Empat puluh dua generasi dunia menanti?

17 Des 2018 | Kabar Baik

Menurut Matius, setidaknya ada empat belas keturunan dari Abraham sampai Daud, empat belas keturunan dari Daud sampai pembuangan ke Babel dan empat belas keturunan dari situ hingga lahirnya Kristus.

Jadi totalnya ada 42 keturunan dari Abraham hingga Kristus. Betapa panjang dan lama penantian umat manusia akan datangnya Sang Penyelamat ya?!

Tapi sekarang mari kita balik, seberapa lama penantian Kristus akan kita?

Penantian apa?
Penantian perubahan. Kapan kita berubah dari cara hidup lama ke hidup baru yang mengenalNya?

Tapi aku sudah Katolik, bukankah penantianNya berarti telah usai?

Baru-baru ini aku kehilangan seorang kawan.

Ia yang kupikir sehat walafiat ternyata beberapa waktu belakangan mengidap sakit yang tak diberitahukan ke publik.

Aku mengenalnya sejak sekitar delapan belas tahun terakhir karena kami pernah bekerja sama dalam sebuah korporasi meski tak lama. Selepas korporasi itu, kami bertemu lagi dalam sebuah komunitas persekutuan doa di Jogja, kami sama-sama aktif. Tapi tak sampai dua tahun kemudian ia mengundurkan diri dan kami jadi jarang bertemu.

Setelah aku pindah ke Australia, kami kembali berhubungan melalui social media dan dari linimasanya kuketahui bahwa ia kupikir sudah berpindah keyakinan.

Kalau orang lain pindah agama biasanya karena nikah, ia kupikir pindah keyakinan karena laku perjalanan hidup memang menghendakinya untuk berpindah.

Awalnya aku kaget, tak percaya. Ingin marah tapi apa kuasaku untuk memarahinya sementara aku tak mengongkosi hidup keluarganya?

Tapi aku lantas jadi tertarik untuk mengikuti kiprahnya dengan ?agama barunya?.  Dan ternyata hidupnya baik-baik saja! Bahkan barangkali lebih baik dari hidupku! Ia begitu aktif dalam ritual-ritual agama barunya dan ia terjun ke masyarakat langsung! Memberikan hal yang bisa ia berikan, kasih yang tak hanya perhatian tapi juga materi dan segalanya.

Sekali waktu aku melihat dalam galeri fotonya ia sedang melakukan aksi sosial di pedesaan. Di waktu lain, ia terlibat dalam acara budaya lintas keagamaan. Menarik!

Ketika aku tahu ia meninggal, sedihku bukan kepalang.

Ada perasaan yang berkecamuk dalam dada tentang bagaimana kehidupan setelah mati yang akan ia tempuh. Akankah skenario hidup abadinya akan mengikuti jalan yang ditentukan ?agama barunya? atau ? ?agama lamanya??

Adakah kebaikan demi kebaikan yang sudah ia tabung di dunia akan musnah terbakar begitu saja semata karena ia pindah agama? Atau? bagaimana kalau sebaliknya bahwa kebaikan demi kebaikan yang ia buat justru setelah pindah agama itu tak cukup untuk memberi hidup abadi karena awalnya ia berada di agama lain?

Segala gundahku itu terlunasi melihat kiriman foto peti jenasahnya.

Sebuah foto dirinya waktu masih muda terpajang di dalam bingkai dan? sebuah salib lengkap dengan Yesus yang tergantung di sana berada tepat di sebelahnya.

Oh! Ia tak pindah agama? 

?Jadi ia tak pindah agama?? tanyaku ?kepo? pada kakaknya yang kukenal juga lewat WA.

?Dia memang tak pernah berpindah kok, Don! Dia tetap katolik!?

?Oh ya?? aku kaget.

?Iya! Dia hanya mencoba bertualang secara spiritual tapi imannya tetap pada Yesus makanya beberapa bulan setelah tahu ia mengidap sakit, salah satu permintaannya adalah supaya ketika ia nggak ada, ia dimakamkan menggunakan ritual Katolik!?

Aku tercenung?

Aku salah sangka! Kupikir ia menghilang dan Yesus akan menantinya untuk kembali tapi nyatanya ia memang tak pernah kemana-mana. Ketika ia bertualang Ia justru sedang memperkaya iman terhadapNya melalui perjalanan hidup yang meski singkat tapi beraneka rupa nan warna!

Bagaimana dengan kita?

Apakah kita sejatinya sudah berada di jalanNya hanya karena kita ber-KTP Katolik? Atau jangan-jangan kita justru sebenarnya hanya menggunakan identitas itu untuk mengatasi rasa malas kita dalam bertualang di dalamNya dan seolah sudah merasa benar-benar di sana?

Dunia menanti Yesus selama empat puluh dua generasi sejak Abraham, kita tak punya waktu sepanjang itu untuk kembali kepada Yesus yang telah menanti? Kembalilah!

Untuk TS, beristirahatlah dalam damaiNya.

Sydney, 17 Desember 2018

Jangan lupa isi Survey Kabar Baik 2018. Hasil isian kalian dalam survey tersebut sangat mempengaruhi bagaimana pola tulisan dan distribusi renungan Kabar Baik ini akan berkelanjutan. Klik di sini untuk informasi selengkapnya!

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.