Dunia, jerat dan kegunaannya bagi sesama

2 Des 2017 | Kabar Baik

“Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat.?
(Lukas 21:34)

Apakah orang Katolik boleh berpesta pora dan mementingkan hal-hal duniawi? Yang penting tidak ?sarat? , seperti dikatakan Yesus di atas, tak jadi soal. Tidak ?sarat? berarti tidak memenuhi hidup dengan hal-hal tersebut.

Lagipula, adakah orang yang mampu benar-benar hidup tanpa? sekali lagi tanpa bersinggungan dengan hal-hal duniawi ketika ia masih ada di dunia?

Bahkan kalung rosario yang kita pakai berdoa, salib yang kita pasang di rumah, piala, patena, palla, corporale dan semua alat misa yang dipergunakan pastor saat memimpin misa pun adalah alat-alat dunia?

Tentu kalian masih ingat bagaimana aku menuliskan pengalaman dan keputusanku untuk membeli iPhone X? Di sana aku menulis begini,

Jadi, ketika memilih untuk memperpanjang kontrak dan mendapatkan iPhone X, aku tetap yakin bisa jadi murid Yesus selama aku tak menempatkan diri dan ego ke dalamnya dan justru bagaimana aku harus mampu menggunakan gadget itu sebagai sarana untuk memuliakan Allah dalam kehidupan sehari-hari.?

Intinya adalah bagaimana menjadikan hal-hal duniawi sebagai sarana untuk memuliakan Allah. Prakteknya? Membuatnya berguna tak hanya bagi diri sendiri tapi bagi sesama, migunani tumraping liyan, kata orang Jawa.

Aku punya kawan dekat saat duduk di bangku SMA Kolese De Britto Yogyakarta dulu. Ia seorang musisi dan kini hidup berbahagia bersama keluarga di Jogja.

Ayahnya telah lama meninggal dunia dan beberapa tahun lalu ibunya yang dulu juga kukenal baik pun berpulang ke Rumah Bapa.

Rumah yang dulu ditinggali kawanku, orang tua beserta kakak-kakaknya yang sekarang sudah pergi merantau pun kosong melompong. Opsi untuk menjual lalu membagi uang penjualan dengan saudara kandung tentu ada tapi ia tidak melakukannya.

Atas kesepakatan bersama, kawanku tadi malah memperbaikinya lalu menjadikan rumah itu sebagai studio musik yang dibuka gratis bagi orang-orang sekeliling yang tak mampu tapi memiliki minat untuk berlatih musik dengan baik.

Hidup dan semua hal keduniawian yang ada di sekitar kita harus dijadikan berguna bagi sekeliling sehingga itu semua tidak menjerat kita bahkan sebaliknya, nama Allah dipermuliakan melalui hidup sehari-hari?

Sydney, 2 Desember 2017

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.