Dewasa itu pilihan. Tua? Belum Pasti!

9 Agu 2019 | Kabar Baik

Pernah mendengar istilah ?Dewasa itu pilihan, tua itu pasti?? Hari ini aku ingin mengaitkan dengan Kabar Baik hari ini. Ada petikan menarik dari yang dikatakan Yesus hari ini, ?Sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat Anak Manusia datang sebagai Raja dalam Kerajaan-Nya.” (lih. Mat 16:28).?

Kalau aku jadi orang yang waktu itu ada di depanNya pada saat Yesus berfirman, barangkali reaksi spontanku adalah bingung. Kapan Dia akan datang kembali? Bukankah Ia sendiri tak tahu kapan akan kembali? Kalau demikian bagaimana ia tahu bahwa akan ada orang yang ada di situ yang akan tetap hidup sampai pada saatnya nanti? (lih. Matius 24:36)

Daripada bertanya-tanya, bagaimana kalau kita memaknai dan merenungi sabda Tuhan di atas dalam perspektif yang baru?

Tidak akan mati secara iman

Aku memaknai perkataanNya dalam dua perspektif.

Pertama, sebuah kenyataan bahwa nanti pada saat Dia datang pada hari kiamat, masih akan ada orang yang tidak akan mati imannya! Masih ada orang yang berharap penuh kepadaNya.

Kedua, sebuah tantangan bagi kita, yang belum tentu mengalami Hari Kiamat, adakah iman kita tidak akan mati hingga kesudahan hidup nanti?

Dalam dunia pelayanan, aku pernah terlibat dalam tim persekutuan doa yang menerapkan strategi ?hard selling? dalam mengajak orang-orang untuk menjadi umat persekutuan doa yang kami istilahkan sebagai ?pencarian jiwa-jiwa baru?.

Usaha itu sejatinya tak mudah, kita ?diterjunkan? di kalangan umat Katolik yang belum ikut persekutuan doa. Padahal, sudah jadi rahasia umum, tak sedikit umat yang masih memiliki resistensi besar terhadap persekutuan doa apalagi yang ?alirannya? karismatik.

Maka penolakan adalah hal yang terjadi setiap hari.

Berbagai macam penolakan kami hadapi. Mulai dari yang mulai yang keras cenderung kasar, seperti ?Jangan pengaruhi saya ya! Pergi!? atau seperti, ?Ah, kayak kamu yang paling suci aja! Ngaca dulu sebelum ajak orang datang ke persekutuan doa-mu!??

Menghadapi yang seperti itu, biasanya kami cuma senyum lalu pergi begitu saja.

Yang lebih menarik sebenarnya justru yang jauh dari nada kasar dan keras. Mereka cenderung halus tapi tetap saja menolak. Begini misalnya, ?Duh. Maaf ya, Dik. Saya tertarik tapi nanti saja enggak sekarang.?

Ketika kutanya kenapa, jawabnya begini, ?Sekarang ini saya masih banyak dosa. Saya masih sering mainin pajak, kadang masih main judi?Ke gereja aja saya udah cukup senang kok??

Aku mencoba menyelami pikiran orang itu. Barangkali baginya, ibadah itu perlunya dikerjakan secara lebih giat saat ia sudah pensiun dan tua. Saat ia sudah hampir mati, pada saat itulah ia baru ?perlu Tuhan? lebih dari sebelum-sebelumnya.

Dewasa itu pilihan. Tua? Belum Pasti!

Persoalannya adalah, seperti halnya Hari Kiamat yang kita tak pernah tahu kapan datangnya, sakit dan maut pun demikian. Tak ada yang bisa tahu kapan keduanya akan datang.

Bisa jadi seseorang belum sempat untuk bertobat dan tiba-tiba terserang penyakit mematikan yang tak memberinya cukup waktu untuk bertobat sebelum akhirnya meninggal.

Menjaga iman untuk tetap hidup meski kita mati adalah kuncinya. Sehingga ketika bertemu Yesus, meski jasad kita sudah mati, tapi iman tetap segar-bugar tak kurang atu apapun.

Maka mari kita semakin mempersiapkan diri untuk selalu hidup dalam rencananya dimulai dari saat ini juga. Jangan percaya pada pepatah usang ?Dewasa itu pilihan, tua itu pasti.?

Ada banyak orang yang tak bisa dewasa hingga mati dan kematian datang tak selamanya terjadi pada saat kita tua karena tak ada satupun manusia yang bisa memastikan apapun termasuk seberapa lanjut usianya kelak?

Sydney, 9 Agustus 2019

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.