Beberapa waktu lalu di wall facebook, seorang kawan lama, kawan SMP dulu, bertanya kepadaku, “Emangnya kalau Jokowi jadi presiden, kamu mau pulang lagi (baca: pindah domisili) ke Indonesia?”
Bukan sesuatu yang mengejutkan sebenarnya karena aku sudah mengira bahwa cepat atau lambat, terkait gencarnya aku menulis tentang ?Jokowi? akhir-akhir ini, aku pasti akan mendapat pertanyaan semacam itu juga.
Tapi yang menakjubkan adalah, pertanyaan itu datang terlalu pagi…
Kupikir pertanyaan seperti itu akan datang nanti menjelang masa akhir kampanye jadi hal itu malah bisa kujadikan seolah sebagai closing statement yang kuat dan punya punching line yang menggelegar sebelum hari pencoblosan…
Tapi karena datangnya sekarang, ya sudah, mari duduk sini dengarkan aku menjawab pertanyaan kawanku tadi.
Kepindahanku ke Australia, November 2008 dulu, secara gamblang pernah kutulis di sini.
Keputusan itu kuambil secara sadar, tanpa paksaan dan tekanan dan melalui proses pemikiran dan pergumulan yang melibatkan akal, budi dan mencoba mendengarkan suara Tuhan dari semua sendi kehidupan yang ada waktu itu?
Tiga kata kunci, akal, budi dan Tuhan, bagiku amatlah penting untuk mengambil sebuah keputusan besar karena menyangkut hidup tak hanya milikku tapi juga keluargaku; karena aku tak mau gegabah mengambil opsi yang tak terlalu kuat dan kukuh yang akhirnya hanya akan membuat rasa sesal yang tiada berujung.
Jadi, secara to the point, jawaban untuk kawanku tadi adalah? jangankan Jokowi, isu-isu yang lebih besar dan personal yang pernah terjadi sebelum kini pun tak menggugatku untuk kembali menilik dan memikirkan ulang keputusan tadi. Keputusanku telah bulat, Australia adalah tanah hidupku dan Indonesia adalah tanah airku.
Tapi kalau aku menjawab model begini, jangan-jangan hal itu akan membuka pertanyaan selanjutnya dari yang lain, begini kira-kira, “Loh, kalau begitu kamu tak punya rasa nasionalisme, Don jadi buat apa kamu nulis tentang Jokowi dan milih Jokowi?”
Nasionalisme itu pertanyaan
Aku tak mau terjebak dalam omongan yang sifatnya konseptual, nasionalisme. Lebih setuju bagiku untuk mengambil kata temanku, Otong yang vokalis KOIL itu yang berujar, “Nasionalisme untuk negara ini adalah pertanyaan!” (Kenyataan Dalam Dunia Fantasi – KOIL)
Nasionalisme itu adalah sikap hidup dan bukti nyata.
Aku orang Indonesia, masih berpaspor Indonesia dan ketika ditanya orang sini, “Kamu berasal dari mana?” Preferensi jawabanku adalah “Indonesia!” bukan “Oh aku tinggal di Epping (nama daerah tempat tinggalku)” itulah nasionalisme!
Aku bekerja keras, selain untuk keluargaku, setiap aku mendapatkan ?credit point? orang tahu aku berasal dari Indonesia. Itulah nasionalisme!
Lebih dari itu? Biarkan Tuhan yang tahu, bukan kalian! Percayalah nasionalisme itu sungguh-sungguh hanya sebuah pertanyaan.
Tak percaya?
Lemparkan pertanyaan “Lebih besar manakah nasionalisme atau rasa cinta agamamu?” pada tokoh-tokoh?partai agama garis keras ataupun ormas-ormas pembawa nama agama yang kerap sweeping sana-sini…
Tak percaya?
Lemparkan pertanyaan “Lebih besar manakah nasionalisme atau rasa cinta pada materi?” pada?para koruptor…
Dan tanyakan pada tokoh-tokoh lain dengan materi nasionalisme versimu, niscaya kamu akan sepakat denganku dan kawanku, Otong, bahwa nasionalisme itu adalah benar-benar pertanyaan?
Menulis Jokowi
Tadinya aku nggak punya ide sama sekali untuk mendedikasikan blog ini menulis tentang Jokowi. Terlalu cemen untukku mengorbankan blog ?besar? ini untuk kepentingan yang waktu itu kupikir hanya sesaat dan nggak ngaruh untuk hidupku dan keluargaku karena toh aku tinggal di sini, bukan di sana.
Tapi kemudian seperti yang kutulis di sini, aku melihat ada gelagat yang tak baik jika Jokowi – JK tak menang. Aku khawatir dengan orang-orang di belakang tokoh seberang dan tiba-tiba aku membayangkan wajah-wajah kawan-kawan lamaku, saudara dan kerabatku, adikku dan keluarganya, mamaku dan kalian semua pembaca blog ini yang ada di Indonesia? aku merasa perlu melakukan sesuatu untuk bisa melihat wajah kalian tersenyum menjalani hidup, tak terpuruk seperti yang dulu pernah kita rasakan bersama, 32 tahun lamanya.
Kalau aku ada di Indonesia, usaha terbaikku barangkali adalah bergabung dengan komunitas-komunitas pendukung Jokowi-JK.
Tapi karena aku tinggal di sini, tiada lain, menulis secara maksimal di sini adalah yang terbaik.
Maka kulakukanlah semua ini.
Memilih Jokowi
Alasan tersingkatku kenapa aku memilih Jokowi adalah karena aku masih WNI, masih punya hak untuk memilih yang menurutku adalah yang terbaik.
Jawaban lebih panjangnya begini,
Aku ingin suatu waktu, kalian yang tinggal di Indonesia merasakan kemajuan taraf hidup, bukan sebagai sesuatu yang tiba-tiba jatuh dari langit, tapi sebagai sebuah proses yang bermula dari memilih presiden yang benar-benar mumpuni, Jokowi!
Aku ingin suatu waktu nanti kalian bisa mengejekku dan bilang bahwa keputusanku dulu untuk pindah ke Australia dari Indonesia adalah salah karena sekarang Indonesia telah begitu maju.
Pada saat yang kita nantikan itu tiba, aku akan angkat jempol untuk kalian meski aku akan bilang bahwa untuk semua kemajuan yang akan kalian terima, akupun ikut andil setidaknya dengan menyerahkan suaraku, hak pilihku untuk memilih Jokowi, 5 Juli (Piplres Sydney) nanti.
Saatnya menepuk dada dan hentakkan kaki ke bumi, Ini nasionalismeku, mana punyamu?!
Oh ya, hari minggu nanti, 29 Juni?2014, para pendukung Jokowi di Sydney dan sekitarnya akan mengadakan acara deklarasi dukungan di depan Sydney Opera House. Tertarik untuk datang? Langsung saja datang ke tempat acara. Kalau kalian tak bisa datang karena kendala jarak, tolong bantu kami dengan men-share dan like halaman facebook kami.
Sementara itu hari minggu lalu, kawan-kawan di Canberra telah pula mengadakan deklarasi, berikut ini foto dan simak pula videonya.


Tinggalkan Balasan