Ego…

10 Mar 2014 | Cetusan

Jumat minggu lalu aku pergi ke gym lebih awal karena volume pekerjaan yang tak terlalu berat…

Sesi kali itu sepertinya akan berjalan seperti biasa saja, aku melakukannya dengan semangat karena itu memang salah satu bagian dari hobiku, sama dengan hobiku menulis dan menayangkan tulisan di sini.

Tapi lantas semuanya berubah ketika aku hendak mengembalikan dumbell yang selesai kupakai ke atas rack.

Seorang pria yang usianya kutaksir sekitar 50-an tahun mendatangiku dan berkata, ?Sorry, tapi kamu mau nggak untuk nge-lap dumbell setelah kamu pakai??

Itu permintaan tak umum tapi lakukan saja biar nggak ramai!? and i did it!

Aku mendadak bengong.
Aku mulai nge-gym sejak sekitar tahun 1998 (meski up and down dan lebih banyak down-nya) tapi baru kali itu mendapat teguran dari seorang lain untuk melap dumbell setelah kupakai.

Kalau ditegur karena lalai mengembalikan dumbell atau beban ke rack, sering karena itu memang bagian dari etika dalam menggunakan fasilitas nge-gym bersama-sama dan aku sering lalai. Lupa ngelap permukaan bench pun juga wajar untuk diingatkan karena keringat yang muncul dari punggung sudah pasti akan mengenai permukaan bench, tapi diminta ngelap dumbell? Ya baru sekali itu!

Bagaimanapun juga ketika berolahraga terutama weight lifting activity, badan sesungguhnya tak berkeringat apalagi telapak tangan jadi ketika ia menyuruhku untuk mengelap dumbell yang baru saja kupakai, itu rasanya agak keterlaluan.

Tapi, ah sudahlah tak perlu kuambil pusing dan kutarik panjang! gumamku.

Aku mengambil tissue lalu melakukan hal yang sangat unusual dilakukan di gym, ngelap dumbell.

Beberapa orang lain yang melihat kejadian ini, yang kebanyakan sudah kukenal baik, hanya mengangkat bahu dan tersenyum datar seolah berkata, ?Itu permintaan tak umum tapi lakukan saja biar nggak ramai!? and i did it!

Aku lantas mencoba melanjutkan sisa aktivitas di gym seperti biasa.

Tapi ada sebagian hati yang tergiur untuk membalasnya.

Balas saja! Dengan cara yang elegan, Don! Aku tahu kamu suka segala sesuatu yang elegan? aku tahu cara untuk membalasnya dengan elegan!?bisik separuhku pada separuh yang lainnya.

Aku melirik si orang tadi. Kini ia menggunakan bench di mesin leg press. Handuknya tak dipakai untuk melapisi bench yang artinya keringat di punggungnya akan menempel di bench. Yurkkk!

Tunggu apakah ia ngelap atau tidak setelah ia memakai, jika tidak, hajar Don! Bilang kalau kamu hendak memakai bench itu, COULD YOU PLEASE F***KIN WIPE THIS BENCH FOR ME!??! Tanyakan itu! Tanyakan itu! Dengan tekanan sinis yang jadi kesukaanmu untuk ?menghajar? orang!

Ah tapi aku tak berencana untuk memakai bench itu jadi untuk apa aku memintanya ngelap?
Lho kan biar dendammu tunai!

Ah itu tak elegan karena ia akan tahu bahwa aku punya intensi melunasi dendam.

Lalu aku melupakan ide itu, dan membiarkannya untuk melenggang setelah memakai bench tanpa mengelapnya sama sekali.

* * *

Sesampainya di rumah, aku tak kuasa untuk menceritakan hal itu kepada istri dengan penuh berapi-api.

Gila tuh orang! tukasku pada istri ketika menyudahi runtutan cerita.

Tak terasa, emosi yang sebenarnya tak meledak di dalam gym tadi malah muncul dengan jaya ketika aku sedang bercerita pada istri.

Dan bagiku aku telah melakukan kesia-siaan besar. Sia-sia karena apa bedanya aku mengumbar emosi di depan istri untuk bercerita tentang si orang tadi sementara dari semula aku telah berniat untuk memaafkannya?

Kenapa aku tak memilih berkonfrontasi langsung dengan si orang tadi atau menuruti kehendak separuhku untuk membalaskan dendam biar tunai?

Meski kalau aku telah melakukannya pun aku tak berani ambil garansi bahwa aku tak emosi ketika bercerita di depan istri?

Kalau perkara amal dan dosa itu adalah perkara matematika, barangkali, aku baru menang setengah dan kalah setengah. Aku menang karena aku tak membalasnya, tapi aku kalah karena meski aku tak membalasnya tapi aku tetap menempatkan emosiku untuk sesaat menjadi raja tentang bagaimana bencinya aku diperlakukan beda di gym siang sebelumnya di hadapan istriku.

Dan satu lagi, dan ini yang paling menohok.
Aku justru mengumbar ego untuk kutampakkan seolah menganggap diriku baik karena mampu menguasai emosi dan memaafkan orang itu di depan istriku dan kini di hadapan kalian setidaknya melalui tulisan ini?

..aku memang pendosa besar?

Conf?teor Deo omnipot?nti?et vobis, fratres,
quia pecc?vi nimis?cogitati?ne, verbo,??pere et omissi?ne:
mea culpa, mea culpa,?mea m?xima culpa.

Sebarluaskan!

15 Komentar

  1. Itu paragraf terakhir artine apa mas Don? *seriustakon*

    Balas
    • Aku senang ada yang bertanya, Mas.
      Dan aku senang pula untuk menjelaskannya.

      Itu adalah penggalan doa pada tiap perayaan ekaristi (misa) Gereja Katolik Roma dalam bahasa latin. Artinya demikian kira-kira,
      Saya mengaku, kepada Allah yang Maha Kuasa dan kepada saudara sekalian bahwa saya telah berdosa besar melalui pikiran dan perkataan, saya berdosa, saya berdosa saya sungguh berdosa… :)

      Balas
  2. suwun mas Don, langsung dijawab. Aku tahu sekarang! :D

    Balas
  3. I confess to almighty God and to you my brothers and sisters,
    that I have sinned exceedingly in thought, word, deed and omission:
    through my fault, through my fault, my own most grievous fault.

    Balas
    • Hmmm… iki ceritane iso diberi judul, “Terkenang” iki :)

      Balas
  4. ah manusia kan memang pendosa…. :D
    Tapi setidaknya setelah kamu curhat kepada Joyce, lalu menuliskannya di sini, hatimu penuh damai dan melupakan orang tua, dan mendoakan agar dia tidak racist dsb dsb bukan? Jika dengan tulisan di sini segala perkara selesai, then its finish. Dan semoga begitu adanya.

    Menceritakan kekesalan kepada your spouse, your soulmate menurutku adalah suatu pelampiasan pada diri sendiri dan itu amat melegakan. Tentang menjadi tulisan, menurutku itu sebagai pengingat jika kamu baca lagi, kamu ingat “kebodohan” saat itu dan tentu supaya jangan terulang seperti itu lagi.

    Miserere nobis, Miserere nobis, Dona nobis pacem

    Balas
    • Ada manusia yang tak sadar dosa lho :)

      Balas
  5. Aku kok malah penasaran dengan respon istri njenengan, Mas :D

    Balas
    • Apa yang kau harapkan? :)

      Balas
  6. Teringat tulisanmu tentang “jimat” , yang kau cari sebelum berangkat berkelahi dan ternyata tidak jadi

    “Aku menang karena aku tak membalasnya”
    “tapi aku kalah karena meski aku tak membalasnya tapi aku tetap menempatkan emosiku untuk sesaat menjadi raja tentang bagaimana bencinya aku diperlakukan beda di gym siang sebelumnya di hadapan istriku.”

    wise move mate, dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. tapi nek nganti ping 3, wonge jajal kon ngicipi penyetan dumbell wae…

    Balas
    • Iki sopo yo ketoke wes tau kenal lan kerep mrene? :)))))
      Siyap dab!!!

      Balas
  7. Kenapa pusing Mas DV , lakukan sekali lagi ! Masih banyak kesempatan kan untuk ketemu orang itu lagi , kalau bertemu lagi maka bergayalah , lakukan sekali lagi dengan rencana yang sudah matang ! ^_^

    Balas
  8. Tapi semuanya tuntas mas ketika tulisan ini mengakui ego itu

    Balas
    • Hehehe semoga demikian :)

      Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.