Dilarang kaya? Ini perkara zona nyaman, Bung!

11 Sep 2019 | Kabar Baik

Apa yang dikatakan Tuhan Yesus hari ini, terutama ayat berikut sering dibaca sebagai sebuah pernyataan bahwa kita dilarang kaya? “Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah? (Lukas 6:20) dan ?Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu.? (Lukas 6:24). Hari ini, aku melihatnya tidak demikian. Ada perkara yang lebih besar daripada kaya-miskin dan perkara itu adalah zona nyaman.

Apa salahnya menjadi kaya?

Apa salah orang yang terlahir sudah dalam berkelimpahan berkat? Apa salah orang yang bekerja cerdas dan keras dengan halal dan akhirnya mendapatkan imbalan yang banyak?

Sebaliknya, apakah bisa dibenarkan orang yang miskin karena malas? Adakah layak orang yang tertindas karena dirinya membiarkan yang kuat menggilas tanpa sedikit pun melakukan perlawanan?

Bangun dari zona nyaman

Yang ?kubaca? hari ini adalah tentang bagaimana Tuhan mengajak kita untuk bangun dari zona nyaman.

Kamu kaya? Jangan terbuai dalam kenikmatan dunia! Kamu miskin? Jangan terjebak dalam kemalasan atau rintihan dan keluhan yang tak berkesudahan.

Orang kaya tidak dilarang kaya. Mereka diajak untuk mengartikulasikan kekayaannya sebagai hal yang wajib dibagikan kepada sesama. Orang miskin diajak untuk berpikir positif dan tak putus asa dalam berusaha.

Zona nyaman dalam beragama

Perkara zona nyaman, dalam konteks hari-hari ini, tak hanya terjadi dalam jenjang kaya-miskin. Ajakan Yesus untuk tidak larut dalam kenyamanan juga muncul ketika kita bicara tentang cara hidup beragama kita.

Dalam tulisanku yang kurilis bulan lalu, aku mengutip apa yang dikatakan Paus Fransiskus seperti di bawah ini:

How many times do we see the scandal of those people who go to church, and are there all day or go every day, and then they live hating others or talking badly about people. This is a scandal. It is better not to go to Church if you live like that, like an atheist. But if you go to Church, live like a child, like a sibling, and give a true testimony, not a false testimony.? (Berapa kali kita melihat skandal dari orang-orang yang rajin pergi ke gereja, bahkan mereka pergi setiap hari, namun (mereka) tetap saling membenci dan membicarakan keburukan orang lain. Lebih baik seperti atheis, tidak usah ke gereja kalau hidupmu seperti itu. Kalau kamu pergi ke gereja, hiduplah seperti anak-anak, seperti saudara dan berikan kesaksian yang benar bukan kesaksian yang salah ? terjemahan sederhana).

Orang beragama ditantang untuk melepaskan diri dari zona nyaman. Banyak orang berpikir bahwa dengan beragama maka kita diselamatkan. Bahwa dengan beragama kita sudah lebih baik dari orang lain sehingga membicarakan keburukan orang lain seolah menjadi hak bawaan dari para pemeluk agama.

Padahal? Tidak demikian adanya.
Keselamatan itu perlu keringat, darah dan cucuran air mata. Ketika kamu mengaku beragama, mengaku sudah diselamatkan dan mengaku sudah nyaman dengan keselamatan ya jangan-jangan kamu memang sudah diselamatkan?sekarang. Bukan keselamatan yang nanti. Bukan keselamatan yang kelak nan abadi.

Sydney, 11 September 2019

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.