Dolly, riwayatmu…

17 Okt 2013 | Cetusan, Indonesia

Gang Dolly, pelacuran yang katanya terbesar di Asia Tenggara dan terletak di Surabaya itu siap ditutup akhir tahun ini.?Banyak orang merasa lega dengan tutupnya tempat prostitusi yang konon dibangun oleh seorang wanita Belanda itu meski pasti banyak juga yang keberatan apalagi mereka yang menggantungkan hidupnya dari pusaran uang yang ada di dalamnya.

Secara prinsip aku setuju dengan penutupan itu meski berani bertaruh, persetujuanku memiliki alasan yang jauh lebih keren ketimbang ‘Menghancurkan maksiat!’, atau ‘Pelacuran itu sampah dan penyakit masyarakat!’ Bagiku, bisnis pelacuran itu adalah bisnis yang tidak berimbang karena kenikmatan bisa saja dirasakan dua pihak yang bertransaksi, pelanggan maupun pelacurnya tapi kenapa pelanggannya yang harus bayar?

Loh Don, tapi pelacur itu melakukan pekerjaannya karena unsur keterpaksaan!
I dont think so! Karena bagiku ketika seorang benar-benar terpaksa, ia bisa dan mampu melakukan apa saja termasuk minggat dari rumah bordil dengan segala maca resiko atau membunuh mucikarinya untuk perkara yang paling ekstrim dengan tingkat keterpaksaan hampir menyentuh batas karena bagiku batas dari segala batas adalah ketika ia memutuskan untuk bunuh diri…

Penutupan Dolly sedikit banyak membawaku ke ingatan ketika awal-awal pindah ke Jogja, awal 90an.
Ketika itu, aku masih SMA, pusat lokalisasi Sanggrahan atau yang biasa dikenal sebagai SG, ditutup dengan alasan yang aku lupa entah apa. Tapi tutupnya SG ternyata tak mengakhiri petualangan pelacur-pelacur yang katanya mengaku ‘terpaksa melakukan hal itu’ karena mereka, meski mungkin ada yang benar-benar pensiun, malah bergabung dengan salon-salon dan panti pijat untuk memberikan layanan ‘plus-plus’ yang jauh lebih ekslusif dari SG dan tersembunyi; tak perlu ketahuan kenalan bahwa dirinya masih melacur dengan alasan, “Aku sekarang jadi kapster kok!” atau “Aku jadi tukang pijat!”

Jadi, apapun alasan penutupan Dolly sebenarnya tak berarti akan membasmi prostitusi di Surabaya.?Tempat-tempat ‘penampungan’ baru siap menerima lulusan Dolly untuk praktek lebih tenang dengan uang yang sepertinya lebih besar entah itu salon, panti pijat atau tempat-tempat lain yang mungkin justru akan menjadi inovasi terbaru karena tutupnya Dolly.

Semalam aku iseng berpikir efek-efek apa yang akan ada ketika Dolly dibubarkan, dan berikut cukilannya.

  1. Angka perceraian akan meningkat karena pelampiasan sesaat suami ketika ribut dengan istri tutup.
     
  2. Kalaupun angka perceraian tidak melonjak, poligami akan semakin marak. Istilahnya kalau waktu Dolly masih buka kita bisa beli sate kambing saja, sekarang kalau mau makan sate ya harus beli kambingnya sekalian!
     
  3. Akan banyak orang yang mendapat ‘hidayah’ pertobatan dan agama jadi semakin menarik dalam artian seluas-luasnya karena bakal banyak kisah ‘pelacur yang bertobat’
     
  4. Pemerintah kota akan mendapat pujian dan eh kan sebentar lagi PEMILU 2014, siapa tahu…. ya siapa tahu…
     
  5. Setelah era 90an tercipta lahan prostitusi baru seperti salon plus-plus, warung remang-remang dan panti pijat plus-plus, barangkali setelah Dolly tutup akan ada penemuan baru yang entah apa…
     
  6. Pemerintah kota setelah sekian waktu mendapat pujian tiba-tiba akan mendapat banyak protes dan kecaman baru dari warga yang semula barangkali jauh dari lokasi Dolly tapi kemudian jadi dekat dengan salon, panti pijat atau apapun itu yang mendadak jadi rame, penuh ingar-bingar musik dangdut dan anak-anak sering menemukan karet kondom di dekat teras halaman rumah.
     
  7. Kehidupan terus berjalan dan satwa-satwa di kebun binatang tetap punya potensi untuk ditelantarkan…
     
Sebarluaskan!

11 Komentar

  1. keinget beberapa tahun lalu, berita di koran menyebutkan bahwa ‘riset’ yang dilakukan salah satu PTN lokal, kawasan ini bisa mengumpulkan sperma 1,9 liter pada tanggal muda untuk 1malam :)

    Balas
    • wekss.. 1.9 liter itu berarti terbentuk dari berapa milyar/trilyun sel sperma ya? :)

      Balas
  2. Kalau benar Dolly akhirnya ditutup, saya rasa itu sebuah langkah yang bagus, maksud saya setidaknya para pemimpin disana bisa membuktikan apa yang dikatakannya. Tetapi soal apakah penutupan itu adalah pilihan terbaik, saya tidak tahu.

    Balas
    • Sepakat… yang juga aku tak tahu adalah apakah penutupan itu adalah pilihan yang sifatnya tulus atau ada misi tertentu dibaliknya :) Mari kita serahkan pada rumput yang bergoyang…

      Balas
  3. Kompleks pelacuran adalah tempat yang pasti ada di setiap negara, pada setiap jaman :)
    Apakah ada kota yang bersih dari pelacuran? Arab? Kan mereka punya harem hehehe

    Balas
    • Guru sejarahku dulu bilang, pelacuran adalah bisnis perintis seperti halnya lumut di padang nan tandus hahaha

      Balas
  4. Guru sejarahmu yang mana Mas? Om Sam?:P

    Balas
    • samino? :)

      Balas
  5. Bacanya antara mesem-mesem sama mengernyitkan dahi. Moh pro-kontra, alamiah, setiap tindakan mengandung konsekuensi. Konsekuensi baik dan buruk. Baik dan buruk, menurut siapa…
    Tapi yo bener juga, kalo ditutup, banyak yang euforia…padahal 2-3 langkah efek berikutnya secara natural mungkin akan sama kayak yang dipaparin. Keren tulisannya Mas!

    Balas
    • Sip :)

      Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.