu tak terselesaikan. Hanya mengalihkan saja.
    Memang ini dunia, bukan surga, persoalan akan tetap selalu ada. Tapi kan bukan dengan cara mengalihkan. Hidup mungkin akan terasa lebih sedap dengan

    Balas
  6. @DM: Iki komentar-komentare samsoyo membahana.. aku menyesal nulis ini karena pada kasunyatannya aku malah ndak bisa mengikuti alur logika para komentatornya.. TERLALU PINTARRRR MEMBAHANA!!!
    Peringatan untuk Windy, jangan sekali-kali ikut komentar di sini… takutnya nanti semakin memperlebar jurang kedodolanmu dengan mereka dan loe keliatan semangkin bego!
    Ahuahuahuahauhua….

    Balas
  7. terseraahhh… yg penting gw megang Belanda…. 3-0 euuyy…..

    Balas
  8. # mas DM; wah udah bosan jadi penonton ya? Wah soyo susah, wong dewe ki nek bal – balan ra tau menang meneh kok hihihi opo meneh ngimpi tekan euro.
    Mungkin dengan memposisikan diri sebagai penonton, kita bisa menggali kembali heroisme. Sementara heroisme berganti nama menjadi C4, Sukhoi, dan fiksi berpagar konstitusi. Menjenguk setiap pesakitan dengan upeti bunga pusara dari makam pahlawan tetangga bernama Arjuna dan manusia laba-laba, dari Cobain hingga Vicious. Dari berhala hingga anonymous bernama burung garuda Pancasila
    hak crut ;)

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.