Dengan menyantap remah-Nya saja kita sembuh!

16 Agu 2018 | Kabar Baik

Suatu waktu, seperti dicatat Matius, di depan seorang perempuan Kanaan yang non-Yahudi, Yesus berkata begini,

“Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” (lih. Mat 15:26)

Perkataan itu, entah sejak kapan, jadi ?gorengan isu? orang-orang mempertanyakan kenapa Yesus kasar sekali? Coba cari di Google dan ada berapa banyak artikel/post yang mengulas hal ini, lengkap dengan cibiran maupun pembenaran di sana-sini.

Aku tak mau larut ke dalam perselisihan itu, kenapa tak menggunakan sudut pandang lain yang asik dan tetap membangun saja?

Bagiku inti Kabar Baik hari ini bukan pada persoalan anjing atau bukan anjingnya, domba atau bukan dombanya. Intinya? adalah bagaimana Yesus meluluskan kehendaknya, si perempuan Kanaan itu meski ia dianggap sebagai anjing sekalipun!

Coba simak penggalan ayat ini: “Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki.” (lih. Mat 15:28).

Sabda Yesus ini ajaib!
Kenapa? Karena biasanya Ia menggunakan sudut pandang manusialah yang harus menjalankan kehendak BapaNya.

Contoh, pada diri Maria, ibuNya. Saat menerima kabar dari Malaikat Gabriel bahwa ia mengandung, Maria berkata, ?Aku ini hamba Tuhan terjadilah kepadaku menurut perkataan/kehendakMu!? (Lukas 10:4-10).

Beberapa kali pernah juga Yesus mengemukakan pentingnya melakukan kehendak BapaNya. Salah satunya adalah seperti tertulis dalam Matius 7:21, ?Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan!?akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga,melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.?

Lalu kenapa di depan perempuan Kanaan yang dikatakan anjing itu Yesus malah menyatakan demikian?

Kuncinya menurutku ada pada iman si perempuan itu. Yesus menghargai besarnya iman yang ditunjukkan melalui kerendahan hati yang total!

Perempuan itu sadar akan kebesaran Tuhan. Di hadapan Tuhan yang besar, jangankan roti, remah-remah yang jatuh dari meja pun akan sangat berarti.

Kabar Baik ini juga semoga bisa menyemangati kita yang kerap dianggap kafir oleh orang-orang yang merasa sok bukan kafir.

Semangat dari perempuan Kanaan itu semoga membuat kita yakin bahwa kafir-tidak kafir nya seseorang tak ditentukan identitas tapi pada besarnya iman yang dihidupi melalui pikiran, perkataan dan perbuatan kita.

Dikatakan kafir?
Dikatakan anjing?
Dikatakan bahwa kita tak layak duduk di meja makan para tuan yang nggak kafir?

Selama kita percaya bahwa bahkan hanya dengan menyantap remah-remahNya saja kita sembuh, Tuhan menghargai kehendak kita.

Catat itu! Catat tebal-tebal dalam buku hatimu!

Sydney, 8 Agustus 2018

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.