Empat tipe manusia dalam menyikapi kebenaran

16 Mar 2018 | Kabar Baik

Orang-orang Yahudi bersekongkol untuk membunuh Yesus! Hari ini, dalam Kabar Baik yang ditulis Yohanes diungkapkan bahwa yang ingin membunuhNya kian banyak lagi!

Gara-garanya?
Yesus berkata bahwa Ia diutus oleh Dia yang benar yang tidak dikenal oleh orang-orang yang mengerumuniNya itu. (Yoh 7:28). Mereka jadi kalap! Hendak menangkap Yesus tapi tak ada seorangpun yang bisa menyentuhNya karena saatNya belum tiba. (Yoh 7:30)

Secara naluri, ketika kita dianggap salah dan tak benar tentu ada perasaan jengkel dan marah! Tapi kejengkelan dan kemarahan itu tak membuat segalanya lebih baik. Menyikapi kebenaran itu perlu satu kunci: kerendahan hati.

Ini semua memang tentang bagaimana menyikapi kebenaran dan hal ini layak untuk kita renungkan.?Aku membagi dalam empat jenis sikap manusia dalam memandang kebenaran.

#1 Tinggi hati!

Ada jenis orang yang memandang kebenaran dengan tinggi hati. Akibatnya ketika dinyatakan salah (tidak benar), seseorang tak terima dan pada titik terburuk mereka berusaha menghilangkan dan membunuh kebenaran seperti yang mereka lakukan terhadap Yesus.

#2 Sadar ada kebenaran tapi tak mau mendatangi

Ada juga orang yang sadar dan tahu ada kebenaran tapi ?dicuekin?. Mereka memandang hormat terhadap kebenaran tapi tak tertarik untuk melakukan karena terlalu sibuk mengurus hal-hal duniawi.

Alasannya macam-macam!
Misalnya, ?Ah, nanti saja kalau sudah tua! Kita foya-foya dulu nikmati hidup!? (Ya kalau sempat tua dan diberi umur panjang ya?)

#3 Menerima kebenaran tapi membatasiNya

Ya! Mereka menerima kebenaran tapi membatasi dalam lingkup tertentu saja. Misalnya, ada orang yang menganggap bicara soal iman dan kebenaran itu cukup hari minggu saat ke gereja atau saat ke acara-acara bina iman dan persekutuan doa.

Lepas dari itu, iman dan kebenaran ditanggalkan saja atau gantungkan ?dalam lemari? untuk kemudian dipakai lagi di saat-saat yang diperlukan.

#4 Menerima kebenaran dan menyerahkan hidup agar sekehendak Sang Benar

Semoga ini adalah kita! Atau semoga ini adalah target pergumulan kita! Kenapa? Karena pada tipe ini, kebenaran tak hanya dianggap ada, tak hanya dijadikan pedoman. Kebenaran dijadikan sebagai penggerak hidup. Hidup yang digerakkan kebenaran adalah hidup yang memancarkan asal-muasal kita yaitu Sang Benar.

Mereka yang mengenal Tuhan dalam ritual-ritual agama dan lantas mengaktualisasikan melalui tindakan sehari-hari adalah mereka yang menurutku masuk dalam tipe ini.

Itukah kamu? Itukah kita? Adakah mereka?

Sydney, 16 Februari 2018

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.