Dua skenario ‘sempalan’ tentang ladang, harta karun terpendam dan manusia

2 Agu 2017 | Kabar Baik

“Hal Kerajaan Sorga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu.”
(Matius 13:44)

Perumpamaan Kabar Baik hari ini menarik. Oleh Yesus, kerajaan surga diibaratkan sebagai harta yang terpendam di ladang, ditemukan orang, lalu dipendamnya lagi karena ia ingin menjual dulu seluruh harta miliknya untuk kemudian kembali membeli ladang tersebut.

Tapi yang kerap terjadi dalam hidup tidak demikian. Ada dua skenario ‘sempalan’.

Pertama, orang itu tak jadi menjual seluruh harta miliknya.

Sukacitanya setelah menemukan harta karun terpendam itu terkikis padahal niat untuk menjual harta miliknya tadinya sudah begitu tinggi. Orang itu merasa bimbang, adakah harta karun terpendam itu akan mampu membuatnya bersuka cita melebihi apa yang sudah didapatkannya sekarang? Jangan-jangan enggak?

Kita sering terjebak dalam euforia, sukacita sesaat, terhadap Tuhan tapi kemudian ketika kembali pada kehidupan sehari-hari, kita lupa bahwa kita pernah merasakan bahagia di dalamNya.

Sukacita harus dikelola dengan baik sehingga tak hanya melibatkan faktor emosi sesaat tapi juga kemantapan hati yang lahir dari proses penyadaran yang berlangsung terus-menerus bahwa sukacita di dalam Tuhan itu abadi meski harus menggunakan begitu banyak usaha dan keringat serta penyangkalan diri untuk mendapatkannya. Sedangkan sukacita duniawi itu meski menarik hati dan cenderung ‘mudah’ mendapatkannya tapi tetaplah suatu waktu akan berakhir sirna.

Kedua, orang itu menjual seluruh harta miliknya tapi lupa ladang sebelah mana yang menyimpan harta terpendam yang harusnya dibeli.

Seseorang memutuskan menjual seluruh harta lalu pergi kembali ke jalan menuju ladang dengan membawa seluruh uang hendak membeli ladang tersebut.

Tapi ia hilang arah. Lupa ladang sebelah mana yang harus dibeli. Karena putus asa, ia akhirnya membeli ladang sembarang dan berharap pilihan sembarangannya itu tepat di ladang tempat ia menemukan harta tadi.

Setelah menyerahkan seluruh nafsu duniawinya, seseorang memutuskan ikut jalan Tuhan tapi ia memilih jalan yang salah.

Akhir-akhir ini muncul begitu banyak ‘isme-isme’ baru, ajaran-ajaran dan tokoh-tokoh baru yang seolah menawarkan solusi terbaik yang lebih baik dari yang Tuhan berikan sekalipun. Mereka mencampuradukkan berbagai macam keyakinan, mengambil yang baik-baik, membuang yang tak baik; terkesan menarik tapi adakah jalan itu akan mengantarkan kita kepadaNya?

Kita sering kebingungan dan di titik inilah peran Roh Kudus amat penting untuk menuntun kita supaya tak memilih jalan yang salah.

Bagiku jalan adalah Yesus karena Dia lah jalan, kebenaran dan hidup. Yesus tak pernah menjanjikan jalan yang mudah. Kadang kita tersandung jatuh meski Ia menopang sehingga tak sampai kita tergeletak. Ia memberikan kekuatan untukku memanggul salib melewati via delarosa kehidupan hingga akhirnya kita semua beroleh kebenaran di dalam hidup kekal yang tak pernah berkesudahan di ladangNya.

Sydney, 2 Agustus 2017

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.