Doa dalam kerja, kerja dalam doa

11 Jul 2019 | Kabar Baik

Hari ini, dalam Kabar BaikNya, Yesus dikisahkan Matius memberi perintah kepada murid-muridNya. Perintah utamanya dua, pergilah dan beritakanlah bahwa Kerajaan Surga sudah dekat. (lih. Mat 10:7)

Santo Benediktus

Di saat yang bersamaan, hari ini Gereja Katolik memperingati pesta nama Santo Benediktus. Benediktus adalah salah satu santo yang memperkenalkan banyak aturan yang mempengaruhi pola hidup manusia modern sekarang ini. Salah satu yang kita kenal adalah semboyan ?Ora et Labora?, Berdoa dan bekerja.

Doa dalam kerja?

Berdoa saja, tidak menyelesaikan persoalan-persoalan hidup. Bekerja saja, tidak juga membuat hidupmu penuh. Keduanya harus berimbang dan saling melengkapi. Ada doa, ada penyadaran akan Berkat Tuhan dalam setiap hal yang kita kerjakan. Berdoa dan bekerja.

Lalu apa kaitannya dengan Kabar Baik hari ini? Kaitannya, perintah Yesus kepada para murid untuk ?Pergilah dan beritakanlah? adalah dua kata kerja. Para murid diminta untuk bekerja, pergi dan beritakan. Yesus menginginkan andil kerja nyata para murid. Ia tidak ingin kita diam dan pasif saja.

Aku punya cerita yang hendak kujadikan sebagai bahan permenungan di sini.

Suatu waktu, aku pernah berdebat kencang dengan seorang kawanku. Kami waktu itu sama-sama duduk dalam kepengurusan sebuah komunitas bina iman. Meski demkian, pandanganku kerap berbeda dengannya.

Bagiku, ia terlalu banyak berdoa. Baginya, aku tak pernah berdoa.

Ia selalu menyarankan bagi setiap pengurus untuk membuat rutin doa yang banyak dan ketat. 

Jam 6 pagi, ketika bangun tidur, doa!
Jam 9 pagi, ketika sampai kantor, doa!
Jam 12 siang, ketika istirahat siang, doa!
Jam 3 sore, doa!
Jam 6 sore, doa!
Jam 8 malam, doa!
Jam 11 malam, menjelang tidur, doa!

Aku melawan. ?Kalau kita doa sebanyak itu, lalu kapan kerjanya?? Aku lantas diminta untuk memberikan contoh rutin doa menurut versiku. Dan begini yang kutulis waktu itu.

Jam 6 pagi, ketika bangun tidur, doa!?
Jam 11 malam, menjelang tidur, doa!

Ada yang setuju dengan rutin doa versiku meski ada juga yang menganggap rutin doa kawanku tadi yang terbaik.

Doa dalam kerja, kerja dalam doa

Tapi pada akhirnya aku sadar, yang terpenting dari doa bukan kapan dirutinkan. Doa adalah sesuatu yang harus juga dihayati dalam kerja. 

Praktek terbaik, setidaknya menurutku, dalam mempraktekkan doa dan bekerja adalah bagaimana supaya setiap hal yang kita kerjakan selalu memiliki tujuan yang tak hanya bersifat lahiriah, misalnya, mencari uang. Lebih daripada itu, kita harus mampu memberikan muatan-muatan spiritual tentang apa yang kita kerjakan yaitu untuk kemuliaan nama Tuhan yang lebih besar.

Nama Tuhan kita permuliakan melalui perhatian kita pada keluarga dan masyarakat. Melalui pekerjaan, melalui hobi dan aktivitas-aktivitas kita lainnya. Melalui proses yang tak pendek, pada akhirnya nanti kita berani bertanya, masih adakah dari hidup kita yang belum kita pakai untuk memuliakan namaNya? Masih adakah sisi-sisi yang kita kerjakan dalam hidup yang tidak semuanya kita persembahkan untukNya?

Jika ya, masih adakah waktu untuk membuat segala hal yang kita lakukan di dunia ini semuanya kita tujukan untukNya?

Sydney, 11 Juli 2019

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.