Dibenci karena keyakinan, melawan dengan penuh martabat

12 Apr 2019 | Kabar Baik

Yesus telah berbuat begitu banyak hal baik melalui mukjizat-mukjizat dan rangkaian pengajaran yang mencerahkan. Tapi yang didapat? Ia malah hendak dilempari oleh orang-orang Yahudi. Wajar jika Yesus pun bertanya, ?Pekerjaan manakah di antaranya yang menyebabkan kamu mau melempari Aku?” (lih. Yoh 10:32)

Tapi rupanya bukan pekerjaan-pekerjaan itu yang membuat mereka marah. Mereka melempari karena Yesus dianggap menghujat Allah dan karena Ia menyamakan diri dengan Allah. 

Dibenci karena keyakinan?

Dalam konteks hidup sekarang ini, peristiwa seseorang dibenci, dikucilkan, dihukum, bahkan dibunuh karena keyakinan pun masih kerap terjadi. Penghakiman bukan didasarkan pada apa yang telah kita kerjakan tapi terhadap iman kita yang dianggap berseberangan.

Lihatlah peristiwa perusakan rumah-rumah ibadah atau persekusi terhadap mereka yang sedang berkumpul untuk berdoa. Adakah hal itu semua dilakukan karena orang-orang yang beribadah tersebut tidak pernah berbuat baik atau? karena mereka berbeda iman saja?

Ada juga kawanku yang dikucilkan di perusahaan tempat ia bekerja hanya karena keyakinannya berbeda dari bos dan kebanyakan rekan yang bekerja di sana.

Belum lagi maraknya penolakan bantuan pada saat terjadi bencana alam hanya karena si donatur berbeda iman terhadap yang akan dibantu dan mereka takut iman tergoyahkan karena menerima bantuan tersebut.

Kita dan mereka, kita bukan mereka

Kenapa hal seperti itu terus-menerus terjadi hingga kini? Adakah yang salah?

Kita tidak tahu dan sejatinya itu bukan urusan kita sama sekali untuk mempertanyakan. Takutnya justru ketika kita mulai terusik dan bereaksi tak baik terhadap mereka lantas dimana beda antara kita dengan mereka?

Menghadapi perlakuan seperti itu, kita dituntut untuk tetap sabar. Melawan itu harus tapi melawan dengan penuh martabat sebagai umat Allah.

Melawan dengan penuh martabat

Yesus, dalam perikop Kabar Baik hari ini yang ditulis Yohanes, tidak membalas. Ia memilih pergi dan tetap melakukan pelayanan di tempat lain. Itulah perlawanan. Perlawanan bukan balas dendam. Perlawanan adalah melanjutkan misi yang kita emban meskipun besar tantangan dan rintangannya.

Apa misi kita??
Menyebarkan kasih kepada sesama. Mengasihi siapa saja termasuk mereka yang menyakiti dan menghakimi kita!

Tapi, DV, mana mudah sih disudutkan tapi tetap harus mengasihi mereka yang menyudutkan?

Mikirnya gini aja. Ibarat orang naik gunung, ketika jalur semakin menanjak dan langkah kaki terasa semakin berat bukankah itu pertanda puncak sudah dekat? 

Terus berjuang, maju terus pantang kendur apalagi mundur!

Sydney, 12 April 2019

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.