Domba tak bergembala

10 Feb 2019 | Kabar Baik

Kepada orang-orang yang datang menjemput di pinggiran danau, Yesus berbelas kasih karena menurut Markus, keadaan mereka bagai domba yang tak bergembala. (lih. Markus 6:34)

Kenapa domba?

Pernahkah kalian terpikir, kenapa sih Yesus dan keempat penginjil itu demen banget menggunakan analogi domba terhadap manusia? Konon, ada 500 kali penyebutan kata ?domba? lho dalam Alkitab?

Menurutku, domba adalah hewan yang secara budaya sangat dekat dengan sejarah orang-orang Yahudi. Domba dipakai sebagai kurban persembahan. Jadi barangkali Yesus dan para penginjil menggunakan analogi domba supaya mudah diterima dengan nalar orang-orang yang mendengar/membacanya.

Binatang lemah

Selain itu, masih menurutku lagi, domba adalah simbol dari binatang yang sebenarnya tak bodoh-bodoh amat tapi karena tak bersenjata seperti macan, singa serta ular, domba dilukiskan sebagai sosok yang lemah.

Domba harus digembalakan karena kalau tidak bisa hilang satu-per-satu karena tergoda pada rumput yang hijau atau ya karena dimakan musang dan binatang buas lainnya. 

Orang-orang di pinggir danau itu barangkali kebingungan sehingga dianggap sebagai domba tak bergembala. Kenapa bingung? Karena mereka sudah mulai paham bahwa selama ini dibohongi oknum-oknum ahli Taurat dan kaum Farisi. Belum lagi setelah kematian Yohanes Pembaptis, mereka hilang arah. Di sisi lain mereka belum menemukan sosok pengganti dan berharap Yesuslah Sang Mesias yang dijanjikan.

Maka upaya Yesus untuk kemudian mengajar mereka adalah sesuatu yang bisa kita baca sebagai menawarkan diri untuk menjadi gembala mereka.

Tuhan tak pernah memaksa

Menawarkan diri?

Ya! Bagiku Yesus tak pernah memaksa orang untuk menjadi dombaNya. Pernahkah kamu dapatkan dalam teks Injil dimana Yesus memaksa orang untuk percaya kepadaNya? Tidak! Ia hanya menjelaskan dan menyatakan tentang diriNya, itupun tidak kepada setiap orang. Padahal, sebagai Anak Allah, Ia diberi kuasa untuk melakukan itu.

Lalu kenapa kok tidak memaksa?

Yesus menghargai kehendak bebas kita. Ia menghormati apa yang menjadi keputusan kita, ikut denganNya atau tidak. Hal ini semoga juga bisa jadi permenungan bagi kita bahwa meski kita diutus untuk mengabarkan Injil pada semua makhluk, pengabaran itu tidak muncul sebagai wujud pemaksaan. Jangankan memaksa, ?mem-framing? atau menciptakan kondisi dengan sengaja supaya orang berpindah pun tidak diperbolehkan.

Framing

Misalnya mem-framing itu gimana?

Katakanlah kamu punya perusahaan. Mentang-mentang kamu Katolik, lantas mereka yang non-Katolik kamu gaji lebih kecil dan kesempatan naik pangkat kamu sumpal hingga tak mungkin seseorang yang non-katolik menjabat sebagai manager.

Hal itu menurutku sudah salah karena mem-framing mereka untuk berpikir pindah agama jadi Katolik atau keluar karena kalau tetap di situ, hidupnya ya begitu-gitu terus.

Atau saat hendak menikah.

Meski kita tahu banyak orang yang pindah dari Katolik karena menikah, kita seyogyanya tidak memaksa pasangan untuk berpindah keyakinan menjadi Katolik hanya karena hendak menikah.

Pindah keyakinan harus muncul dari kesadaran diri dan buah dari kehendak bebas. Kalau Tuhan saja menghormati, apa hak kita untuk tidak mengindahkan kehendak bebas saudara-saudari kita, kan?

Sydney, 20 Februari 2019

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.