Seorang teman, beberapa waktu lalu bercerita kepadaku tentang kondisi kehamilan istrinya melalui messenger. Ia, seperti halnya kebanyakan kalian, tinggal di Indonesia.
“Gimana, Dab?” tanyaku. Ya, ia orang Jogja makanya kupanggil ‘Dab’
“OK sih… tapi ada yang sedikit mengkhawatirkan jhe!”
“Oh, kenapa?”
“Dokter bilang ada masalah di kandungan istriku.. Placenta previa..”
“Wah, apa pula itu?”
“Entahlah, dokternya bilang cukup berbahaya, dan aku disuruhnya nyari informasi di internet!”
DANGGGHHHH!!!!
Aku terhenyak, dan spontan benakku berkata betapa bodohnya dokter itu karena ia menyarankan pasiennya untuk mencari informasi di internet.
Tak semua informasi, terutama tentang penyakit atau keadaan tubuh seseorang, di internet itu sesuai bila diterapkan pada masing-masing orang simply karena tiap orang memiliki kondisi yang berbeda-beda.
Bagiku, hal itu sama saja dengan melepaskan anak kucing yang baru lahir ke hutan alami, ia pasti akan kebingungan. Alih-alih mendapat penjelasan, bisa jadi si pasien malah tersesat dengan beragam informasi yang kadang banyak benarnya memang, tapi tak semuanya tepat untuk dijadikan solusi persoalan.
Tak semua informasi, terutama tentang penyakit atau keadaan tubuh seseorang, di internet itu sesuai bila diterapkan pada masing-masing orang simply karena tiap orang memiliki kondisi yang berbeda-beda.
Aku bisa berkata demikian karena aku pernah mengalaminya sendiri!
Beberapa waktu lalu, Odilia, anakku, mengalami satu kondisi khusus yang menurutku dan istri, setelah mencari informasi lewat internet, mengarah pada satu penyakit yang cukup mengkhawatirkan.
Tentu tak kan kuungkapkan di sini apa kondisi itu, tapi yang jelas waktu itu mungkin karena naluriku sebagai ‘anak IT’, lantas aku memilih untuk ‘browsing’ informasi ketimbang langsung membawanya ke dokter meski di Australia sini, jasa dokter adalah gratis bagi warganya.
Kami sangat bimbang. Nyaris semalam-malaman tak bisa tidur, sesekali memperhatikan kondisi Odi ,melihat gerak-geriknya, mengukur suhu tubuh, selebihnya fokus pada layar gadget masing-masing untuk mencari informasi sana-sini.
Uniknya, meski mencari informasi tentang satu penyakit yang sama, nyatanya ada begitu banyak pertentangan antara aku dengan istriku yang terjadi karena masing-masing dari kami membuka sumber yang berbeda-beda di internet.
Pagi harinya, karena sudah saking tak tahannya berada dalam bilik ketakutan dan kebingungan, kami lalu membawa Odilia ke dokter.
Tak lama setelah diperiksa, dokter berkata, “Ah, ini flu biasa… banyak-banyak dikasih air minum dan istirahat. Tiga hari masih dalam kondisi yang sama, kembali lagi nanti kureferensikan untuk mendapatkan antibiotik!”
Tapi aku tak begitu saja percaya, maklum, sekali lagi, sebagai ‘anak IT’ aku merasa internet dan informasi yang ada di dalamnya adalah segalanya.
“Lho, Dok… tapi kubaca semalam di internet katanya tanda-tanda itu mengacu ke sakit ini…” Istriku ikut pula menimpali, “Malah dibilang katanya mengkhawatirkan, Dok? Gimana itu?”
Dokter itu tak bergeming.
Ia menggeleng lalu berujar, “Kalian jangan menggunakan internet sebagai patokan. Ada begitu banyak informasi yang tak salah, tapi tak semuanya sesuai dengan kondisi anakmu, masing-masing orang toh beda…”
Dan aku tak perlu lagi memperpanjang perdebatan, bagiku penjelasan dokter itu adalah benar dan sangat masuk akal.
Itu sih dokter di sini… sekarang kita kembali ke soal dokter temanku tadi.
Bagiku, hanya ada tiga kemungkinan kenapa dokter yang dipercaya temanku tadi bertindak bodoh sekali.
Pertama, ia adalah dokter yang mungkin baru kenal internet sehingga dengan segala ketakjubannya pada teknologi tersebut ia tak ragu lagi untuk menyandarkan kejelasan informasi pada sesuatu yang tak terlampau jelas kepada pasiennya. Seolah ia ingin berkata, “Eh, coba cari jawabnya di internet.. Canggih lho, pasti ketemu!”
Hal ini logis terjadi meski untuk terjadi terlebih pada seorang dokter yang seharusnya adalah seorang intelek yang mengenal internet dengan baik. Tapi apa mau dikata, namanya juga dokter bodoh!
Kedua, bisa jadi ia adalah dokter yang tak menguasai bahan informasi tentang penyakit yang diderita istri temanku tadi. Mungkin sebenarnya ia kurang cakap untuk menjadi dokter atau bisa jadi ia lupa apa yang diajarkan di kampus dulu atau… ia malas membaca referensi sehingga tercetuslah kalimat, “Coba cari informasi tentang penyakit ini di internet!” Untuk yang satu ini, tak perlu lagi kuperjelas kenapa sematan gelar “bodoh” dariku ada padanya kan?
Nah yang ketiga, semoga sih ini tak benar-benar terjadi. Takutku, si dokter itu menyuruh pasien untuk mencari informasi di internet karena ia tahu efek yang akan dialami oleh pasien adalah ketakutan dan kebingungan karena semrawutnya informasi tentang penyakit di internet. Sehingga, alih-alih mendapatkan kejelasan, yang ada justru sebaliknya, tambah bingung lalu si pasien memutuskan untuk kembali mengunjungi kliniknya dan itu berarti pundi-pundi kekayaan sang dokter pun bertambah.
Wah, kalau sampai yang terakhir terjadi, aku tak tahu lagi harus memberi gelar apa terhadapnya karena kata “bodoh” bahkan “goblok” masih jauh lebih terhormat daripadanya.
Jadi, please, kalau kamu disuruh dokter untuk ‘browsing di internet’ tentang sebuah penyakit dan kamu kurang berani mengumpat “Goblok loe, Dok!”… ingatlah postingan ini, niscaya kau akan mendapat kekuatan tambahan saat itu juga!
Tinggalkan Balasan