Dan dia datang kembali!
Sahabat lama merangkap bekas batur yang kerap menunggui malam-malam sepiku di bekas kantor dulu,
sekaligus preman ndeso yang kalau ngomong suka ngotot sampai urat di lehernya bisa berereksi sebesar jari kelingking dengan mata memerah marah…. ladies and gentlemen please welcome, Mr Tunggonono!
Yup, dia datang kemarin pagi, memecah keheninganku ketika tengah berkonsentrasi demi terlepasnya beberapa buah tinja di
lubang pembuangan.
“Halo, Bos… pripun kabarnya?”
Akupun terperanjat, “Eh… kowe tho, Nggon… so how is.. eh piye kabarmu?”
“Sae Bos.. wah si Bos katanya dah dapet kerjaan ya?”
Aku semangkin kaget lagi!
Tak menyangka bahwa dia masih juga membuka blog ini meski aku sudah bukan pula Bosnya.
Acara membuang tinja dan proses pencapaian keheningan itupun kutinggalkan.
Kupersilakan Tunggonono masuk ke ruang tamu dan duduk di sofa lalu ia mulai bertanya layaknya wartawan meng-interview artis ternama. O well, tentu Tunggonono menjadi wartawannya dan aku artisnya.
Tunggonono (T) : Sampeyan kerja dimana jhe, Bos ?
Donny Verdian (DV) : Oh, nama perusahaan nggak penting lah… tapi itu perusahaan holding management yang meng-internasional. Berbasis di Australia dan memiliki kantor cabang di London, Amsterdam, Singapore dan Hongkong. Bisnis intinya adalah finance information, mulai dari majalah sampai live information seperti harga saham dan currency melalui handphone dan pager.
T : Wuih sangar ik! Njuk sampeyan jadi apa di situ Bos?
DV : Yang pasti ndak jadi kayak kamu! Hehehehehe…. Nganu, aku jadi web designer dan merangkap jadi web developer.
T : Weh, nggak kreatif! Dari dulu kok jadi itu itu terus..!
DV : Yo ben! Biarin! Lha mau gimana lagi, yang bisa kujual dariku baru itu jhe. Nek mendadak kamu dengar aku jadi keple lanang rak yo kamu sendiri yang terkaget-kaget tho hehehehehe…
T : Trus kerjanya gimana? Brangkat kerja naik apa dan jam berapa ?
DV : Walah pitakonmu koyo pulisi wae! Kerjaku ya gitu, mulai dari drafting, meeting, designing, cutting, scripting, hosting, maintaining! Dan aku ngerjakannya semua sendirian!
T : Maksudnya, Bos ?
DV : Yupe, aku belum punya team. Jadi aku ngerjain semuanya lalu kulaporkan ke Bos ku tiap deadline datang.
T : Trus, kok pertanyaanku belum dijawab, Bos! Berangkat jam berapa dan naik apa ?
DV : Eh iya, lupa! Aku berangkat jam setengah tujuh pagi naik bis dari rumah ke City lalu dari City ganti bis ke tempat kerja. Aku masuk jam 8.30 pagi.
T : Weh kok risik! Lha nek gitu njuk bangunnya jam berapa ?
DV : Hehehehe, percoyo sukur ra percoyo ra popo… aku bangun jam LIMA PAGI!!!!
T : (tersedak.. terbatuk-batuk) Ah, tenannya! Si Bos ini ada-ada saja… Lha wong dulu jam 4 pagi aja baru mau tidur kok …
DV : Read the below line deh! Percoyo sukur.. ra percoyo ayo tawur!!
T : Alaaaah si Bos, emosinya masih teteuppp! Njuk itu teman kerja si Bos orang mana aja ?
DV : Kan kubilang di atas aku kerja sendirian, tapi bosku dan partner di divisi lain semua orang bule.. Bule pendatang dari Eropa dan bule Australia. Orang asia nya cuman dua orang, aku dan seorang lagi akuntan, dia orang China Mainland.
T : Weh ampuhhh.. berarti si Bos ngomongnya pake Bahasa Enggres dong!
DV : Yupe.. arep piye meneh! Lha mereka kuajak omong Bahasa Indonesia yo ora nyahut opo meneh nganggo boso walikan Jogja khas mBeji, yo tambah mumet!
T : Wah si Bos jauh-jauh ke Australia kok ya masih inget mBeji tho?
DV : Hehehehe, yo masih lah Nggon… walau gajiku dollar, tinggalku di Sydney tapi aku orang Indonesia, orang Jogja!
T : Jogja po Klaten ? Hahahaha ngaku-ngaku lho sampeyan ini…
DV : Ra sah cangkeman, Nggon! Hahahahhaa….. Klaten Jogja mung berjarak 30 kilo wae lho…
T : Nahhh, ngomong-omong soal gaji, pasti gede ya tho… hayo mbok ngaku Bos, berapa gajimu!
DV : Hushhh! Ra patut, ra elok… ra usah…!
T : Hahahahaha, si Bos jaga jarak sekarang! Lha trus dibandingkan dengan kerjaan yang dulu, enakan mana Bos ?
DV : Iki ra nyangkut gaji tho ?
T : Ora …
DV: Ok! Pada prinsipnya nggak ada yang lebih enak dan lebih nggak enak. Semuanya saling melengkapi. Ilmu dan pengalaman yang aku dapatkan di kantor tempatmu sekarang kerja itu migunani banget tumraping prakaryanku sing saiki!
T : Alahh si Bos ini njawabnya sok diplomatis banget! Mbok sing jujur!
DV : Lhoo itu udah jujur jhe! Kowe ki piye tho! Ini sudah jujur… Semua bagus. Kamu itu harusnya membayangkan bahwa sepanjang hidup ini seperti layaknya membangun jembatan. Kamu mulai dari ujung yang satu lalu pelan-pelan ke ujung lain sehingga setiap inchi dari apa yang sudah kamu bangun di belakang itu, semua sungguh saling mendukung dengan apa yang sedang dan akan kamu rampungkan, Nggon…
T : (manggut-manggut) Hmmm. gitu tho… lha njuk sampeyan tapi yang pasti udah nggak jadi Bos ya? Berarti sibuk banget?
DV : So far sih nggak… Aku pulang selalu sesuai kontrak, jam lima sore teett aku wes budhal bali. Ya paling di kerjaanku yang baru ini aku nggak bisa chatting dan browsing dan blogging sebebas dulu, katakanlah itu sebagai ketidakenakan, bolehlah… hehehe…
T : Halah.. tapi gajinya kan gede tho Bos…
DV : (tersenyum manis) … We lah, kowe kok nyangkutke soal gaji lagi tho ?
T : Ah si Bos ini kok cuma ditanyain gaji wae lho hehehehe…
DV : Ealah lha pentingmu ki opo jhe ?!? Ngaku gede gajiku ke kamu itu untuk apaaaa…? Opo yo nek ngaku ke kamu njuk aku bisa berubah jadi Spiderman ? (rodo ra nyambung)
T : Halah… si Bos kok malah mau jadi Spiderman juga.. Opo tumon!
DV : Yo ben!
T : Ayolah.. Bos.. Bos.. (mengembik) mbok ngaku…
DV : (melembut) Ah, udah lah…. ra penak Nggon… apalagi ini kan media blog.. media umum.. semua orang jadi tahu nanti… njuk ngira aku sombong dan nggak membumi lagi..
T : Ealahhh lha wong blog ya blog sampeyan sendiri lho… Ya wes, dibisiki saja, biar ndak ada yang denger!
DV : (terdiam… tercenung cukup lama lalu pelan-pelan memberi isyarat angka dengan menggunakan jari-jemari tangannya.) Segini Nggon kelipatannya…. Wes jelas ?
Tak ada jawaban dari Tunggonono. Pandang matanya nanar dan mulutnya plonga-plongo melihat jari tanganku yang masih kuacungkan itu.
“Nggon, are you ok?”
“Oh… ok. okkk… Yes.. ok, Bos!”
“Lha kenapa kamu kok tiba-tiba terdiam gitu?”
“Nganu, saya kok tiba-tiba jadi ngitung berapa jumlah gajimu sekarang, Bos!”
“Halah…. kamu ngga usah gitu, lha wong gajiku dulu aja kamu juga ngga tau tho..?!”
Akupun tertawa nggleges ….
Lalu tak lama kemudian, Tunggonono pamit pulang.
“Ya wes Bos! Saya tak pamit! Nanti malam saya mangsuk jaga malam jhe!”
“We lha, ini juga baru mau kubikinkan kopi jhe.. kamu itu kok tergesa-gesa….”
“Lha besok-besok maen lagi kalau ada kabar gembira…. hehehehe”
“Oh ya wes nek gitu, salam buat para bosmu dan teman-teman semua di sana ya… Salam dariku sebagai saudara jauh ya!” balasku.
Tunggonono mengangguk dan sekejap kemudian ia telah kuantar hingga ke ujung depan halaman rumah.
“Bos…”
“Ya, apalagi, Nggon?”
“Nganu… nek gitu sesuk saya juga nitip CV ke sampeyan, Bos!”
“CV? Curriculum Vitae maksudmu? Buat apa?” tanyaku.
“Hehehe iseng-iseng ngelamar sapa tahu bisa dapat yang lebih bagus di sini dan berlipat-lipat gajinya seperti si Bos tho…hehehehe”
Sekarang giliran aku yang plonga-plongo mendengar omongan Tunggonono sementara ia mulai melangkah pergi sambil tak juga menghabiskan tawanya.
Yang tersisa sekarang tinggal gelak tawa dan bayangannya yang semakin pupus ditelan jarak dan akhirnya lenyap ditelan kabut malam yang hingga sepagi itu belum juga dilibaskan oleh hari.
Tinggalkan Balasan