Dikenyangkan untuk menyenangkan

5 Des 2018 | Kabar Baik

Setelah menyusuri pantai sepanjang Danau Galilea, Yesus hari ini, seperti ditulis Matius dalam Kabar BaikNya, naik ke atas bukit dan duduk di situ. (Mat 15:29-37) Orang banyak pun berbondong-bondong datang kepadaNya membawa para sakit untuk minta disembuhkanNya. Dan semua itu dikerjakan olehNya.

Tak hanya menyembuhkan, Yesus juga memberi mereka makan. Berbekal tujuh potong roti dan beberapa ikan kecil, Yesus melakukan mukjizat sehingga dari yang sedikit itu diubahNya jadi banyak untuk mengenyangkan orang-orang yang sudah tiga hari mengikuti.

Kata ?kenyang? mengingatkanku pada pengalaman saat kecil dulu.

Pada Pemilu 1992, waktu itu aku duduk di bangku SMP kelas dua, aku diajak Papa menemaninya bertugas sukarela memberikan dukungan komunikasi (dukom) pada sebuah TPS (Tempat Pemungutan Suara) di area terpencil.

Waktu itu internet belum dikenal dan kebetulan Papa aktif dalam ORARI (Organisasi Radio Amatir Indonesia). Panitia Pemilu meminta bantuan Papa dan kawan-kawan di ORARI untuk memberikan dukungan komunikasi dalam ketersediaan informasi hasil penghitungan suara secara terpadu dan dalam waktu yang singkat.

Kukatakan terpencil karena letaknya memang benar-benar terpencil. Dari areal memarkir mobil, kami harus naik ke perbukitan selama lebih kurang satu jam hingga akhirnya sampai di TPS.

Tiba di TPS sekitar jam dua belas siang, satu jam lebih awal dari waktu penutupan dan penghitungan, keringat sudah mengucur deras dan rasa lapar menggeliat.

Para pengurus TPS memahami keadaan kami. Mereka telah menyediakan makanan khas pedesaan yang menyenangkan, sayur lodeh, ikan teri asin, tempe, tahu, ayam goreng dan sambel pedas.

Kamipun makan dengan lahap. Saking lahapnya, aku makan terlalu banyak hingga kekenyangan. Angin perbukitan pun berhembus tak lama kemudian dan seperti mudah ditebak, aku jadi ngantuk. 

Aku lantas membisiki Papa, ?Pa, aku ngantuk!?

Papa tersenyum lalu bilang, ?Kamu kekenyangan? ya udah tidur sana??

Aku minta ijin ke ketua TPS untuk tiduran di sebuah amben tanpa kasur yang tersedia tak jauh dari TPS. Lalu aku terlelap hingga akhirnya sekitar jam 4 sore, Papa membangunkanku, ?Le?. tangi Le? wes rampung! (Nak, bangun Nak.. sudah selesai)!?

Aku kaget? Busyet aku tidur hampir tiga jam?!

Papa tersenyum lalu kami bergegas pulang setelah pamitan. DI sepanjang jalan aku berulang-kali bertanya pada Papa apa saja yang terjadi selama penghitungan suara dan bagaimana Papa membuat laporan dan melaporkan hasil perhitungan lewat perangkat radionya.

Ternyata semuanya begitu mengasyikkan dan membuatku menyesal lalu berkata, ?Wah, aku nggak ngalami sendiri ya!?

Kisah masa laluku ini kujadikan bahan permenungan Kabar Baik hari ini.  Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan termasuk makanan yang membuat kita kenyang. Pertanyaannya sekarang, setelah dikenyangkan lalu ngapain?

Ada dua pilihan mau jadi seperti Papaku atau sepertiku.

Papa, meski aku yakin juga ngantuk karena kekenyangan memilih untuk terus menjalankan tugas yang diembannya sementara aku tidak. Aku menyerah pada rasa kantuk dan tertidur.

Tuhan tak pernah melanggar janjiNya. Ia mengenyangkan kita yang memang memerlukan makan, berkat dan rejeki. Tapi lantas apa makna dikenyangkan? Kamu bisa saja tertidur dalam ?keterlenaan duniawi? lalu ketika kamu bangun semuanya sudah terlambat karena sudah ?selesai?.

Tapi bisa saja dan semoga kita semua bisa mengartikan bahwa dikenyangkan untuk menyenangkan! Ya! Tuhan mengenyangkan kita supaya kita menyenangkan hatiNya melalui pengabdian dan menjadi saksi atas kebaikanNya melalui berbuat baik bagi sesama!

Sydney, 5 Desember 2018

Jangan lupa isi Survey Kabar Baik 2018. Hasil isian kalian dalam survey tersebut sangat mempengaruhi bagaimana pola tulisan dan distribusi renungan Kabar Baik ini akan berkelanjutan. Klik di sini untuk informasi selengkapnya!

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.