Doni Prima

11 Jun 2024 | Cetusan

Beberapa hari belakangan aku begitu menikmati interaksi dengan banyak kawan alumni SMP Negeri 1 Kebumen. 

Tak banyak memang yang tahu bahwa sebelum ke Jogja, aku menempuh pendidikan dasar dan menengah pertama di Kebumen, kota berjarak sekitar 110 km dari Yogyakarta itu. Sejak 1984 hingga 1998, keluarga orang tuaku tinggal di sana karena urusan dinas. 

Aku diundang ke grup percakapan di aplikasi WhatsApp bersua secara digital dengan mereka yang rata-rata tidak lagi pernah kutemui bahkan sejak lulus dari SMP, tiga puluh satu tahun lampau!

Hal pertama yang harus kulakukan (dan kuyakin juga dilakukan banyak kawan lain) adalah mengingat nama. Lupakan tentang wajah di profile picture karena jarak tiga puluh satu tahun tentu mengubah semuanya termasuk kulit wajah yang makin tak berkutik melawan tarikan gravitasi bumi! Begitu ingat nama tidak otomatis kita ingat siapa. Ingat nama dan ingat siapa tidak pula jadi jaminan untuk mengingat konteks bagaimana dulu kita berinteraksi. 

Tentu tak semuanya kulupa. Aku ingat Agung PS, Bowie, Budiarjo, Agung BM, Bayu Aji, Hendi Wijaya, Feri, Teguh, Rini, Wati, Lisa dan beberapa yang lain. Beberapa karena ada ingatan membekas dan beberapa yang lain memang masih aktif berinteraksi entah itu melalui social media ataupun melalui Whatsapp sebelum WA alumni terbentuk. (Aku dan kawan-kawan bahkan membentuk grup WA Magic Boys, gang “nakal” jaman SMP dulu sejak tahunan yang lalu).  

Tapi yang lain?
Duh ampunnn!
Yang namanya guguran sel otak adalah hal alami nan tak bisa terhindarkan karena usia, yekan?

Untungnya bukan aku sendirian tapi kebanyakan dari kami dan kita yang seusia.

“Lho kan kamu terkenal, Don? Masa mereka gak kenal kamu?”

Hayah! Nggak gitu juga lah!
Memang ada kasus unik terkait dengan hal ini! Ada seorang yang mengenalku sebagai blogger dan orang yang pernah jadi kumendan di sebuah situs portal kota Jogja dan dia sering mengambil berita dari sana untuk keperluan pekerjaannya… tapi dia tidak tahu bahwa Donny Verdian yang “itu” adalah teman SMP nya yang dulu. 

“Oh Donny Verdian itu Donny kamu tho… Kamu kan dulu Doni Prima?”

Nah Itu dia!  DONI PRIMA!
Waktu SMP, oleh sebagian kawan aku dikenal sebagai Doni Prima bukan Doni Verdian, Donny Verdian apalagi DV.

Kok bisa?
Karena nama tengahku memang Prima, sesuatu yang kemudian tak lagi sering kupakai sejak aku di Citraweb dimana aku sering menulis nama sebagai Donny P. Verdian (mengikuti apa yang dituliskan kawan lamaku, (alm) Kristupa W. Saragih) dan setelah pindah ke Australia, hampir sama sekali tak pernah kutulis lagi kecuali mengisi formulir-formulir penting.

Tapi kenapa Doni bukannya Donny? 
Ini lucu! Kalau kalian anak 90an dan inget masa lalu, ketika bersekolah, kita harus mengenakan label nama di dada kiri yang dilekatkan ke baju menggunakan peniti? Nah! Alih-alih tertulis Donny Prima, tukang pembuat labelnya menuliskannya sebagai “Doni Prima”

Seperti kutulis di atas, masalah nama hanyalah awalan. 

Ok! Aku Doni Prima! Tapi Doni Prima yang mana?
Tak semuanya ingat.

“Oh, aku Doni Prima yang sering dipanggil botol, gendul, gebyas, batuk cunong… karena jidatku memang lebar!” ujarku.

Sebagian ingat, sebagian belum ngeh juga.
“Oh,. aku Doni Prima yang dulu sering nyanyi di acara-acara sekolah!” tambahku.

Sebagian lagi yang lain jadi ingat tapi… masih ada yang belum!

“Oh, aku Doni Prima yang dulu ngedeketin si itu. Aku Doni yang orang Katolik (karena jumlahnya sangat sedikit!)”

Ada juga yang meraba masa lalu dengan mengungkap, “Bentar, kayaknya aku inget… oh kamu yang kemaki, sombong dan nuakaaaal itu kan?!”

Dari interaksi-interaksi itu aku merenung bahwa seseorang dikenal bukan hanya dari identitas yang disebutkan dan yang dibaca maupun yang dilihat. 

Identitas seseorang diketahui dari rangkaian pengalaman (experience) yang menyatu yang didapatkan ketika dua orang berinteraksi dan hal itu selalu lebih mengesankan dan punya peluang diingat lebih panjang daripada yang ditangkap indera satu per satu.

Uniknya, pengalaman itu tidak tetap. Kesan yang muncul pada satu saat bisa jadi berbeda dengan kesan yang muncul di saat lain. Bukannya karena kesan itu tidak konsisten atau penerima kesannya lupa tapi karena manusia yang memberi kesan pun berubah dan berdinamika.

Siapa sangka Doni Prima yang dikesankan banyak kawan sebagai sosok nakal waktu SMP adalah Donny Verdian yang lebih nakal lagi waktu SMA?

Siapa sangka seorang (alm) Pak Himawan, guruku Kimia waktu di SMA Kolese De Britto terheran ketika tahu muridnya yang nakal ini kemudian aktif dalam pelayanan Gereja di awal 2000 (kuyakin beliau juga nggak tahu bahwa ketika aku aktif dulu akupun ya masih nakal sesekali hahaha)?

Siapa sangka juga aku yang dulu begitu aktif dalam pelayanan sekarang menjelma menjadi seorang ayah yang katanya perhatian pada anak-anak dan juga seorang suami yang ah…. aku gak mau menuliskan biarkan Joyce sendiri yang nanti mengungkapkan!

Masa adalah kanvas yang dipakai orang untuk melukiskan seperti apa kita dalam ingatan sesuka dan seingin apa mereka menggambarkan.

Tak perlu gusar ketika lukisannya tak sesuai dengan apa yang kamu inginkan untuk digambarkan. 

Setidak gusarnya aku ketika ada kawan SMP yang di grup tiba-tiba bilang, “Wah, aku inget sekarang! Kamu adalah Doni Prima yang dulu meledakkan mercon di belakang perpustakaan sampai penjaga perpusnya pingsan itu ya?”

Aku bisa apa menanggapinya? 
Bisa saja aku bilang bukan aku pelakunya! Tapi kalau menyangkal, aku tahu dalam benaknya dia sudah menyiapkan prasangka lain yang mungkin lebih benar! “Iya, kamu pasti Doni yang itu! Karena setelah peristiwa itu kamu gak masuk sekolah beberapa hari dan aku jadi lebih nyaman duduk di kelas karena tali behaku jadi aman! Gak ada yang suka njepretin dari belakang!”

Untung orang itu adalah Doni Prima bukan Donny Verdian! Hmmm…

Sebarluaskan!

4 Komentar

  1. Masa SMP. Masa mencari jati diri.. Sampe sekarang masih belum tau alasan mengapa dipanggil doni botol… Wkwkwkwk

    Balas
  2. Doni sing tukang pecicilan dan rada tengil. Dulu… Satu yangbikin heran, matanya bisa mbelalak lebar gitu, gimana caranya, Don?

    Balas
    • Hahaha…. Indrajati, kawan lamaku yang hobi main pencak silat dan kalau mijetin enak banget.. aku aja gak tau caraku membelalakkan mata hahaha..

      Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.