Diskusi Kebangsaan Jokowi 2019 dalam prakiraan, persiapan dan kenyataan

21 Nov 2017 | Australia, Indonesia

Acara diskusi kebangsaan bertajuk ?Jokowi 2019?? (diskusi kebangsaan Jokowi 2019) yang kami adakan siang itu, Sabtu, 18 November 2017 ti Ashfield Town Hall, Ashfield, NSW, Australia berjalan lancar.

Ada haru menyelinap di tengah gempita bahagia yang kurasakan bersama kawan-kawan NKRI OZ Community Inc karena aku teringat perjalanan mempersiapkan acara yang penuh liku dan sama sekali tak mudah.

Rencana awal

Sekitar bulan Mei 2017, saat publik dikagetkan dengan kekalahan dan dipidananya Ahok, Andrew Wanandy, kawan sesama orang Indonesia yang tinggal di sini menghubungiku melalui sambungan telepon.

Ia menawariku jadi moderator pada sebuah acara diskusi kebangsaan yang sedianya akan diadakan pada september 2017.

?Kenapa gue, Ndrew??
?Loe beda! Dan justru karena beda itu loe pasti bisa bikin acaranya hidup karena opini yang disampaikan narasumber bisa dapat imbangannya!?

A-ha! Menarik juga! Akupun menerima ?pinangan? itu. Tapi sayang, setelah ikut dalam beberapa kali meeting, acara itu harus dibatalkan karena hal yang tak bisa kusebutkan di sini.

Tetap jalan?

Pembatalan acara itu cukup memukul tapi tak melukai. Justru kami bersyukur karena sudah terlanjur terpicu semangat untuk tetap berkumpul dan membuat acara keindonesiaan.

Kami berbincang, berdiskusi lantas bergegas memutuskan: acara dilanjutkan!

Tapi rencana itu lagi-lagi digagalkan karena salah seorang narasumber yang kami hadirkan mengundurkan diri seiring pengunduran diri salah satu mantan panitia.

Kami sempat hilang kendali. Jadi? Atau tak jadi saja?

Foto bersama para peserta setelah acara diskusi kebangsaan jokowi 2019 selesai

Foto bersama para peserta setelah acara diskusi kebangsaan jokowi 2019 selesai

NKRI OZ Community Inc.

Di tengah keterombang-ambingan itu, Dr Nur Arif Makful, MSc yang sedianya jadi narasumber kami yang lainnya menyarankan untuk tetap jalan.

Dan kami pikir benar juga!
Untuk lebih memantapkan langkah (dan sebenarnya untuk mengirit biaya ini dan itu) kami lantas membuat asosiasi resmi yang diakui pemerintah Australia sebagai pengundang pembicara dan penanggung jawab jalannya acara. Kenapa demikian? Karena dengan memiliki asosiasi, ongkos sewa gedung bisa kami irit dan kami percaya ketika mengundang tamu dari Indonesia sebagai pembicara, dalam urusan visa, keberadaan asosiasi sebagai pengundang bisa menunjukkan kejelasan dan keseriusan kepada pihak imigrasi Australia.

Maka terbentuklah NKRI OZ Community Inc. yang semula kami beri nama Care for NKRI. Dengan komunitas itu kami sadar telah berkomitmen dan amat sayang kalau komitmen itu hanya dipakai untuk menyelenggarakan satu acara lantas bubar. Kami sepakat untuk berjalan dalam jangka panjang.

Tantangan

Tantangan berikutnya adalah,

Siapa pembicara lainnya?
Apa yang dibicarakan?
Biaya?
Siapa saja yang perlu diundang?
Adakah yang mau datang?

Satu per satu hal tersebut kami selesaikan bersama-sama.

Aku mengusulkan nama Bhatara Ibnu Reza. Ia seorang peneliti senior IMPARSIAL sekaligus calon doktor International Humanitarian Law and Military Affairs dari University of New South Wales Australia.

Bhatara kukenal cukup lama, sejak awal masa pemerintahan Jokowi-JK 2014 silam. Saat itu kami sama-sama mendukung Jokowi pada Pilpres 2014.

Bhatara bagiku adalah sosok cerdas yang supel, bisa menyesuaikan diri dengan lawan bicara dan membawa topik percakapan yang sejatinya rumit jadi enak diperbincangkan. Nama Bhatara pun ditanggapi kawan-kawan NKRI OZ Community Inc. dengan baik.

Persiapan beranjak ke fase berikutnya yaitu mulai mengurus visa dan tiket pesawat untuk Mas Nur Arief serta booking tempat pelaksanaan.

Semuanya membutuhkan biaya yang lantas membuat kami harus tidak menggratiskan acara tersebut. Untuk umum, harga tiket kami bandrol seharga $15, sedangkan untuk mahasiswa kami beri harga spesial, $5.

Hasilnya mudah ditebak.
Tiket kami tak laku! Tak ada yang meminati! Ada yang alasannya kemahalan, ada yang tunggu nanti-nanti saja daftarnya meski ada juga yang secara terbuka berkata, ?Pembicaranya nggak terkenal??

Bhatara dan Mas Nur Arif memang bukan selebritis tapi mereka bukan orang sembarangan. Datang dari latar belakang akademisi, mereka tahu bahwa apa yang dilontarkan harus mampu dipertanggungjawabkan dengan teori yang mereka pelajari bukan opini pasar atau gosip warung kopi tanpa dasar literasi.

Jadi, kami cuek bebek aja!
Salah satu kawan berkoar, ?Kalau yang datang banyak kita bersyukur tapi kalau yang datang sedikit ya anggap aja kita bikin acara nongkrong dan kongkow bareng-bareng kita aja?.?

Tekad kami untuk membuat acara ini terjadi memang sudah bulat? lat? lat!

Foto bersama para peserta setelah acara diskusi kebangsaan jokowi 2019 selesai

Foto bersama para peserta setelah acara diskusi kebangsaan jokowi 2019 selesai

?Tangan Tuhan?

Seminggu sebelum acara diadakan perkembangan jumlah peserta belum juga menggembirakan tapi kami tetap bergembira karena acara akan segera dilangsungkan dalam beberapa hari ke depan.

Hari Kamis, dua hari sebelum pelaksanaan, aku bertemu dengan dua orang guru dari almamaterku, SMA Kolese De Britto Yogyakarta, Mas Herry dan Mbak Rosa. Keduanya datang bersama guru-guru kolese (sekolah yang diasuh kaum Yesuit) lain dari Indonesia untuk belajar semingguan lamanya di Sydney.

Dalam percakapan dengan mereka, akupun mengundang mereka untuk datang pada acara kami. Dan bukan kebetulan bahwa Andrew, Albert dan Johan (rekan-rekan lain di NKRI OZ Community Inc.) adalah lulusan Kolese Kanisius, aku lantas meminta Mas Herry dan Mbak Rosa untuk mengajak guru-guru dari Kanisius hadir juga.

flyer acara diskusi kebangsaan jokowi 2019

flyer acara diskusi kebangsaan jokowi 2019

Diskusi kebangsaan jokowi 2019

Gayung bersambut.
Mereka bahkan tak hanya datang dari dua kolese itu saja tapi juga guru-guru dari seluruh kolese yang belajar hadir dalam acara kami. Mereka datang selain dari De Britto dan Kanisius juga dari Kolese Gonzaga (Jakarta), Kolese Mikhael (Surakarta), Kolese Loyola (Semarang) dan Seminari Mertoyudan (Magelang).

Mereka, para guru itu, hadir membaur dengan warga diaspora serta mahasiswa Indonesia yang hadir secara khidmat dalam acara.

Dari situ aku sangat merasakan betapa Tuhan pun turun tangan! Ia memberikan jalan dan menutup setiap celah kelemahan. Segala wujud kekhawatiran dan ketidaksiapan, digantiNya dengan keyakinan dan kesigapan.

Saat hampir dikatakan amat jarang orang yang mau datang, Ia mengutus para guru untuk menemani rekan-rekan diaspora dan teman mahasiswa lain yang telah sudi hadir.

Ia mengubah semua prakiraan buruk jadi baik bahkan yang terbaik seperti halnya cuaca sore itu yang diperkirakan hujan jadi kering kerontang.

?sesaat setelah MC, Imelda Santoso, mengundangku untuk memimpin lagu Indonesia Raya, aku meminta hadirin bangkit berdiri. Aku mengambil aba-aba ?Hiduplah Indonesia Raya? dan lagu suci nan berharga itupun berkumandang dilantunkan meski hanya oleh segelintir anak bangsa. Tak mengapa karena toh semangat kami mampu tetap menggelora dan gaungnya terdengar hingga lima ribu kilometer jauhnya ke sisi barat laut ke arah Tanah Air tercinta.

?Indonesia Raya? merdeka.. merdeka.. Tanahku, negriku yang kucinta!?

Oh ya, video di bawah ini adalah bagaimana aku, dua guru De Britto dan para alumni Kanisius yang tinggal di Sydney bersama para guru Kanisius menyanyikan mars De Britto dan mars Kanisius secara bersamaan.

Simak beberapa liputan media terkait acara kami di Tempo, JPNN dan Liputan6.

Sebarluaskan!

1 Komentar

  1. Great moment, inspiring discussion

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.