Doa yang bertele-tele dan doa Bapa Kami yang konon diubah

20 Jun 2019 | Kabar Baik

Hari ini Yesus mengajak kita untuk berdoa secara tidak bertele-tele. BagiNya, doa yang bertele-teleadalah kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah yang menyangka doa yang panjang lah yang akan dikabulkan.

?Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya,? begitu kataNya seperti tertuang dalam Matius 6:8.

Bertele-tele vs terlalu singkat

Tapi sadarkah kamu, kalau kita tidak tahu batasan antara yang bertele-tele dan yang tidak, karena takut dianggap bertele-tele, seseorang bisa jadi memilih doa yang terlalu singkat?

Aku pernah menemui orang yang begini dan ketika kutanya alasan, jawabannya, ?Tuhan sudah tahu apa yang kuperlukan sejak sebelum aku mengucapkan, Don!? Lama-kelamaan, orang bisa saja tak berdoa sama sekali kalau begitu adanya karena untuk apa berdoa toh Ia sudah tahu apa yang kita perlukan tanpa harus diucapkan?

Doa secukupnya

Maka? Berdoalah secukupnya. Karena cukup berarti tidak bertele-tele dan tidak terlalu singkat. Ketika persoalan berat dan kita ingin curhat, ya mari curhat kepada Tuhan. Tentang doa dan curhat ini, salah satu kawanku, Zakharia, ia pelayan Tuhan di Papua mengungkapkan doa model ?curhat? versinya. Klik di sini untuk membaca seutuhnya artikel tersebut.

Bicara mengenai doa, akhir-akhir ini netizen dibikin gerah dan larut dalam diskusi dan debat yang bertele-tele terkait dengan adanya ?perubahan? kata dalam Doa Bapa Kami. Doa Bapa Kami adalah doa inti yang langsung diajarkan Yesus Kristus. Sekian lama kita berdoa itu, publik dikejutkan dengan berita miring tersebut. Padahal tak ada yang berubah dari rumusan asli doa Bapa Kami. Yang diubah adalah terjemahan doa Bapa Kami versi Bahasa Italia. Lha wong terjadinya di Italia kok kita yang ribut?

Bertele-tele berdoa, bertele-tele membahas doa Bapa Kami yang diubah?.

Ada beberapa kawan yang bertanya kepadaku, ?DV, kamu gak bikin tulisan soal perubahan doa Bapa Kami??

Aku menggeleng. Aku tidak tertarik. Untuk apa?

Bagiku, kalaupun perubahan itu ada, wewenang dan domainnya ada di hierarki Gereja Katolik. Tak perlu kita protes kalau tak setuju karena Gereja bukan lembaga rakyat. Sebagai umat, kita menurut saja apa yang diperintahkan Gereja karena kita percaya GerejaNya ada dalam rengkuhan Roh Kudus hingga akhir jaman.

Lho tapi kalau sampai berubah, maka itu perubahan sangat mendasar, DV!?

Ya katakanlah demikian, katakanlah memang suatu saat diubah, ya kita harus mengikuti kalau memang kita mau beriman taat kepadaNya.

Lagipula ada banyak hal yang bisa kita kerjakan untuk Karya Keselamatan Allah ini ketimbang bertele-tele berdoa, ketimbang bertele-tele membahas hal-hal terkait dengan perubahan doa Bapa Kami.

Mari kembali bekerja di Ladang Tuhan.

Sydney, 20 Juni 2019

Sebarluaskan!

1 Komentar

  1. Puji Tuhan Amin

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.